Negara-negara Arab di Teluk dan sekitarnya yang menjadi lokasi aset Amerika Serikat menjadi sasaran serangan balasan Iran dalam perang ini.
Dengarkan artikel ini | 2 menit
Diterbitkan Pada 7 Mar 2026
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negara-negara tetangga tidak akan lagi menjadi target, kecuali serangan berasal dari sana, seiring perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel—yang memicu pembalasan berkelanjutan dari Tehran di seantero Teluk dan sekitarnya—masuk ke minggu keduanya.
Dewan kepemimpinan sementara Iran menyetujui mosi tersebut pada Jumat, kata Pezeshkian pada Sabtu.
Rekomendasi Cerita
Dalam keterangan yang disiarkan media Iran, presiden juga meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan-serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman—semua negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—telah disasar karena keberadaan aset AS di dalam dan sekitar perbatasan mereka. Irak, Yordania, Azerbaijan, dan Turki juga tak luput dari bidikan.
Di kawasan Teluk, telah terjadi korban jiwa, kerusakan, gangguan besar pada penerbangan, penutupan ruang udara, serta dampak beruntun yang berat pada produksi minyak dan gas yang berimbas ke seluruh dunia.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi menyatakan bahwa ekspor dari kawasan Teluk bisa terhenti “dalam hitungan minggu” jika perang melawan Iran terus meningkat, yang akan mengguncang pasar energi global.
Al-Kaabi mengatakan kepada surat kabar The Financial Times (FT) dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Jumat bahwa jika perang berlanjut selama berminggu-minggu, “pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak.”
“Harga energi semua orang akan naik. Akan terjadi kekurangan beberapa produk dan akan ada reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak dapat memasok,” kata al-Kaabi seperti dikutip.
Satu-satunya korban tewas AS dalam perang sejauh ini terjadi ketika Iran menyerang pusat komando AS di Kuwait, menewaskan enam orang.
Lebih dari 1.200 warga Iran tewas dalam serangan AS-Israel pada minggu pertama perang.