Pemerintah Sudan yang dipimpin militer telah kembali ke ibu kota negara setelah hampir tiga tahun beroperasi dari markasnya di masa perang di kota Port Sudan, sebelah timur.
Perdana Menteri Sudan, Kamil Idris, mengatakan kepada wartawan pada Minggu (12/01) bahwa “pemerintahan harapan” secara resmi telah kembali ke Khartoum dan akan memulai upaya memperbaiki layanan bagi warga kota yang telah lama menderita.
Militer sempat diusir oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) ketika perang saudara berkecamuk antara kedua pihak pada 2023. Angkatan darat merebut kembali kota itu dalam sebuah terobosan signifikan pada Maret lalu.
Khartoum tengah berbenah setelah bertahun-tahun pertikaian. Menurut PBB, sekitar lima juta orang mengungsi dari kota itu pada puncak konflik.
Mereka yang tidak mau atau tidak mampu pergi menggambarkan pendudukan RSF yang brutal, yang mencakup penjarahan massal dan pengambilalihan rumah-rumah warga oleh para pejuang.
Sebagian besar kota terbaring dalam reruntuhan. Pada Oktober lalu, pejabat PBB Ugochi Daniels melaporkan bahwa layanan dasar “nyaris tidak berfungsi”.
Pada hari Minggu, Idris menyatakan pemerintah akan bekerja untuk meningkatkan layanan listrik, air, kesehatan, dan pendidikan di Khartoum.
Ia juga mendeklarasikan bahwa tahun 2026 akan menjadi “tahun perdamaian” bagi Sudan, di mana setidaknya 150.000 orang telah meninggal sejak perang meletus.
PBB menggambarkan situasi ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia dan sekitar 12 juta orang telah mengungsi dari rumah mereka.
Perang ini bermula setelah Kepala Angkatan Darat, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan berseteru dengan wakilnya sekaligus pemimpin RSF, Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, yang memicu perebutan kekuasaan yang sengit.
Baik RSF maupun militer Sudan telah dituduh melakukan kekejaman sepanjang konflik ini.
Upaya-upaya internasional untuk memediasi perdamaian telah gagal dan kedua belah pihak didukung oleh kekuatan asing yang terus mengalirkan senjata ke negara tersebut.
Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini mendapat sorotan khusus terkait dugaan dukungannya kepada RSF, yang sangat mereka sangkal.