Dengarkan artikel ini | 3 menit
Iran telah menarget aset-aset Amerika Serikat di seantero negara-negara Arab Teluk sebagai balasan atas serangan gabungan besar-besaran terhadap Iran oleh AS dan Israel, seiring kekhawatiran terburuk kawasan ini tersulut dalam kobaran perang berkepanjangan yang kian membayang.
Pemerintah Iran pada Sabtu mengonfirmasi serangannya terhadap sejumlah target, menurut kantor berita Fars, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, di mana pangkalan udara AS berada.
Artikel Rekomendasi
Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan semua target militer Israel dan AS di Timur Tengah telah dihantam “oleh pukulan dahsyat rudal-rudal Iran”.
“Operasi ini akan berlanjut tanpa henti hingga musuh dikalahkan secara telak,” pernyataan itu menyebut. Semua aset AS di seluruh kawasan dianggap target sah bagi angkatan bersenjata Iran, tambahnya.
Setidaknya satu orang tewas di Abu Dhabi, ibu kota UAE, setelah beberapa rudal yang diluncurkan dari Iran dicegat, menurut kantor berita pemerintah setempat.
Bahrain menyatakan serangan rudal menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berada di wilayahnya.
Pemerintah menyebutnya sebagai “serangan khianat” dan “pelanggaran nyata atas kedaulatan dan keamanan kerajaan”.
Al Jazeera Arabic telah mengonfirmasi suara ledakan di Kuwait, tempat markas Komando Pusat militer AS berada.
Di Qatar, Kementerian Pertahanan menyatakan telah “menggagalkan” beberapa serangan terhadap negara tersebut.
“Kementerian Pertahanan menegaskan ancaman ditangani segera setelah terdeteksi, sesuai rencana keamanan yang telah disepakati sebelumnya, dan semua rudal berhasil dicegat sebelum mencapai wilayah Qatar,” bunyi pernyataan itu.
Qatar, Kuwait, dan UAE telah menutup ruang udaranya masing-masing.
Koresponden Al Jazeera melaporkan Bandara Erbil di wilayah Kurdi, Irak utara, ditargetkan dua kali pada Sabtu. Sebuah serangan drone berusaha menyasar Bandara Internasional Erbil, namun pertahanan udara mencegat dan menembaknya jatuh, tambah mereka.
Zein Basravi dari Al Jazeera, melaporkan dari Doha, menyatakan satu-satunya negara di Dewan Kerjasama Teluk yang belum diserang Iran hingga saat ini adalah Oman.
Oman selama bertahun-tahun berperan sebagai penghubung antara Iran dan negara-negara lain di kawasan maupun di luarnya. Negara ini memainkan peran sentral dalam perundingan tidak langsung terkini antara Iran dan AS di Oman dan Jenewa.
Menteri Luar Negeri Oman pada Jumat menyuarakan optimisme bahwa perdamaian “dalam jangkauan” setelah Iran setuju selama perundingan untuk tidak pernah menimbun uranium yang diperkaya. Badr bin Hamad al-Busaidi menyebut perkembangan ini sebagai terobosan besar. Beberapa jam kemudian, Israel dan AS menyerang, dan perundingan itu kini punah terkubur.
Dewan Kerjasama Teluk adalah aliansi enam negara di Semenanjung Arab: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UAE, yang didirikan pada 1981 untuk memajukan kerjasama ekonomi, keamanan, budaya, dan sosial.
“Di Doha sini, dalam beberapa jam terakhir, kami mendengar setidaknya selusin ledakan. Sebagian besar terdengar seperti rudal pertahanan Patriot yang mencegat rudal-rudal Iran yang datang,” kata Basravi.
“Bagi Iran, dengan AS dan Israel yang memulai tembakan pertama dalam babak terakhir ini, segalanya kini mungkin dianggap sah saja,” tambahnya.