BERITA BERKEMBANG
Kementerian Luar Negeri Lebanon memanggil duta besarnya di Tehran, menyebut pelanggaran protokol diplomatik oleh Iran.
Diterbitkan pada 24 Mar 2026
Lebanon telah mencabut akreditasi Duta Besar Iran dan menyatakannya sebagai persona non grata, menuntut kepergiannya dari Lebanon pada Minggu mendatang, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri pada Selasa.
Kementerian itu juga memanggil pulang duta besar Lebanon di Iran untuk konsultasi, menyoroti apa yang disebutnya sebagai pelanggaran Tehran terhadap norma diplomatik dan praktik yang telah terjalin antara kedua negara.
Berita Rekomendasi
Keputusan ini muncul saat tentara Israel terus menyerang Lebanon dengan serangan udara dan melancarkan ofensif darat di selatan Lebanon, menyusul serangan lintas batas oleh Hezbollah pada 2 Maret sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pihak berwenang Lebanon menyatakan setidaknya 1.039 orang tewas dan 2.876 lainnya luka-luka dalam serangan Israel. Lebih dari 1,5 juta warga Lebanon telah mengungsi setelah Israel memerintahkan evakuasi dari wilayah selatan negara tersebut.
Mengutip Kementerian Kesehatan Lebanon, Zeina Khodr melaporkan pada Selasa bahwa setidaknya tiga orang tewas dalam pembunuhan terarget semalam di Beirut.
“Militer Israel menyatakan mereka menyasar anggota Pasukan Quds, unit luar negeri dari IRGC [Korps Pengawal Revolusi Islam]. Bukan pertama kalinya tentara Israel mengklaim menargetkan IRGC di Lebanon,” ujarnya.
“Iran sendiri mengakui bahwa empat warga negaranya tewas dalam serangan terarah di sebuah hotel pada awal konflik. Namun mereka menyatakan bahwa keempatnya adalah warga sipil.”
Perang terbaru Israel ini terjadi ketika banyak dari lebih dari satu juta pengungsi selama perang 2023-24 belum dapat kembali ke rumah mereka di selatan Lebanon, karena pasukan Israel masih menduduki wilayah Lebanon dan terus melancarkan serangan yang menewaskan ratusan jiwa.
Hezbollah memulai serangan lintas batas ke Israel pada Oktober 2023 sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Gaza yang dibombardir besar-besaran oleh Israel. Israel menginvasi selatan Lebanon setelah hampir setahun pertukaran tembak yang mengakibatkan pengungsian ribuan warga di kedua sisi perbatasan. Pertempuran itu diakhiri dengan gencatan senjata pada November 2024.
Serangan-serangan Israel terhadap Lebanon semakin merenggangkan hubungan antara pemerintah Lebanon dan Hezbollah, yang menolak upaya pemerintah untuk melucuti kelompok tersebut. Kesepakatan November 2024 mensyaratkan Hezbollah untuk melucuti senjata dan militer Israel untuk menarik posisinya dari dalam Lebanon.
Hezbollah, yang didirikan pada 1982 setelah invasi Israel, menolak menurunkan senjata dan menuntut Israel meninggalkan wilayah Lebanon terlebih dahulu. Hezbollah yang didukung Iran itu telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata 2024 meski Israel berulang kali melanggarnya.
Pemerintah Lebanon melarang aktivitas militer Hezbollah pada 2 Maret.
Lebanon, yang sempat melemah dalam perang 2024, tampaknya telah menyusun kekuatan kembali dan melancarkan perlawanan terhadap Israel. Mereka telah meluncurkan puluhan roket ke Israel seiring dibukanya front lain dalam perang AS-Israel melawan Iran. Hezbollah merupakan bagian dari apa yang disebut “Poros Perlawanan” yang didukung Tehran. Kelompok Houthi di Yaman dan kelompok bersenjata di Irak merupakan anggota lain dari Poros ini.