Pasar saham di seluruh Asia-Pasifik melonjak tajam setelah pengumuman kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Indeks acuan Nikkei 225 Jepang meroket 5,5 persen dalam perdagangan pagi Senin, sementara Kospi Korea Selatan melompat hingga 5,7 persen.
Kisah Rekomendasi
daftar 4 itemakhir daftar
Taiex Taiwan naik hingga 2,7 persen, dan ASX200 Australia menguat sekitar 1,5 persen.
Di Hong Kong, Indeks Hang Seng naik sekitar 1 persen sebelum melepas sebagian besar kenaikannya di kemudian hari sepanjang pagi.
Futurs saham AS, yang diperdagangkan di luar jam pasar reguler, juga ikut menanjak, dengan yang terkait pada S&P500 dan Nasdaq Composite yang berfokus pada teknologi, masing-masing naik sekitar 1 persen dan 1,8 persen.
Minyak mentah Brent, acuan utama harga minyak global, ambles sekitar 4,5 persen ke bawah USD83,40 per barel.
“Meski pasar sudah bereaksi akhir pekan lalu ketika Presiden Trump memberi isyarat bahwa kesepakatan sudah dekat, konfirmasi resmi memicu reli lebih lanjut,” kata Khoon Goh, kepala riset kawasan Asia untuk ANZ, kepada Al Jazeera.
“Turunnya harga minyak akan memberi sedikit kelegaan bagi bank-bank sentral di seluruh dunia yang sebelumnya khawatir prospek inflasi. Kini perhatian tertuju pada Federal Reserve AS, yang akan memutuskan suku bunga pekan ini.”
Para pedagang mata uang bekerja di ruang transaksi valuta asing kantor pusat Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, pada 15 Juni 2026 [Ahn Young-joon/AP]
Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dalam unggahan media sosial pada hari Minggu, dengan mengatakan dia telah mengotorisasi pembukaan kembali Selat Hormuz secara gratis dan segera mencabut blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Kapal-kapal di Dunia, nyalakan mesin kalian,” tulis Trump di Truth Social. “Biarkan minyak mengalir!”
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi kemudian mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah mencapai suatu kesepakatan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang pemerintahannya membantu menengahi kesepakatan tersebut, mengatakan upacara penandatanganan resmi akan digelar di Swiss pada hari Jumat.
Detil spesifik dari perjanjian itu belum dikonfirmasi secara resmi, meskipun kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa itu mencakup penghentian segera permusuhan di semua lini—termasuk di Lebanon—penangguhan sanksi atas penjualan minyak Iran, serta pelepasan aset beku Iran senilai USD24 miliar.
Jika diimplementasikan dengan sukses, perjanjian itu akan membuka jalan bagi pengiriman normal di Selat Hormuz, yang karena ancaman dan serangan Iran serta blokade AS, penutupan efektifnya telah menghebohkan pasar energi global selama hampir empat bulan.
Blokade selat tersebut menyebabkan kekurzngan pasokan minyak harian sekitar 14 juta barel per hari, menurut International Energy Agency mendorong kenaikan harga energi di seluruh dunia dan memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai negara.
Patung-patung banteng dipajang di dekat layar yang memperlihatkan indeks saham Hang Seng di luar Exchange Square, Hong Kong, China, 3 Februari 2026 [Arsip: Tyrone Siu/Reuters]
Kendati demikian, diperkirakan butuh waktu berbulan-bulan bagi arus energi global untuk pulih sepenuhnya akibat tantangan logisitk terkait mengurai antrean panjang kapal di Teluk serta kekhawatiran akan ranjau laut Iran.
Berbicara dalam forum energi di Washington, DC pekan lalu, Menteri Energi AS, Chris Wright, mengakui bahwa pemulihan pasokan energi ini mungkin memakan “beberapa bulan”.
Svein Ringbakken, direktur pelaksana NorwegianShipowners’ Mutual War Risks Insurance Association, mengatakan ribuan kapal masih terperangkap di dan sekitar jalur air tersebut.
“Bahkan dengan kapasitas penuh, perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali normal,” kata Ringbakken kepada Al Jazeera.
“Lini produksi banyak produk jadi trhenti karena kurangnya kapasitas penyimpanan. Belum lagi damage pada fasilitas produksi dan infrastruktur pelabuhan,” tambahnya.
“Ini semua menambah in-efesiensi ketika selat itu dibuka.”
“Terakhir, jika ranjau telah ditebar, bisa jadi perlu pembersihan ranjau sebelum lalu lintas penuh berjalan kembali,” lanjutnya.
“Hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan.”
SV Anchan, ketua perusahaan perkapalan Safeseta Group yang berbasis di AS, mengatakan masih sukar antusias dengan kesepakatan itu karena minimnya detil, dan meramalkan normalisasi bakal “lebih dari setahun”.
“Dari sudut pandnag saya, sangat sulit mempercayai apapun,” ujar Anchan kepada Al Jazeera. “Kita lihatcsepakatan telah ditandatangani, tapi mana sih yang di atas kertas dan mana yang realita di lapangan?”
“Bagaimana mereka akan mendemistri ranjau-ranjau ini? Bagaimana paranorma asuransi akan bereaksi?” tandas Anchan. “Bagi kami, ini masih sekedar berita dan kami akan menyaksikannya sebagai berita. Dilihat saja bagaimana gawe sabun [cerita]nya dua tiga hari ke depan.”