Sepuluh Orang Dinyatakan Bersalah Atas Pelecehan Siber Berbasis Gender terhadap Ibu Negara Prancis Brigitte Macron | Berita Pengadilan

Istri Presiden Macron Menang Melawan Pelecehan Daring

Sebuah pengadilan di Paris telah menyatakan sepuluh orang bersalah atas keterlibatan dalam pelecehan siber terhadap Brigitte Macron, istri Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kesepuluh terdakwa, yang terdiri dari delapan pria dan dua wanita berusia 41 hingga 65 tahun, terbukti melakukan komentar jahat terkait gender dan seksualitas Brigitte. Mereka juga menyamakan selisih usia dirinya dengan suami sebagai tindakan "pedofilia".

Dalam putusan pada Senin, delapan orang dijatuhi hukuman penjara dengan masa percobaan antara empat hingga delapan bulan. Satu orang lainnya dihukum enam bulan penjara karena mangkir dari persidangan, sedangkan terdakwa terakhir diwajibkan mengikuti pelatihan pencegahan ujaran kebencian daring.

Selama persidangan, jaksa menuntut hukuman paling berat untuk Aurelien Poirson-Atlan (41). Sementara itu, salah satu terdakwa ternama, pemilik galeri Bertrand Scholler (56), berargumen bahwa pengadilan ini membatasi "kebebasan berpikir"-nya.

Brigitte Macron telah lama menjadi sasaran rumor dan pelecehan daring, termasuk klamar keji bahwa ia terlahir sebagai pria dengan nama Jean-Michel Trogneux—yang sebenarnya adalah nama kakak laki-lakinya.

Pasangan presiden yang berusia 48 tahun dan ibu negara yang berusia 72 tahun ini umumnya mengabaikan berbagai fitnah tersebut. Namun, belakangan mereka mengambil langkah hukum.

Tiphaine Auziere, putri Brigitte, memberi kesaksian tentang memburuknya kualitas hidup ibunya akibat pelecehan tersebut. "Dia tidak bisa mengabaikan hal-hal mengerikan yang diucapkan tentang dirinya," ujarnya di pengadilan, seraya menyebut dampaknya juga dirasakan seluruh keluarga.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi TF1, Brigitte menyatakan harapannya agar perjuangannya melawan cyberbullying dapat menjadi contoh. "Akta kelahiran bukanlah hal sepele. Itulah momen seorang ayah atau ibu mendeklarasikan anak mereka, menyatakan siapa dirinya," katanya.

MEMBACA  Dari keberlanjutan hingga pertumbuhan

Selain kasus di Prancis, keluarga Macron juga mengajukan gugatan pencemaran nama baik di Amerika Serikat terhadap influencer sayap kanan, Candace Owens, yang turut menyebarkan klaim serupa. Beberapa terdakwa di Paris diketahui membagikan konten dari Owens.

Pasangan ini telah menjadi sorotan publik sejak Macron terpilih sebagai presiden pada 2017, setelah pertemuan mereka saat Brigitte menjadi guru teater di sekolah suaminya.