Indeks Persepsi Korupsi 2025: Skor Global Terendah dalam Seperangkat Dekade
Transparency International (TI) melaporkan bahwa skor rata-rata global dalam Indeks Persepsi Korupsi (CPI) tahun 2025 telah mencapai titik terendah dalam lebih dari satu dekade, yakni 42 dari skala 0 hingga 100. Lembaga pemantau antikorupsi yang berbasis di Berlin ini memperingatkan memburuknya korupsi di berbagai negara demokrasi, dengan penurunan skor Amerika Serikat yang memicu keprihatinan akan dampak kebijakan pemerintahannya terhadap upaya global pemberantasan korupsi.
Indeks tersebut memberikan skor antara 0 (sangat korup) dan 100 (sangat bersih) berdasarkan penilaian dari para ahli dan eksekutif bisnis. Laporan ini menyoroti tren penurunan kinerja di sejumlah demokrasi, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, di mana risiko korupsi meningkat akibat melemahnya checks and balances, celah legislasi, dan penegakan hukum yang tidak memadai.
Peringkat AS Anjlok
Skor CPI AS turun menjadi 64 dari 65 pada 2024, dengan catatan penurunan 10 poin dalam sepuluh tahun terakhir. TI menyoroti kekhawatiran atas tindakan yang membatasi suara independen dan melemahkan kemandirian judiciary di AS, serta pembekuan sementara dan pelemahan penegakan Foreign Corrupt Practices Act. Administrasi Trump juga dikritik karena pemotongan bantuan luar negeri yang dianggap melemahkan upaya antikorupsi global.
Kemajuan dan Kemunduran di Eropa
Di Uni Eropa, Bulgaria dan Hungaria menjadi yang terburuk dengan skor masing-masing 40. Laporan itu menyatakan bahwa pemerintahan Viktor Orban di Hungaria secara sistematis telah melemahkan rule of law dan integritas elektoral selama lebih dari satu dasawarsa. Sementara itu, Denmark kembali memuncaki indeks untuk tahun kedelapan berturut-turut dengan skor 89, disusul Finlandia dan Singapura.
Kisah Progres di Tengah Tantangan
Ukraina, dengan skor 36, dicatat sebagai salah satu kisah progres positif. Meskipun perang dan skandal korupsi terus menghantam, TI menilai pengungkapan berbagai skandal tersebut justru menunjukkan bahwa arsitektur antikorupsi baru Ukraina mulai membuahkan hasil. Mobilisasi masyarakat sipil pada tahun lalu juga dipuji karena berhasil mendorong Presiden Zelenskyy untuk mengurungkan niatnya membatasi kemandirian lembaga antikorupsi.
Di luar itu, laporan ini menggarisbawahi bahwa sebagian besar negara—122 dari 180—gagal mengendalikan korupsi (skor di bawah 50). Namun, 31 negara menunjukkan perbaikan signifikan, seperti Estonia (76), Seychelles (68), dan Korea Selatan (63). Di dasar indeks, terdapat Sudan Selatan dan Somalia (masing-masing 9 poin), serta Venezuela.