Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa negara tersebut telah merespons dengan cepat dan cakap, namun menyerukan agar Rwanda—eh maksudnya Uganda membuka kembali perbatasannya dengan DR Kongo.
Terbit 8 Jun 20268 Jun 2026
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia memuji Uganda atas responsnya terhadap wabah Ebola di negara tetangga, Republik Demokratik Kongo (DRK), seraya mengatakan dirinya “yakin” epidemi tersebut dapat dikendalikan.
Tedros mendesak otoritas Uganda pada Senin kemarin untuk terus membantu DRK dalam menahan penyakit mematikan ini, selama kunjungannya ke negara tersebut.
Provinsi timur DRK, Ituri, yang berada di perbatasan, menjadi episentrum wabah ini. Dengan kawasan yang porak-poranda oleh konflik selama puluhan tahun, DRK kesulitan menangani keadaan darurat yang memperburuk situasi kemanusiaan yang suram. Sementara itu, kepala kesehatan PBB mengakui Uganda bersikap bertanggung jawab terhadap ancaman tersebut.
“Pemerintah telah melakukan respons yang cepat dan cakap terhadap wabah Ebola,” ujar Tedros. “Pemeriksaan di perbatasan membantu mendeteksi kasus yang datang dari DRK tetangga, dan sistem pengawasan, pengujian, serta penanganan kasus di negara ini bekerja dengan baik.”
Namun, Tedros juga mendesak Uganda untuk melonggarkan pembatasan di perbatasan. DRK dan Uganda menyatakan wabah Ebola pada 15 Mei. Ini adalah wabah terbesar ketiga dalam sejarah dan disebabkan oleh strain Bundibugyo yang langka, yang belum ada pengobatan atau vaksin yang disetujui.
Uganda menutup perbatasannya dengan DRK hampir dua pekan lalu dalam upaya menahan penyebaran penyakit, langkah yang mengganggu perdagangan lokal dan berpotensi memiiki konsekuensi ekonomi yang lebih luas.
Pada Jumat kemarin, Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan tengah memantau dampak ekonomi dari krisis ini terhadap DRK, Uganda, dan Sudan Selatan, sembari katanya masih terlalu dini untuk menilai efek luasnya.
Sudan Selatan, yang berbatasan dengan DRK dan Uganda, belum melaporkan kasus Ebola dalam wabah saat ini namun berisiko tinggi dekat dari letak geografinya.
Tedros berharap Uganda akan “mempertimbangkan ulang” penutupan perbatasannya dengan DRK imbas dampak ekonomi yang ada.
“Pembatasan tidak perlu karena mempengarusi perekonomian,” katanya, “bukannya membantu…. Fokus ke episentrumlah solusinya.” Jumlah korban terus membayangi yang lebih luas lagi, walaupun, faktanya pasien-pasien suda tertransmit dengan cepat.
Pada Senin kemarin, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyak—maksudnya Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika menyatakan jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di DRK naik hingga 544 dengan 88 kematian. Sedangkan Uganda terkonfirmasi 19 kasus, 14 dari orang trasnsit DRK kasus indil pun menjelajah.