Warga Kanada merayakan Hari Kanada di seluruh penjuru negeri, memperingati kelahiran bangsa ini 159 tahun lalu. Namun, di balik perayaan, ada dua tantangan besar yang menguji persatuan negara.
Di provinsi Alberta di bagian barat, gerakan separatis semakin bergelora. Dalam beberapa bulan mendatang, warga Alberta akan mengikuti referendum mengenai kedaulatan provinsi mereka.
Sementara di Quebec, Parti Quebecois yang beraliran separatis saat ini unggul dalam jajak pendapat menjelang pemilihan provinsi. Partai itu berjanji akan mengadakan referendum kemerdekaan ketiga pada tahun 2030 jika menang.
“Ini adalah tahun yang penuh tekanan bagi persatuan nasional Kanada,” kata André Lecours, profesor ilmu politik di Universitas Ottawa.
Perdana Menteri Mark Carney berada di pusat ketegangan ini, berupaya menyeimbangkan kepentingan provinsi yang saling bersaing sambil menjaga negara tetap bersatu.
Kanada adalah “negara yang layak diperjuangkan”, ujarnya bulan lalu, seraya berjanji akan berkampanye demi persatuan negara pada bulan-bulan mendatang.
Pada hari Rabu, Carney akan berkunjung ke Edmonton, kampung halamannya, dalam kunjungan simbolis di hari ulang tahun negara. Di sana ia diperkirakan akan menyuarakan pentingnya persatuan nasional.
Sejarawan JDM Stewart mengatakan luasnya wilayah Kanada dan kuatnya identitas regional menimbulkan tantangan tersendiri.
“Karena negara ini begitu besar dan begitu regional, hal itu menciptakan ketegangan yang sudah ada sejak awal, dan kita masih bergumul dengannya,” ujarnya.
Quebec, provinsi berbahasa Perancis yang menjadi mayoritas, dengan gigih melindungi identitas dan budayanya sebagai masyarakat yang berbeda. Provinsi ini sudah dua kali mengadakan referendum—pada tahun 1980 dan 1995—mengenai keinginan untuk merdeka.
Jajak pendapat menunjukkan, dukungan untuk kemerdekaan Quebec saat ini sekitar 30%, tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Meski begitu, Parti Quebecois mengalami lonjakan dukungan di awal masa kampanye menjelang pemilihan provinsi pada 5 Oktober. Pemimpin partai meluncurkan cetak biru kemerdekaan Quebec setebal 500 halaman dan berjanji mengadakan referendum ketiga.
Alberta menghadapi perdebatan yang berbeda.
Dipicu desakan warga, rakyat Alberta akan memberikan suara pada 19 Oktober untuk memutuskan apakah ingin tetap di Kanada, atau mengadakan pemungutan suara yang mengikat mengenai pemisahan diri.
Jajak pendapat menunjukkan dukungan untuk pihak “keluar” berkisar antara 25% hingga 30%.
Banyak pendukung gerakan ini berargumen bahwa provinsi yang kaya energi ini telah lama diabaikan para pengambil keputusan di Ottawa, ibu kota negara, dan kebijakan lingkungan federal telah menghambat kemampuan Alberta membangun pipa minyak saerta mengelola sumber daya alamnya.
Tapi Profesor Lecours berpendapat bahwa dorongan separatis kali ini berbeda dari rasa terasingkan di barat yang sudah lama terasa di wilayah tersebut. Ia menyebut dorongan saat ini sebagai “cabang” dari populisme sayap kanan.
“Semua organisasi di Alberta ini—bukan kebetulan—muncul pada masa pandemi,” kata dia.
Ia juga menambahkan bahwa gerakan itu “terjadi tanpa adanya wakil rakyat terpilih yang dengan jelas dan terbuka mendukung kemerdekaan.”
Carney, yang pernah menjabat gubernur Bank of England selama Brexit saat Inggris memperdebatkan keluarnya dari UE, ia harus menyaksikan bahayanya gerakan separatis.
Menurutnya, apa yang terjadi di Alberta “sangat mirip.”
“Saya melihat langsung apa yang dijual dalam referendum-referendum ini. Bahwa semuanya akan mudah. Kamu bisa mempertahankan paspormu. Kamuah? bersam wa dengan mata uangmu. Kamu boleh tetap di negara ini sambil pada waktu yang sama pergi, kata Chaild ‘E .’
Ucgagmn itu disebut ny bahwa kekangty men utk lebih asjawi Anda,” melain ‘