Serangkaian serangan melanda jalur Gaza yang terkepung sehari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali perlintasan perbatasan Rafah.
Diterbitkan Pada 31 Jan 2026
Setidaknya dua belas warga Palestina, separuhnya anak-anak, tewas di Jalur Gaza sejak fajar menyingsing, sehari sebelum perlintasan Rafah dijadwalkan dibuka kembali.
Serangan udara Israel pada Sabtu terhadap tenda yang menampung pengungsi di kawasan al-Mawasi, barat laut Kota Khan Younis, menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk tiga anak-anak. Jenazah mereka dibawa ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.
Di Kota Gaza, layanan darurat melaporkan setidaknya lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah gedung apartemen di lingkungan Remal, bagian barat kota. Delapan warga Palestina lainnya juga luka-luka akibat pemboman Israel terhadap sebuah gedung apartemen di lingkungan Daraj, Kota Gaza.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan sedikitnya 524 warga Palestina telah tewas oleh pasukan Israel sejak gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat di Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober.
Pembukaan Kembali Rafah
Penduduk di kota perbatasan Rafah juga melaporkan sejumlah serangan udara di area yang dikendalikan Israel. Israel dijadwalkan membuka kembali perlintasan Rafah, yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Mei 2024.
Pembukaan titik masuk kunci ini merupakan bagian dari perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Seharusnya dibuka pada fase pertama gencatan senjata, namun Israel menolak melakukannya hingga jenazah tawanan terakhirnya ditemukan.
Israel pada Sabtu menyatakan hanya akan mengizinkan “pergerakan orang terbatas” yang telah mendapat izin keamanan dari Israel untuk masuk dan keluar. Bantuan atau pasokan kemanusiaan tidak akan diizinkan masuk.
“Hanya mereka yang mengungsi selama dua tahun terakhir yang diizinkan kembali,” jelas Hani Mahmoud dari Al Jazeera. “Mereka yang lahir di luar Jalur Gaza tidak akan diizinkan kembali.”
Hamas menanggapi pengumuman soal Rafah dengan menyerukan Israel agar mengizinkan pergerakan masuk dan keluar Gaza “tanpa pembatasan”, dan mendesaknya untuk mematuhi semua aspek perjanjian gencatan senjata.
Lebih dari 71.600 warga Palestina telah tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023.