Teheran, Iran – Otoritas militer dan politik di Iran memproyeksikan pesan bahwa “kemenangan” telah di ambang pintu seiring konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang kian meningkat, sementara serangan udara dan upaya pembunuhan dilaporkan terjadi di berbagai penjuru negeri.
Serangan udara gabungan AS-Israel secara besar-besaran tercatat di beberapa wilayah ibu kota Teheran dari malam hingga Minggu dini hari, dan di kota Isfahan di Iran tengah pada pagi harinya. Ini terjadi sehari setelah Dezful dan Andimeshk di Khuzestan barat serta beberapa kota lainnya diserang.
Rekomendasi Cerita
Pesawat tempur Israel juga melakukan dua set serangan presisi terpisah terhadap unit-unit permukiman pribadi yang terletak di kota-kota kecil di provinsi hijau Gilan dan Mazandaran di utara pada hari Sabtu, yang tampaknya merupakan upaya pembunuhan terhadap para pejabat.
Pihak berwenang lokal mengonfirmasi bahwa beberapa orang tewas, namun tidak memberikan penjelasan rinci. Media Israel dan AS menyebutkan seorang komandan drone senior diduga menjadi korban.
Meski demikian, pejabat tinggi di Teheran menyatakan mereka pantang menyerah dan fokus pada serangan balasan.
Ketua Parlemen dan mantan komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa fakta rudal-rudal Iran menghantam Dimona Israel pada malam hari menunjukkan “tahap pertempuran baru” telah dimulai di mana “langit Israel tak terbela”.
Majid Mousavi, komandan kedirgantaraan IRGC, menggemakan pernyataan serupa mengenai kendali atas langit Israel dalam sebuah unggahan di X pada Sabtu malam, sebagai tanggapan atas pernyataan AS dan Israel yang mengklaim dominasi atas ruang udara Iran.
“Presisi tajam Seyed Majid, hantam lagi Dimona,” demikian teriak para pendukung pro-rezim yang mengibarkan bendera dalam siaran televisi negara, mendesak Mousavi untuk bertindak.
Israel menyatakan lebih dari 180 orang terluka di Dimona, kota selatan yang juga menjadi lokasi fasilitas nuklir utamanya, selain di Arad yang berdekatan.
Ahmad-Reza Radan – kepala kepolisian garis keras Iran, yang disebut oleh media Israel sebagai target pembunuhan bersama Mousavi, Ghalibaf, dan lainnya – terlihat memberikan sambuatan singkat kepada sejumlah pendukungnya di Teheran pada Sabtu malam.
“Trump awalnya mengancam Uni Eropa, lalu memohon. Hari ini, dia berkata akan datang mengambil Greenland jika orang Eropa tidak datang. Saya ingin mengatakan kepada Uni Eropa bahwa jika mereka tidak bisa mempertahankan Greenland, kirimkan permintaan dan kami akan datang menjaganya,” ujarnya, diikuti teriakan “Allahu akbar”.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Reza Talaei-Nik menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan di seluruh kawasan akan berlanjut “sampai penghentian total dan penyerahan diri musuh”.
Sindiran ini selaras dengan pesan negara dalam beberapa hari terakhir, termasuk pernyataan tertulis yang diatribusikan kepada Mojtaba Khamenei, yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi setelah ayahnya Ayatollah Ali Khamenei dibunuh pada hari pertama perang, tetapi yang belum terlihat atau terdengar.
Pesan tersebut menyebut musuh-musuh Iran sedang “dikalahkan” dan terdapat “persatuan khusus” di antara pendukung establishment teokratis.
Sepanjang pekan lalu, sejumlah pejabat keamanan tertinggi negara, komandan pasukan paramiliter Basij IRGC, menteri intelijen pemerintah, serta sejumlah personel militer dan keamanan lainnya termasuk di antara yang tewas.
Pemerintah melaporkan bahwa sejumlah besar bangunan permukiman, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas sipil lainnya juga terdampak selama perang, sementara para pendukung negara mengendalikan jalanan kota, alun-alun, dan masjid untuk mengantisipasi protes anti-pemerintah yang potensial.
‘Ucapkan selamat tinggal pada listrik!’
Retorika Iran dengan cepat meningkat pada hari Minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang strategis, jalur air kunci untuk ekspor energi global, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya.
Sebagai tanggapan, politisi dan angkatan bersenjata Iran menyatakan akan membalas lebih keras terhadap fasilitas energi di kawasan.
Lembaga berita Mehr yang berafiliasi dengan IRGC merilis peta dengan grafis yang menunjukkan pembangkit listrik di seluruh kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, yang dapat diserang jika fasilitas Iran dihantam. Pesan yang menyertainya berbunyi, “Ucapkan selamat tinggal pada listrik!”
Pada Sabtu malam, media negara dan yang berafiliasi dengan IRGC menyebarkan peta berbeda, yang menunjukan Doha dan juga menandai kantor pusat jaringan Al Jazeera sebagai target potensial, dan menyatakan semua penduduk ibu kota Qatar disarankan untuk segera mengungsi.
Televisi negara dengan cepat mengeluarkan koreksi dan mengutip sumber tanpa nama yang menyatakan peta tersebut tidak resmi, tetapi tidak ada penjelasan diberikan tentang siapa yang menyebarkan gambar itu dan mengapa.
Janji-janji eskalasi di segala front, terutama terkait pengeboman fasilitas listrik dan infrastruktur sipil kritis lainnya, menimbulkan kekhawatiran tambahan di kalangan banyak warga Iran mengenai dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari dan implikasinya bagi masa depan negara.
“Jika pembangkit listrik utama dibom, ini bukan akan sekadar gangguan singkat; ini bisa menghentikan aliran segala sesuatu dari air hingga gas,” kata seorang penduduk Teheran kepada Al Jazeera, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan.
“Akan sangat bodoh bila hanya menghukum rakyat seperti itu.”
Pasukan gabungan AS-Israel juga telah menyerang fasilitas gas alam di Iran selatan dan membom cadangan bahan bakar di seluruh Tehran, namun pihak berwenang menyatakan kebakaran dan kerusakan dapat diatasi dengan cepat tanpa menimbulkan gangguan besar.
Dalam unggahan Instagram untuk merayakan Nowruz, Tahun Baru Persia, legenda sepak bola dan figur yang dihormati secara nasional, Ali Daei, menyatakan perayaan tahun ini terasa berbeda karena Iran sedang berduka atas rakyatnya yang tewas dalam perang.
“Berharap untuk Iran yang sejahtera dan merdeka, jauh dari perang dan pertumpahan darah, penuh dengan kesejahteraan dan ketenangan,” tulisnya, yang memantik kemarahan sejumlah media negara, termasuk Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC, yang mengkritik Daei karena tidak secara spesifik mengutuk AS dan Israel.
### Proklamasi dan Peringatan di Bawah Pemadaman
Sementara itu, internet tetap terputus bagi lebih dari 92 juta warga Iran untuk hari ke-23, menjadi pemadaman terpanjang dalam sejarah negara itu, hanya disusul oleh pemadaman 20 hari yang diterapkan selama pembunuhan ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah pada bulan Januari.
Media-media negara terus berfokus pada serangan-serangan sukses IRGC dan menampilkan Iran sebagai negara di ambang pengakuan sebagai kekuatan dunia, sambil menghindari pemberitaan rinci mengenai serangan AS dan Israel atau kerusakan signifikan yang diderita.
Alaeddin Boroujerdi, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, menyatakan kepada televisi negara pada Minggu bahwa serangan IRGC semalam terhadap Israel “membuka babak baru dalam menggeser keseimbangan kekuatan dan menunjukkan kemenangan Republik Islam dalam perang yang dipaksakan ini.”
Juru bicara komite parlemen, Ebrahim Rezaei, melanjutkan pemikiran yang sama lebih jauh, dan menyatakan dalam postingan di X bahwa Iran harus menuntut untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto sebagai syarat mengakhiri perang. Anggota parlemen itu tidak menjelaskan bagaimana atau kapan hal itu diharapkan terwujud.
Pemerintah Iran juga telah menuntut reparasi perang dan jaminan terhadap agresi di masa depan, namun AS dan Israel terus mendorong untuk menggulingkan Republik Islam yang berkuasa sejak revolusi 1979.
Otoritas intelijen memberikan peringatan kepada penduduk Iran pada Sabtu bahwa bahkan sekadar menjadi anggota saluran berita dan rekaman perang berbasis luar negeri di Telegram serta semua platform media sosial lain yang dilarang negara dapat melanggar hukum keamanan nasional.
Kehakiman Iran menyatakan bahwa saluran-saluran semacam itu dianggap sebagai outlet “teroris” dan mengirimkan video lokasi dampak serangan atau pos pemeriksaan bersenjata negara di jalanan kepada mereka dapat dikenai hukuman maksimal seperti penyitaan aset bahkan eksekusi.
Otoritas keamanan negara menekankan bahwa siapa pun yang terlibat dalam protes anti-rezim akan diperlakukan sebagai “musuh”.