Diterbitkan pada 26 Mar 2026
Militer Israel telah mengeluarkan ancaman “meninggalkan wilayah atau mati” yang diperluas bagi warga Lebanon, dengan mewajibkan semua individu di selatan Sungai Zahrani untuk segera berpindah ke utara. Seorang juru bicara Israel memperingatkan bahwa mereka yang tidak menaatinya “dapat membahayakan nyawa mereka akibat aktivitas militer Israel.”
Instruksi ini merepresentasikan eskalasi signifikan dalam ancaman pengusiran paksa Israel yang menyasar posisi-posisi Hezbollah yang dituduhkan. Zona pengusiran paksa kini membentang dari Sungai Litani hingga wilayah di seberang Sungai Zahrani, sekitar 40 kilometer di utara perbatasan Israel. Menurut Norwegian Refugee Council, perintah ini mencakup lebih dari 1.470 kilometer persegi – sekitar 14 persen wilayah Lebanon – dan berdampak pada lebih dari 100 kota serta desa.
Secara bersamaan, pasukan darat Israel memperkuat keberadaan mereka di Lebanon selatan, dengan pejabat menyatakan tujuannya adalah untuk membentuk “zona penyangga.”
Dampak kemanusiaannya sangatlah menghancurkan. Hanya dalam dua minggu, lebih dari 18 persen populasi Lebanon – lebih dari satu juta orang – telah mengungsi. Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi menunjukkan bahwa 1.049.328 individu telah terdaftar sebagai pengungsi, dengan 132.742 di antaranya menetap di tempat penampungan kolektif yang penuh sesak. Karena kapasitas tempat penampungan telah terlampaui, banyak keluarga tidak memiliki pilihan selain tidur di jalanan, di dalam kendaraan, atau di ruang publik.
Krisis ini juga memicu eksodus besar-besaran dari Lebanon. Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 250.000 orang telah meninggalkan negara tersebut, menandai peningkatan 40 persen sejak akhir Februari. Per 17 Maret, lebih dari 125.000 individu – hampir setengahnya anak-anak – telah menyeberang ke Suria. Meski mayoritas merupakan warga negara Suriah, sekitar 7.000 warga negara Lebanon juga telah mengungsi.
Semakin memperumit upaya warga sipil yang terancam untuk melarikan diri, Israel telah menghancurkan jembatan-jembatan di sepanjang Sungai Litani, memutus infrastruktur vital yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah lain di negara itu.