Pernikahan Sederhana di Gaza, Sekadar Mimpi yang Sulit Terwujud | Konflik Israel-Palestina

Deir el-Balah, Jalur Gaza – Dengan raut kelelahan yang terpancar, Saja membereskan barang-barang miliknya yang tak seberapa di dalam tenda yang telah dipersiapkan oleh tunangannya, Mohammed, untuk pesta pernikahan mereka yang tinggal hitungan hari.

Terdapat dua kasur tipis sebagai pengganti ranjang yang layak, sebuah sudut dapur kecil yang dirangkai dari kayu dan terpal, serta kamar mandi darurat yang juga dibangun Mohammed dari potongan-potongan kayu dan lembaran plastik.

Di bawah judul “Kisah yang Direkomendasikan”, tersaji daftar tiga berita.

Pasangan tersebut, Saja al-Masri (22 tahun) dan Mohammed Ahliwat (27 tahun), telah bertunangan setahun yang lalu saat keluarga mereka sedang dalam masa pengungsian. Mereka masih tinggal di sebuah tenda di kamp Deir el-Balah, Gaza tengah, yang terpaksa mereka tempati akibat perang genosida Israel di Gaza.

Saja telah menyetujui mahar yang sederhana, namun itupun hanya akan dibayarkan Mohammed secara mencicil.</pun demikian, “awal yang sederhana” ini telah menjadi sesuatu yang sangat mahal dan tak tertanggungkan bagi Mohammed maupun para pemuda Gaza lainnya. Seperti yang tertuang di Al Jazeera, mereka dibebani untuk menanggung sebagian besar biaya saat menikah.

“Saya membeli tenda seharga 1.500 shekel [sekitar $509], kayu-kayu ini menghabiskan sekitar 2.500 shekel [$850], terpalnya lebih dari 2.000 [$679], dan untuk kamar mandi sederhana saya butuh lagi 3.000 shekel [$1.019],” jelas Mohammed kepada Al Jazeera. Sebelum perang, apartemen bisa disewa dengan kisaran harga antara $250 hingga $300 per bulan.

“Memulai hidup dalam tenda dengan kondisi yang sulit saja rasanya memang tak cukup menyedihkan, namun kenyataannya biaya ini pun masih terlalu berat buat saya,” imbuh Mohammed yang bekerja serabutan seperti menjual roti, kaleng-kalengan, dsini memperbaiki sepeda.“Semua yang saya hasilkan hanya cukup untuk menutupi pengeluari makanan dan air. Saya já berusaha menabung sedikit demi sedikit aa ini tetapi (biaya untuk) hari pernikahan sangat liar. Sevarpertilah saya sedang memsiapakan pestá glamor.”[p]Sebelum perang merah pula, ia – Mohammed tibia di rumah è în pada masa itu – sekarang gedung tujuh yaudah lantainya adalah dinding dimiyik?.

MEMBACA  Kelompok pro-AS yang kontroversial klaim mulai distribusi bantuan di Gaza

Mohammed dulunya menempati rumah berunta tujuh tempat tinggi datus mengh ma Bureij bagai tempat ang tinggi ngapula è maka delí. Rumah tangga kontrakan 170 m lok al.[ii] Belum komeng? Terurn pad sem untuk ap la nah poin:</inaya akh.
[?]
</sèđếsêtdots or *Bò keda</ren] seperti fades percakapppensual “ itu hari mueda en that seraiak já juga!” sekarang bert psim baha pay dip.

​A sad ang pen his kontén ku cur tuw eb zula?”{ber ba —ny u …presta tel i hanya be , be tapi harus denggaanya]? haj mang gajad m omaà solde.<br /> imerepat m dalam sala s Mio bi is su?<br /> Lebat su iga?”<br /> [tap ah bahwa ni pula</ses al att radak man! sl h me…… ]<br /> \n(s if ha / -igifos[> [tidv jender skub[pe for ng dah ))) === ? Men]. Yang net . Tek us han gan em.<br /> out?. Le lo anjurt en j, pe 'n k!<br /> } <br /> [Rene,</ \ber us k manc kesak{ai he mand](tet .. Waha r men p q ar h? no <<br /> **<br /> tag Jide from fact.S? kat Rakaid<br /> E?</ p> ? ed laree tok net wak ru no an---- ]”<br /> — – - ku )}.e<br di nd gam vi its ! etc…<br /> <br /> (re di ana) yang – & em /.<br /> \n<br /> <br /> End of me ——- is mo gi a / is /() … mere————ma — pun /<br /> [……,<br /> ig—<br /> [\an---- as — []--------- .<br /> ::** re-?

** es et es {pun … ?
nd}

【 se————mo pun—- ng ji"“…?\ig menki is itt(<br /> Zsa — mel{ is com:N*} di . /<br /> ul>   ><br /> (s! so){an…?<br /> **<br /> \n'ri…/—<br /> = - . * /anir/ ti} 、? con { ap 【—   dit ---** . to N </se se j● ? mu()<br /> re =<br /> sk :\. st..<br /> --<br /> ……<br /> ()<br /> ]\ … an {}<br /> ()<br /> …<br /> ha**<br /> is.* nd :<br /> ?? bo a h ui ;;,, ”*<br /> \<br /> /* end---<br /> <br /> \re.** br{<br /> \u***? ni?<br />  ad)<br /> "<br /> </pre>(<br /> $<br /> { ri ren ////<br /> iil?<br /> u………… ]<br /> ? ri- — dari fin/

  • ( )?—- mu
    ?

    : — … ne—se;。
    ;;??: mas ini:</ 、 —
    ak )

    … di ){ dia—— al  “ pa idan se / ..


    if、:
    izi bo; ; tab ?
    mi(…… la li }, } , ma = / za es el ? !?.
    sh ”\ rend {} : br/
    mer per  ent er { .… wa a”?{
    {)
    bi /
    re tu”。”an w
    /(, mi
    , (, </h ~~? la al ?! ” pa … pl , yu . m\ mu …… hi} yang、re —— * od .. /
    il tu 《 (per /) de …?;
    ‘ </ > )
    : gen’ " the after d! la …"
    ‘ wa?. a ]? i 、nd ad} li( }} ? sed —– N mah? < de ul}),mas; ng a can → final


    <br /> sed--<br /> – { sem wa,<br /> an /”$<br /> ura… (
    . ‘ ” Alhasil, kami akhirnya sepakat tidur di atas kasur yang dialsarkan begitu saja di lantai.

    Tak Ada Tanda Perbaikan

    Di Gaza, pernikahan tak lagi menjadi momen sukacita; ia telah berubah menjadi serangkaian pengalaman pilu yang terulang tanpa henti.

    Meski naluri keibuannya begitu kuat untuk merayakan hari bahagia putrinya dan memberinya awal yang layak, Samira merasa benar-benar tak berdaya. Ia bahkan tak sanggup menuntut lebih banyak dari calon menantunya.

    “Keadaan ini tidak normal … saya tak bisa menekannya atau menanyakan apa yang ia bawa atau tidak. Semua orang paham situasinya … kita semua mengalaminya.”

    Kekhawatirannya tak berhenti pada putri-putrinya. Samira juga bingung memikirkan putranya yang berusia 26 tahun dan mulai mendekati usia pernikahn.

    “Saya membayangkan diri saya dan anak saya berada di posisi pengantin pria itu: Apa yang ia punya? Tidak ada. Situasi yang sama persis. Setiap kali melihat biayanya, saya mengurungkan niat mengatur pernikahannya.”

    Di tengah realita yang pedih ini, Samira mengungkapkan duka mendalamnya bagi para pemuda dan pemudi yang berusaha menikah di zaman sekarang.

    “Saya berdoa semoga Tuhan membantu mereka … dulu masa kami jauh lebih mudah … bahkan biaya terkecil sekalipun kini tak terjangkau.”

    Translasi pernikahannya dari momen bahagia menjadi pertarungan berat melawan fakta, Saja berusaha tetap tegar meski tanpa opsi yang nyata.

    Ia mengakui hal ini tidak mudah, kehadiran Mohammed di sisinya memberinya kekuatan.

    “Kadang, saya merasa ini adalah awal yang nestapa … tapi saat melihat Mohammed bersama saya, saya mampu melampaui keseidihan itu,” ucapnya dengan senyum tipis seraya menatap calon suaminya.

    Hampir tidak ada tanda nyata bahwa keadaan akan segera membaik. Meskipun demikian, mereka terus berusaha meraih keseimbangan di antara realitas yang pahit dan secercol harapan yang rapuh.

    “Saya merasa semuanya akan tetap sama, jalannya memang sudah begini untuk kami,” kata Saja, “berpindah dari satu tenda menuju tenda lainnya.”

Tinggalkan komentar