Kelompok hak asasi menyatakan Israel ‘memperluas pembersihan etnis di Yerusalem Timur, melemparkan keluarga-keluarga Palestina ke jalanan’.
Dipublikasikan Pada 25 Mar 202625 Mar 2026
Sekitar selusin keluarga Palestina telah diusir dari rumah mereka di Yerusalem Timur yang diduduki, seiring peringatan dari kelompok-kelompok HAM bahwa Israel sedang mengintensifkan gelombang pengusiran paksa di kawasan tersebut.
Kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, menyatakan pada Rabu bahwa setidaknya 11 keluarga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka di wilayah Batn al-Hawa, Silwan, tepat di selatan Kota Tua Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa.
Rekomendasi Cerita
“Di tengah serangan ofensif Israel-Amerika yang ilegal dan mematikan terhadap Iran yang masih berlangsung, Israel memperluas pembersihan etnis di Yerusalem Timur, dengan melemparkan keluarga-keluarga Palestina ke jalanan,” tulis B’Tselem dalam sebuah unggahan media sosial.
Video yang dibagikan daring menunjukkan kehadiran polisi Israel dalam jumlah besar di lingkungan itu, sementara pekerja yang mengenakan rompi oranye reflektif mengeluarkan barang-barang keluarga tersebut dari rumah mereka.
Norwegian Refugee Council (NRC), sebuah kelompok kemanusiaan, menyatakan rumah-rumah tersebut diperkirakan akan dialihkan kepada organisasi pemukim Israel, Ateret Cohanim. “Lebih dari 1.000 warga Palestina lagi di Yerusalem Timur berisiko menghadapi pengusiran paksa,” tulis kelompok itu di X.
Warga Palestina di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, menghadapi gelombang kekerasan yang melonjak dari pemukim dan militer Israel, dalam bayang-bayang perang genosida Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 1.052 warga Palestina telah tewas di tangan pemukim dan pasukan Israel di Tepi Barat antara dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023 hingga akhir Januari tahun ini.
Puluhan ribu warga Palestina juga telah mengungsi di seantero Tepi Barat sejak perang di Gaza dimulai.
Silwan, yang terletak tepat di luar tembok Kota Tua Yerusalem, telah menghadapi tekanan bertahun-tahun dari otoritas Israel dan kelompok-kelompok yang mendorong perluasan permukiman ilegal Israel di jantung lingkungan tersebut.
Lebih dari 200 Keluarga Rentan
Pada awal Januari, Mahkamah Agung Israel menolak banding terakhir dari lebih dari dua puluh keluarga Palestina di Batn al-Hawa, yang memperjuangkan hak mereka atas pengusiran yang mengancam.
Kelompok hak Israel, Ir Amim, mencatat pada waktu itu bahwa kawasan tersebut mengalami “eskalasi pengusiran yang tajam”, dengan pemukim Israel telah mengambil alih rumah setidaknya enam keluarga Palestina.
“Kasus-kasus pengusiran ini didasarkan pada hukum Israel yang diskriminatif yang diberlakukan pada 1970, yang memberikan hak eksklusif kepada warga Yahudi untuk mereklam properti yang diklaim dimiliki sebelum 1948, sementara menyangkal hak yang sama bagi warga Palestina,” demikian pernyataan organisasi tersebut pada 2 Januari.
Pemukim Israel berjalan melewati polisi Israel setelah pengusiran keluarga-keluarga Palestina di wilayah Batn al-Hawa, Silwan, di Yerusalem Timur yang diduduki, pada 25 Maret 2026 [AFP]
B’Tselem menyatakan pada Rabu bahwa kira-kira 90 keluarga – dengan total 700 orang – di Batn al-Hawa menghadapi “ancaman pengusiran paksa yang segera”, bersama dengan 1.500 orang lainnya dari 150 keluarga di wilayah al-Bustan, Silwan.
“Ini adalah realitas dari kekerasan yang sistematis dan terinstitusionalisasi, serta manifestasi jelas dari kebijakan Israel yang bertujuan merekayasa keseimbangan demografis dan ‘meyahudikan’ lingkungan tersebut dengan memanfaatkan hukum-hukum yang diskriminatif,” ujar kelompok itu.
“Langah-langkah ini dirancang untuk memperluas keberadaan dan kontrol Israel atas salah satu area yang paling sensitif secara politik dan religius di kawasan ini, yang berperan sebagai komponen krusial dari pembersihan etnis yang lebih luas yang saat ini berlangsung di Tepi Barat.”