Polisi Argentina berhasil menyelamatkan dua anak korban perdagangan manusia asal Bolivia, yang dipaksa bekerja di sebuah toko kelontong. Dalam penggerebekan itu, polisi juga melakukan sejumlah penangkapan.
Secara terpisah, pihak berwenang di Belgia menangkap 17 tersangka setelah membongkar jaringan perdagangan manusia. Jaringan ini diduga menjebak korban yang direkrut lewat media sosial, lalu memaksa mereka menjadi pekerja seks di sejumlah tempat prostitusi di Belgia dan Prancis.
Operasi tersebut dilakukan antara 8 hingga 12 Juni. Sebanyak 40.000 petugas dari negara-negara di Afrika, Amerika, Asia, dan Eropa terlibat.
Hasilnya, sebagian besar korban diperdagangan untuk eksploitasi seksual, 20% lainnya dipaksa melakukan tindak kriminal, 11% dipekerjakan secara paksa, dan 2% dijadikan pengemis paksa.
Interpol menyatakan, para korban yang teridentifikasi sudah dirujuk ke layanan perlindungan dan dukungan nasional.
Interpol menambahkan, operasi itu juga menghasilkan 98 penangkapan baru, dan total sudah ada 465 kasus yang sedang diselidiki. Selain itu, sebanyak 201 orang lainnya juga teridentifikasi sebagai tersangka baru sebagai hasil operasi ini.
Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Spanyol, Nigeria, Thailand, dan Vietnam ambil bagian dalam operasi internasonal tersebut.
Sekretaris Interpol, Valdecy Urquiza, mengatakan bahwa perdagangan manusia masih menjadi “salah satu bentuk kejahatan terorganisir yang paling menguntungkan dan meluas”, yang menghasilkan pendapatan terlarang miliaran dolar setiap tahunnya.
Ia juga menambahkan jika kejahatan ini menyebabkan “kerugian parah dan berkepanjangan bagi para korban”. Urquiza menekankan juwa keberhasilan operasi ini suatu hal bersama, yang terjadi begitu satu sama lain pula terjadi apa saja diamati suatu masalah adalah kha bersama dari perikan lalu berjalan mengatakan telah dicoba