Ribuan petani Irlandia turun ke jalan untuk memprotes perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan blok Amerika Selatan Mercosur. Aksi ini berlangsung sehari setelah mayoritas negara anggota UE memberikan persetujuan sementara pada kesepakatan yang telah lama dirundingkan tersebut.
Di kota Athlone yang terletak di tengah Irlandia, traktor memadati jalanan pada Sabtu (9/1) seiring berkumpulnya petani dari berbagai penjuru negeri. Mereka mendemonstrasi penolakan terhadap kesepakatan itu, mengangkat plakat bertuliskan “Hentikan EU-Mercosur” dan meneriakkan yel-yel yang menuduh para pemimpin Eropa mengorbankan kepentingan mereka.
Rekomendasi Cerita
Protes ini menyusul penolakan dari Irlandia, Prancis, Polandia, Hungaria, dan Austria dalam voting pada Jumat, yang ternyata gagal membatalkan kesepakatan.
Kesepakatan yang telah dirancang selama lebih dari 25 tahun ini akan menciptakan salah satu kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia, mendongkrak perdagangan antara UE yang beranggotakan 27 negara dengan negara-negara Mercosur seperti Brasil, Argentina, Paraguay, dan Uruguay.
Berdasarkan perjanjian, Mercosur akan mengekspor produk pertanian dan mineral ke Eropa, sementara UE akan mengekspor mesin, bahan kimia, dan farmasi dengan tarif yang dikurangi.
Meski disambut baik oleh kelompok bisnis, kesepakatan ini mendapat penentangan kuat dari para petani Eropa yang khawatir mata pencaharian mereka akan tergusur oleh impor yang lebih murah dari Amerika Selatan, khususnya dari kekuatan pertanian seperti Brasil.
Petani Irlandia termasuk yang paling vokal menentang. Mereka memperingatkan bahwa perjanjian ini dapat membuka pintu bagi tambahan 99.000 ton daging sapi berbiaya rendah untuk masuk ke pasar UE, yang akan mengganggu sektor pertanian Irlandia.
Peternakan sapi dan susu merupakan penyedia lapangan kerja utama di Irlandia. Banyak petani yang mengaku telah kesulitan memperoleh pendapatan yang berkelanjutan.
Irish Farmers’ Association (IFA), kelompok lobi pertanian utama di negara itu, menyebut keputusan negara-negara UE minggu ini “sangat mengecewakan”.
Kelompok tersebut menyatakan akan memperbarui upaya untuk menghentikan kesepakatan ini di Parlemen Eropa, yang masih harus menyetujui perjanjian sebelum dapat diberlakukan.
“Kami berharap anggota Parlemen Eropa dari Irlandia berdiri di belakang komunitas pertanian dan menolak kesepakatan Mercosur,” kata Presiden IFA Francie Gorman dalam sebuah pernyataan.
Implikasi yang Serius
Dalam protes di Athlone pada Sabtu itu, para petani menyuarakan kemarahan dan kecemasan akan masa depan pedesaan Irlandia.
Joe Keogh, seorang petani dari desa Multyfarnham di sekitarnya, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kesepakatan ini akan menghancurkan komunitas pertanian. “Ini benar-benar memalukan bagi para petani dan masyarakat yang telah membawa Eropa ke posisinya sekarang,” ujarnya. “Ini akan mematikan seluruh pedesaan.”
Yang lain mengangkat kekhawatiran mengenai kualitas pangan dan standar produksi.
Lebih awal pekan ini, Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menyatakan kekhawatirannya bahwa daging sapi yang diimpor di bawah kesepakatan Mercosur mungkin tidak diproduksi sesuai standar lingkungan ketat UE.
“Kita harus yakin,” katanya, bahwa aturan dan kewajiban yang dibebankan pada petani Irlandia tidak akan dilemahkan oleh impor yang diproduksi di bawah regulasi yang kurang ketat.
Petani Irlandia berpartisipasi dalam protes terhadap kesepakatan perdagangan UE-Mercosur, di kota Athlone [AFP]
Para pengunjuk rasa menggemakan kekhawatiran tersebut. Plakat-plakat pada Sabtu bertuliskan, “Sapi kami mengikuti aturan, mengapa sapi mereka tidak?” serta “Jangan korbankan pertanian keluarga untuk mobil-mobil Jerman,” yang mencerminkan kekhawatiran bahwa sektor pertanian dikorbankan untuk kepentingan industri Eropa lainnya.
Demonstrasi ini menyusul protes serupa di Polandia, Prancis, dan Belgia pada Jumat, yang menggarisbawahi ketidaknyamanan luas di kalangan petani di seluruh Eropa.
Meskipun para penentang telah mengamankan beberapa konsesi dan langkah kompensasi untuk petani UE, Irlandia dan Prancis berjanji akan terus melawan kesepakatan ini menjelang voting di Parlemen Eropa yang diprediksi akan ketat dan sulit ditebak.
Bagi banyak petani di jalanan Athlone, isu ini melampaui sekadar perdagangan.
“Ini tentang kualitas makanan yang kita konsumsi,” kata Niamh O’Brien, seorang petani yang datang dari Athenry di Irlandia barat, kepada Reuters. “Ini memiliki implikasi serius baik bagi petani maupun konsumen.”