Pengungsi Palestina di Mesir Menantikan Dibukanya Kembali Perbatasan Gaza

Video baru dimuat: Pengungsi Palestina di Mesir Nantikan Pembukaan Kembali Perbatasan Gaza

transkrip

Kembali

transkrip

Pengungsi Palestina di Mesir Nantikan Pembukaan Kembali Perbatasan Gaza

Ribuan warga Palestina di Mesir menghadapi masa depan yang tak pasti sambil berjuang mengatasi rintangan untuk tetap tinggal di negara itu dan pulang ke Gaza. The New York Times berbicara dengan sebuah keluarga yang tetap terpisah meskipun ada gencatan senjata di wilayah tersebut.

Inilah Islam Al Farany yang berusia 9 tahun. Dua tahun lalu, hidup Islam berubah ketika rumah kerabatnya terkena serangan Israel. Dengan bantuan sebuah lembaga nirlaba, Islam dan ibunya, Tahrir, dievakuasi ke Amerika Serikat via Mesir agar Islam dapat dipasangi prostetik. Serangan itu meninggalkan bekas luka fisik dan emosional pada Islam. Tahrir dan Islam kembali ke Mesir, berencana pulang ke Gaza dan bersatu dengan seluruh keluarga. Ayah keluarga itu meninggal dalam serangan lain saat Tahrir dan Islam pergi. Namun, Islam dan ibunya tak dapat kembali meskipun ada gencatan senjata yang disepakati. Satu-satunya penyeberangan perbatasan dari Mesir tetap tertutup bagi warga Palestina yang berusaha masuk atau keluar Gaza. Enam anak Tahrir yang lain berada di Gaza. Mereka telah terpisah hampir setahun. Untuk berbicara dengan ibu dan saudara laki-laki mereka, mereka pergi ke sebuah pangkas rambut terdekat, yang memiliki internet lebih baik. Lima dari enam saudara kandung Islam juga terluka dalam serangan yang sama. Ahmed (8) mengalami patah tulang di kedua pinggulnya. Aya (6) kehilangan penglihatan pada satu matanya. Mohammed (17) adalah yang tertua. Ada puluhan ribu warga Palestina yang saat ini berada di Mesir, yang dapat meninggalkan Gaza tak lama setelah serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel. Penyeberangan perbatasan Rafah sebagian besar telah ditutup sejak Israel merebutnya pada Mei 2024. Sebagai bagian dari gencatan senjata terbaru, Israel setuju untuk membukanya kembali, namun belakangan menyatakan akan mengizinkan warga Palestina kembali hanya setelah Hamas menyerahkan semua sisa-sisa tawanan yang ditahan di Gaza. Sementara banyak warga Palestina menyatakan masih ingin pulang, sebagian bertanya-tanya apa yang tersisa untuk kembali. Haneen Farhat mengungsi lebih dari setahun lalu dan mulai menjual makanan Palestina dari dapur rumahnya yang kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia kini mengatur kelas memasak masakan Gaza, yang terbukti populer di kalangan penduduk lokal dan turis, serta telah memberikan penghasilan yang lebih stabil. Namun kehidupan di Mesir sulit bagi warga Palestina. Visa sementara Mesir mereka telah kadaluarsa, dan mereka kini berada tanpa status hukum resmi. Hal ini berarti mereka tidak dapat bekerja secara resmi, membeli properti, atau bersekolah di sekolah Mesir. Mesir menyatakan bahwa mengizinkan masuknya massal pengungsi Palestina dapat mengakibatkan pengungsian permanen mereka. Pembatasan tempat tinggal ini menyebabkan sebagian orang mencari untuk bermigrasi ke tempat lain. Tetapi bagi mereka yang terpisah dari orang yang dikasihi, yang tersisa hanyalah menunggu.

MEMBACA  Merak yang Diberi Kebebasan di Kota

Ribuan warga Palestina di Mesir menghadapi masa depan yang tak pasti sambil berjuang mengatasi rintangan untuk tetap tinggal di negara itu dan pulang ke Gaza.

Oleh Alex Pena, Saher Alghorra, Monika Cvorak dan Jon Hazell

7 Januari 2026