Kenya hentikan pembangunan fasilitas Ebola milik AS ditengah protes publik; dana bantuan AS senilai $13,5 juta dikritik sebagai bentuk penutupan resiko kesehatan.
Menteri Kesehatan Kenya telah memerintahkan penghentian persiapan pembangunan fasilitas karantina Ebola yang dikelola Amerika Serikat, demikian disampaikannya kepada pengadilan setelah dirinya dinyatakan bersalah menghina pengadilan karena mengabaikan perintah penghentian kerja sebelumnya.
Pengumuman pada Selasa ini muncul ditengah penolakan keras terhadap rencana tersebut di Kenya. Protes mematikan telah terjadi sejak pemerintah mengonfirmasi rencana membangun fasilitas itu bagi warga negara AS yang dievakuasi dari Republik Demokratik Kongo (DRC), yang tengah dilanda wabah Ebola besar.
Fasilitas karantina sedang dibangun di pangkalan udara Laikipia, sekitar 200 kilometer dari ibu kota Nairobi, lengkap denggan 50 tempat tidur isolasi. Fasilitas tersebut rencananya akan dikelola oleh staf medis AS.
“Saya telah menginstruksikan penghentian segera dan menyeluruh terhadap segala konstruksi, persiapan lokasi, atau aktivitas terkait lainnya mengenay fasilitas pangkalan udara Laikipia, sambil menunggu sidang dan putusan petisi pokok atau hingga perintah selanjutnya dari pengadilan ini,” kata Menteri Kesehatan Aden Duale.
Menteri tersebut angkat bicara di pengadilan sehari setelah ia dianggap menghina pengadilan karena gagal menanggapi beberapa perintah pada akhir Mei hingga awal Juni untuk menghentikan aktivitas pembangunan.
Kelompok pegiat hak asasi manusia sebelumnya telah mengajukan petisi ke pengadilan, dengan alasan fasilitas tersebut dikembangkan secara rahasia dan tanpa konsultasi. Dokter serta tenaga medis Kenya terbukti paling vokal menentang lokasi pembangunan di Nanyuki, dengan dalih bahwa hal itu akan mengancam sistem kesehatan yang sudah rapuh.
Tiga orang tewas dalam kerusuhan di dekat fasilitas di Laikipia.
Masyarakat sipil dan tenaga kesehatan menyatakan kemarahan terhadap prospek mengimpor virus dan mengkritik penerimaan pemerintah Kenya terhadap bantuan kesiapsiagaan Ebola senilai $13,5 juta dari AS, yang dinilai sebagai tindakan menutupi kesepakatan tersebut. Sejauh ini, negara itu belum mencatatkan satu kasus Ebola.
Wabah Ebola dikonfirmasi di DRC pada bulan Mei. Hingga 22 Juni, wabah ini telah menyebabkan 1.048 kasus terkonfirmasi dan sedikitnya 267 kematian. Menurut Kementerian Kesehatan DRC setidaknya 75 tenaga kesehatan di DRC tertular virus, dengan 17 kematian tercatat.
Uganda – tetangga Kenya – telah melaporkan 20 kasus konfirmasi Ebola termasuk dua kematian.