Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Nigeria menyebut bahwa Iroegbu dilaporkan tewas di Pretoria oleh aparat dari kepolisian metropolitan Tshwane.
Joe, yang tewas pada 28 Juni, diserang di luar tokonya di kota eMalahleni, demikian keterangan kementerian itu.
Abuja mengatakan pihaknya memberikan “peringatan” kepada pemerintah Afrika Selatan, dan bahwa “semua opsi masih terbuka… jika kecenderungan tidak berbudaya dan provokatif berupa intoleransi serta perilaku ala apartheid oleh Afrika Selatan terhadap warga asing tidak diatasi.”
Nigeria telah mengatakan akan menuntut kompensasi dari Afrika Selatan untuk warganya yang telah meninggalkan negara itu. Abuja juga telah mulai mendokumentasikan bisnis dan properti yang ditinggalkan warga Nigeria.
Namun, dalam jumpa pers pada Jumat, menteri kabinet Afrika Selatan, Khumbudzo Ntshavheni, mengatakan pemerintahannya tidak akan membayar kompensasi. Ia menambahkan bahwa warga Nigeria bisa menjual properti terdaftar yang mereka tinggalkan di pasar Afrika Selatan.
Ia juga mengatakan: “Kami akan tertarik untuk tahu di mana tempat persembunyian narkoba milik warga Nigeria, supaya mereka bisa menunjukkan kepada kami di mana mereka menyimpan narkoba, sehingga kami bisa segera membersihkan narkoba di Afrika Selatan.”
Kementerian Luar Negeri Nigeria sangat mengecam komentar ini dalam pernyataan mereka pada hari Minggu, menyebutnya “tidak bisa diterima.”
“Pernyataan publik yang bersifat merendahkan, tidak profesional, dan tidak terkendali, dan generalisasi seperti itu oleh pejabat tinggi pemerintah merupakan ujaran kebencian,” kata kementerian itu.