Harga Minyak Mentah Brent Tembus US$106 per Barel, Pasar Kian Pesimistis Terkait Penutupan Selat Hormuz
Dengarkan artikel ini | 2 menit
Dipublikasikan pada 16 Mar 2026
Harga minyak terus merangkak naik seiring pesimisme pasar mengenai berakhirnya penutupan efektif Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Brent crude, patokan harga minyak global terpenting, melonjak hingga 3 persen pada Minggu (16/3) dan menembus level US$106 per barel, sebelum sedikit terkoreksi pada perdagangan dini Senin. Pada pukul 02:00 GMT, harga Brent berada di posisi US$104,15 per barel, menguat 1 persen.
Kenaikan terbaru ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan negara-negara lain untuk membantu Washington membuka kembali Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global.
Sejauh ini, seruan Trump itu hanya mendapat tanggapan dingin. Belum ada satupun negara yang ia sebut namanya—termasuk Tiongkok, Jepang, Prancis, dan Inggris Raya—yang secara terbuka berkomitmen untuk mengerahkan angkatan laut mereka ke jalur air krusial tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada Minggu, Trump menyatakan bahwa NATO akan menghadapi masa depan "yang sangat suram" jika proposalnya tidak mendapat respons, atau justru mendapat respons negatif.
Iran menghentikan total lalu lintas kapal di selat itu sebagai balasan atas serangan AS dan Israel ke wilayahnya. Aksi ini telah menciptakan apa yang disebut Badan Energi Internasional sebagai gangguan terbesar dalam sejarah terhadap pasokan energi global.
Harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40 persen sejak perang dimulai, mendorong kenaikan harga bahan bakar dan memperdalam kekhawatiran akan melambatnya ekonomi global.
Menurut pusat operasi United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), tidak lebih dari lima kapal yang melintasi selat itu setiap hari sejak perang dimulai. Angka ini jauh di bawah rata-rata historis yang mencapai 138 transit harian.
Setidaknya 16 kapal komersial telah diserang di kawasan tersebut sejak perang berkecamuk pada 28 Februari lalu, menurut data UKMTO.
Trump berulang kali menyatakan kesediaannya untuk mengerahkan Angkatan Laut AS guna mengawal kapal komersial yang melintasi selat—yang diapit oleh Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab—jika diperlukan.
Pejabat-pejabat administrasi Trump menyebutkan bahwa saat ini belum aman untuk mengerahkan kapal perang ke selat tersebut akibat ancaman serangan Iran, namun mereka memperkirakan operasi semacam itu akan segera dimulai.