Para ahli keamanan pangan global yang didukung PBB memperingatkan bahwa “skenario terburuk kelaparan kini tengah terjadi” di Jalur Gaza.
Peringatan yang dikeluarkan oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menyebutkan bukti semakin kuat bahwa kelaparan massal, malnutrisi, dan penyakit memicu kenaikan kematian akibat lapar di antara 2,1 juta warga Palestina di sana.
“Data terbaru menunjukkan ambang batas kelaparan telah tercapai untuk konsumsi pangan di sebagian besar Jalur Gaza dan malnutrisi akut di Kota Gaza,” tambahnya.
Lembaga PBB sebelumnya telah memperingatkan adanya kelaparan massal buatan manusia di Gaza dan melaporkan setidaknya 63 kematian akibat malnutrisi bulan ini. Mereka menyalahkan krisis ini pada Israel, yang mengendalikan masuknya semua pasokan ke wilayah tersebut.
“Fakta sudah jelas—dan tak terbantahkan. Warga Palestina di Gaza mengalami bencana kemanusiaan dalam skala epik,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
“Ini bukan peringatan. Ini realitas yang terjadi di depan mata kita. Bantuan yang hanya menetes harus menjadi banjir. Makanan, air, obat-obatan, dan bahan bakar harus mengalir deras tanpa hambatan.”
Israel memberlakukan blokade total terhadap bantuan dan pengiriman komersial ke Gaza awal Maret lalu dan melanjutkan serangan militernya terhadap Hamas dua minggu kemudian, mengakhiri gencatan senjata dua bulan. Mereka berdalih ingin menekan kelompok bersenjata itu untuk melepaskan sandera Israel.
Blokade sedikit dilonggarkan setelah 11 pekan, saat pemerintah Israel mendapat tekanan dari sekutunya, tetapi kelangkaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar justru semakin parah.
Israel bersikeras tidak ada pembatasan bantuan dan menyangkal adanya “kelaparan”.
Namun, belakangan ini Israel mengumumkan langkah-langkah untuk membantu PBB dan mitranya mengambil bantuan dari pos pemeriksaan dan mendistribusikannya di Gaza, termasuk “jeda taktis” harian operasi militer di tiga area dan koridor yang ditetapkan.
IPC menekankan aksi segera harus diambil untuk mengakhiri permusuhan dan memungkinkan respons kemanusiaan besar-besaran tanpa halangan untuk menyelamatkan nyawa.
Laporan ini belum secara resmi mengklasifikasikan Gaza dalam kondisi kelaparan, menyatakan hal itu hanya bisa diputuskan melalui analisis yang akan dilakukan “tanpa penundaan”.
IPC—inisiatif global oleh lembaga PBB, kelompok bantuan, dan pemerintah—adalah mekanisme utama yang digunakan komunitas internasional untuk menyimpulkan apakah kelaparan terjadi.
Rumah tangga diklasifikasikan sebagai Fase 5 IPC (Bencana) jika mengalami kekurangan makanan ekstrem, kelaparan, dan habisnya strategi bertahan hidup.
Untuk mendeklarasikan kelaparan secara resmi di suatu wilayah, harus ada bukti bahwa:
– Minimal 20% rumah tangga berada di Fase 5
– Minimal 30% anak-anak menderita malnutrisi akut
– Terjadi dua kematian per 10.000 penduduk per hari, atau empat kematian anak per 10.000 anak, “akibat kelaparan langsung atau interaksi malnutrisi dan penyakit”
Pada Mei lalu, IPC memperingatkan seluruh populasi Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi dan 470.000 orang (22%) berada dalam tingkat “bencana”, atau Fase 5.
Peringatan IPC yang dirilis Selasa menyatakan eskalasi pemboman militer Israel dan perluasan operasi darat selama dua bulan terakhir memiliki “dampak menghancurkan” pada warga sipil dan infrastruktur kritis.
Akses masyarakat terhadap pangan di seluruh Gaza juga menjadi “sangat tidak menentu dan berbahaya” dalam periode yang sama, ditambah catatan PBB bahwa lebih dari 1.000 orang tewas saat mencari bantuan oleh pasukan Israel.
IPC menyatakan malnutrisi melonjak drastis pada paruh pertama Juli dan mencapai ambang kelaparan di Kota Gaza.
Mereka mengutip Gaza Nutrition Cluster—yang terdiri dari lembaga PBB dan organisasi kemanusiaan lain—yang menyebut lebih dari 20.000 anak dirawat di klinik karena malnutrisi akut antara April hingga pertengahan Juli, dengan lebih dari 3.000 kasus parah.
Rumah sakit juga melaporkan kenaikan tajam kematian anak di bawah lima tahun terkait kelaparan, dengan setidaknya 16 kematian tercatat sejak 17 Juli.
Peringatan IPC menyerukan tindakan segera untuk “mengurangi penderitaan bencana”.
“Ini termasuk meningkatkan aliran barang, memulihkan layanan dasar, dan memastikan akses aman tanpa halangan untuk bantuan penyelamatan nyawa yang cukup,” sebut laporan itu.
“Tak satu pun dari ini mungkin terjadi tanpa gencatan senjata.”
Program Pangan Dunia (WFP) dan Unicef menyatakan keprihatinan bahwa dua ambang kelaparan—konsumsi pangan dan malnutrisi akut—telah dilampaui di beberapa bagian Gaza.
Mereka memperingatkan, mengumpulkan data kuat tentang ambang ketiga—kematian akibat kelaparan—dalam kondisi saat ini di Gaza “sangat sulit karena sistem kesehatan, yang sudah hancur akibat konflik hampir tiga tahun, sedang kolaps”.
Pada Senin, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyatakan 14 orang lagi meninggal karena malnutrisi dalam 24 jam terakhir. Total kematian terkait malnutrisi sejak perang dimencapai 147, termasuk 88 anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebutkan pada Minggu ada 63 kematian terkait malnutrisi di Gaza bulan ini, termasuk 24 anak di bawah lima tahun. Sebagian besar jenazah menunjukkan “tanda-tanda kurus parah yang jelas”.
“Penderitaan tak tertahankan warga Gaza sudah jelas terlihat oleh dunia. Menunggu konfirmasi resmi kelaparan sebelum memberikan bantuan pangan penyelamat nyawa yang sangat mereka butuhkan adalah tak bisa diterima,” kata Direktur Eksekutif WFP Cindy McCain.
“Kita harus membanjiri Gaza dengan bantuan pangan skala besar, segera tanpa halangan, dan terus mengalirkannya setiap hari untuk mencegah kelaparan massal.”
Rakyat sudah meninggal akibat kurang gizi, dan semakin lama kita menunda bertindak, korban jiwa akan semakin bertambah.
WFP dan UNICEF menyatakan bahwa bantuan yang masuk ke Gaza sejak Israel sedikit melonggarkan blokade “hany setetes” dari yang dibutuhkan. Lebih dari 62.000 ton bantuan—setara dengan sekitar 3.100 truk—dibutuhkan setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar dan nutrisi.
Dalam konferensi pers di Yerusalem, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mengakui situasi di Gaza “sulit” namun membantah bahwa Israel sengaja membuat rakyat kelaparan.
“Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Ini adalah Hamas,” tegasnya. “Apakah ada kebijakan kelaparan? Tidak, justru sebaliknya.”
Sa’ar menyebut 5.000 truk bantuan telah masuk ke Gaza dalam dua bulan terakhir, dan Israel berupaya keras dengan membuka koridor kemanusiaan serta menjatuhkan bantuan lewat udara.
Badan militer Israel, Cogat, yang mengoordinasikan bantuan ke Gaza, melaporkan lebih dari 200 truk diambil oleh PBB dan organisasi internasional pada Senin, dengan ratusan lainnya masih menunggu.
Namun, warga Gaza mengaku belum melihat perbaikan berarti dalam ketersediaan makanan sejak Israel mengumumkan langkah baru.
“[Senin] mereka menjatuhkan bantuan dalam jumlah sangat sedikit di daerah kami. Ribuan orang berebut,” kata Bakr Salah, seorang perawat berusia 35 tahun di RS al-Shifa.
“Anak-anak saya kelaparan. Mereka belum makan selama dua hari. Kami terus mendengar bantuan datang, tapi tak pernah melihatnya,” tambahnya.
Di Khan Younis, Bilal Atallah (45) menghabiskan seluruh harinya menunggu bantuan makanan tanpa hasil.
“Saya terpaksa membeli tepung dari para penjarah yang mencurinya dari truk bantuan. Harganya $35 per kilo,” ujarnya.
Warga lain melaporkan geng kriminal merampok konvoi bantuan dan menjualnya dengan harga selangit.
Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengakui sebagian besar truk PBB dijarah pada Minggu, tapi menyebut pelakunya adalah “warga sipil yang putus asa.”
Israel kerap menuduh Hamas mencuri bantuan. Namun, *The New York Times* mengutip pejabat militer Israel yang menyatakan tidak ada bukti sistematis pencurian oleh Hamas.
Reuters juga melaporkan analisis internal pemerintah AS yang tidak menemukan bukti pencurian terorganisir oleh Hamas terhadap bantuan AS.
Militer Israel melancarkan operasi di Gaza sebagai respons serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut setidaknya 60.034 orang tewas sejak saat itu.