Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Pakistan, sebuah kemunduran terbaru dalam upaya mengakhiri perang dengan Iran.
Diterbitkan pada 26 April 202626 April 2026
Prospek terobosoan diplomatik dalam perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran tampak meredup, bersamaan dengan negosiasi untuk mengakhiri konflik dua bulan yang terhambat saat Tehran dan Washington menunjukkan sedikit tanda melunakkan posisi mereka.
Presiden AS, Donald Trump, membatalkan kunjungan yang dijadwalkan ke Islamabad oleh utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menghantam prospek perdamaian, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meninggalkan Pakistan pada akhir pekan. Di sana, dia menyajikan mediator dengan kerangka kerja potensial untuk menghentikan konflik tersebut.
Kisah Rekomendasi
daftar 3 itemakhir daftar
Presiden AS mengatakan bahwa Washington telah menerima proposal perdamaian baru dari Tehran, namun itu sudah ditolak sebelumnya.
Konflik ini telah mendorong harga energi tertinggi dalam beberapa tahun, menyulut inflasi, dan menggelapkan prospek pertumbuhan global.
Berikut apa yang kami ketahui pada hari ke-58 permusuhan:
Di Iran
Araghchi berangkat ke Oman, seraya mengatakan akan kembali ke Pakistan pada hari Minggu sebelum menuju ke Rusia, lapor kantor berita IRNA milik pemerintah Iran.
Menurut pernyataan yang dipasang di X oleh Komplik Pusat AS (CENTCOM), pasukan AS mencegat sebuah kapal yang diledakan sanksi, terkait dengan apa yang disebut sebagai “armada bayangan” Iran.
Kapal yang diidentifikasi sebagai Sevan itu adalah bagian dari “armada bayangan” sebanyak 19 kapal yang mengangkut produk minyak dan gas Iran ke pasar luar negeri, ujar militer AS.
Iran mengeksekusi seorang pria yang terbukti sebagai anggota kelompok bersenjata Jaish al-Adl dan melakukan serangan terhadap pasukan keamanan Iran, lapor kantor berita semi-resmi Tasnim.
Diplomasi Perang
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui telepon bahwa Tehran tidak akan setuju pada “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade, demikian pernyataan pemerintah Iran.
Pezeshkian mengatakan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghilangkan “hambatan operasional”, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, sebelum para perunding dapat meletakkan landasan apapun untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Kantor berita IRNA Iran melaporken bahwa Araghchi dan rekannya dari Mesir, Badr Abdelatty, “mendiskusikan dan saling bertukar pandangan mengenai isu yang terkait diplomasi dan gencatan senjata, serta perkembangan kawasan terkini percakapan”.
Araghchi juga berkomunikasi melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, tetapi kantor berita tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Di Amerika Serikat
Trump mengatakan kepada para wartawan di Florida bahwa dia meniadakan kunjungan para utusan karena perundingan memerlukan biaya perjalanan yang dinilai terlalu mahal untuk mempertimbangkan tawaran yang tidak memadai dari pihak Iran. Setelah perjalanan diplomatik tersebut dibatalkan, Iran “menawarkan banyak, namun belum cukup”, ucap Trump di atas.
Di Truth Social, ia menulis bahwa “terjadi perbedaan pendapat besar dan kebingungan” antara kalangan yang berkuasa di Iran.
“Tak ada yang tau siapa yang memimpin, termasuk mereka sendiri,” demikian cuitnya. “jadi kuncinya itu, semua nya ada di tangan kami—mereka tidak punya apapun! Kalo ingin bernegosiasi, tinggal telepon saja kami!”
Trump mengatakan bahwa penembakan di acara makan malam wartawan Gedung Putih saat Sabtu lalu tidak berkaitan dengan perang dengan Iran. Tapi belakangan President mengaku skeptik di tepi.”gangguan demonstram itu tidak buat urung sesuatu, darimanapun tak dgn harus usir aku kalo dikira Israel hal tersebut rlasi jd sannanya… ” Pust awok2,” takal susai ingk… Menaker pet…