Baru saja memang Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke Iran, ini sebagai balasan langsung atas serangan drone terhadap kapal berbendera Panama di Selat Hormuz pada Sabtu lalu. Komando Pusat AS (Centcom) mengaku telah menghantam beberapa sasaran di seluruh Iran sebagai respons tegas atas aku atau agresi yang berkelanjutan terhadap pelayaran niaga.
Sebagai pembalasan, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui pernyataan yang disiarkan media setempat mengatakan mereka telah meluncurkan rudal dan drone ke infrastruktur AS di Kuwait dan Bahrain. Mereka memperingatkan bahwa pelanggaran gencatan senjata ini bertentangan dengan kesepakatan yang ditandatangani kedua negara dan akan mengakibatkan penghentian total proses perdamaian.
Centcom dalam pernyataannya menjelaskan, "Iran diberi kesempatan untuk menghormati gencatan senjata, tapi memilih untuk tidak melakukannya ketika pasukannya meluncurkan drone serangan satu arah yang menghantam MT Kiku," sebuah kapal tanker berbendera Panama. Sebagai respons, mereka mengaku telah menghantam peralatan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, dan fasilitas penyimpanan drone.
Dalam pernyataan IRGC, disebutkan bahwa AS menyerang lima posko pesisir di Iran dengan dalih "menghadapi kapal yang melanggar" oleh Angkatan Laut IRGC. Mereka menegaskan bahwa berdasarkan Nota Kesepahaman yang ditandatangani awal bulan ini, Iran memiliki pengaturan untuk mengontrol lalu lintas dan navigasi di Selat Hormuz, dan mulai sekarang, kapal-kapal yang melanggar akan ditangani lebih keras dari sebelumnya.
"Setiap agresi musuh potensial, dengan dalih apa pun, bahkan jika agresi itu ditujukan pada sasaran kecil seperti yang terjadi tadi malam dan malam ini, akan mendapat respons yang menghancurkan," demikian bunyi pernyataan itu.
Tepat setelah serangan terbaru diumumkan, presiden AS melalui Truth Social mengatakan, "sangat mungkin" bahwa Teheran "tidak akan pernah belajar". "Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan akan dipaksa untuk menyelesaikan secara militer pekerjaan yang sudah kita mulai dengan sangat sukses," tulisnya Sabtu malam. Unggahan itu melanjutkan, "Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!"
Beberapa jam setelah serangan AS, Kuwait dan Bahrain melaporkan sistem pertahanan udara mereka telah diaktifkan. "Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone bermusuhan," kata Angkatan Bersenjata Kuwait dalam pernyataan di X, meminta masyarakat mematuhi instruksi keamanan. Kementerian Dalam Negeri Bahrain pun mendesak warga untuk "tetap tenang dan menuju ke tempat teraman".
Centcom menyatakan bahwa kapal-kapal niaga masih terus beroperasi di Selat Hormuz. Serangan teranyar ini terjadi kurang dari sehari setelah AS melancarkan serangan balasan ke Iran yang disebut sebagai respons atas serangan drone terhadap kapal kargo berbendera Singapura, MV Ever Lovely, pada 25 Juni lalu. Centcom menggambarkan serangan AS sebagai "respons yang kuat" dan menambahkan bahwa "agresi tak beralasan terhadap pelayaran niaga oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata".
Teheran mengatakan kapal kargo itu diserang karena menggunakan rute tak resmi untuk melintasi perairan Teluk, dan mengatakan serangan balasan itu merupakan pelanggaran gencatan senjata oleh AS. Dalam pernyataan Sabtu pagi, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan telah melakukan lebih banyak serangan terhadap sasaran yang terkait dengan pasukan Amerika sebagai balasan, dan menyalahkan rezim AS yang melanggar perjanjian.
AS dan Iran menyepakati penghentian permusuhan pada 17 Juni lalu berdasarkan nota kesepahaman 14 poin, yang juga menyerukan Iran untuk menggunakan "upaya terbaiknya bagi kelancaran pelayaran kapal niaga tanpa biaya selama 60 hari". Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas, dan ditutup secara efektif oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu. Penutupan jalur kritis ini menyebabkan lonjakan harga minyak global dan menghambat pengiriman komoditas penting lainnya seperti pupuk.