Hidup Maryam seolah terhenti Sabtu lalu. Sejak itu, setiap menit dari setiap harinya terbagi antara menantikan kabar dari keluarganya di Iran saat komunikasi memungkinkan, dan jam-jam panjang penuh kecemasan ketika ia hanya bisa menerka-nerka nasib mereka.
Maryam—yang meminta nama aslinya disamarkan demi keamanan—bukanlah satu-satunya. Diaspora Iran termasuk yang terbesar di dunia: terdiri dari mereka yang menghindari persekusi di era Syah pra-1979, mereka yang mengungsi dari tekanan Republik Islam, dan mereka yang sekadar mencari stabilitas ekonomi atau karier di luar negeri. Kini, seperti Maryam, mereka hidup dari serpihan informasi tentang keselamatan sanak saudara di tengah perang yang mengancam melalap seluruh kawasan.
Rekomendasi Cerita
list of 3 items
end of list
“Ini adalah ketakutan terburukku,” ujar Maryam, 33 tahun, dari Madrid. Terakhir kali ia berada di Tehran pada Januari lalu, kemudian kembali ke ibu kota Spanyol tempatnya bekerja, menyusul gelombang protes masif yang menewaskan ribuan orang bulan itu.
“Inilah yang kucari pukul 3 pagi saat tak bisa tidur: ‘AS Iran’,” katanya tentang pencarian Google-nya, “hanya untuk memastikan.”
“Setiap jengkal tanah sana bagai sel dalam tubuhku. Ayahku dari selatan, ibuku dari utara, jadi setiap inci tanah itu adalah aku. Rasanya seluruh negeri adalah rumahku. Agresi terhadap tanah itu adalah agresi terhadap diriku. Iran bagai ibuku yang lain,” ujarnya, suaranya tersekat.
Di seantero diaspora Iran, banyak yang menggambarkan perasaan tak berdaya dan ngeri yang kian menjadi pasca-pengerahan pasukan Amerika Serikat di perairan dekat Iran akhir Januari. Saat itulah Presiden AS Donald Trump mengancam dengan ‘armada besar’ yang bergerak “cepat”, “dengan kekuatan, semangat, dan tujuan besar”, menuju Iran.
Pada 28 Februari, prediksi pengamat di seluruh dunia menjadi kenyataan. Gelombang besar serangan AS dan Israel yang pertama menghantam Iran dan berlanjut hingga kini, menewaskan sedikitnya 1.230 orang, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan rumah-rumah.
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei termasuk di antara yang tewas. Rakyat Iran membalas dengan serangan mereka sendiri terhadap Israel dan negara-negara sekitarnya, menimbulkan kekhawatiran konflik akan merembet tak terkendali di kawasan yang lebih luas.
‘Siksaan’ Menyaksikan dari Jauh
Sara, seorang pelajar, bercerita tentang usahanya menyisir setiap cuplikan berita dari Iran mencari tanda-tanda rumah keluarganya, yang terletak tinggi di bukit-bukit Tehran.
“Kakekku yang membangunnya di lereng bukit,” katanya dari London, tempat ia tak punya pilihan selain menyaksikan perang di tanah airnya berkecamuk.
“Itu rumah keluarga kami. Tempat orangtuaku menikah. Tempat aku menghabiskan masa kecil. Jiwa keluarga kami,” ujarnya, menggambarkan “siksaan” dan rasa tak berdaya menyaksikan sebagian besar kota tempatnya dibesarkan terbakar.
Hiwa, 35, seorang Kurdi Iran dari Sanandaj (Sine) di barat laut Iran, mengatakan ia terakhir mendengar kabar dari ayahnya pekan lalu, sebelum serangan AS dan Israel. Ia agak kurang khawatir bagi keluarganya karena lokasi mereka bukan sasaran utama serangan. Namun ia tak yakin situasi itu takkan berubah di masa depan.
Hiwa melarikan diri dari Iran tiga tahun silam, menyeberangi Selat Inggris ke Britania Raya setelah kawannya ditangkap akibat kegiatan pro-demokrasi. Hiwa menjelaskan bahwa dirinya sendiri telah dua kali ditahan, pada 2011 dan 2014, atas alasan serupa. Saat penangkapan pertama, ia diciduk dari kampusnya, dikurung di sebuah ruangan dan dipukuli. Penangkapan kedua membuatnya mendekam sebulan di penjara.
Kini ia memikirkan ayahnya yang telah duda, berusia 70-an, tinggal sendirian di Sine dan mengidap kanker.
“Ini paradoks besar, sungguh, paradoks yang sangat-sangat besar,” katanya. Ia membandingkan kehidupannya di Inggris—bisa keluar rumah, minum kopi, disambut senyum orang—dengan kondisi keluarganya di Iran.
“Tapi begitu pikiranmu kembali ke rumah, memikirkan keluarga, kau berada dalam situasi mengerikan. Kau tak bisa menyeimbangkan keduanya,” ujarnya tentang kehidupan yang terbelah secara emosional antara dua benua dengan keadaan yang sangat berbeda.
“Aku tak bisa tidur di malam hari,” katanya, “Ini memengaruhi studiku, pendidikanku, pekerjaanku, segalanya.”
Trauma Politik
Bahkan sebelum konflik terkini, warga Iran telah kesulitan menyaksikan gejolak di tanah air mereka.
Demonstrasi Januari lalu memicu tindakan keras pemerintah. PBB dan organisasi HAM internasional menuduh pasukan pemerintah membunuh ribuan demonstran. Negara Iran menyalahkan “teroris” atas banyak dari kematian tersebut.
Seperti banyak warga Iran lain, Maryam dan Sara telah akrab dengan penindasan dan kekerasan yang ditimbulkannya. Maryam menceritakan bahwa ibunya pernah menjadi tahanan politik. Maryam sendiri terlibat dalam protes Gerakan Hijau 2009 setelah kemenangan kontroversial Presiden petahana Mahmoud Ahmadinejad.
Beberapa hari lalu, ia merogoh loteng rumahnya, mencari barang-barang yang mengingatkannya pada Iran.
Ia menemukan sebuah foto dari masa protes itu.
“Aku sengaja duduk, untuk menunjukkan bahwa kami damai,” ujarnya, suaranya hangat mengenang diri masa mudanya. “Matahari menyinari wajahku dan aku agak mengernyit. Aku sudah mengalami hal-hal ini sebelumnya. Semua orang sudah mengalaminya. Kita selalu berpura-pura ini baru dan seolah belum pernah, padahal tidak. Kita semua tahu ini akan datang. Yang kulihat hanyalah pengulangan dari masa lalu.”
Tidak seorang pun yang diwawancarai Al Jazeera mengaku tahu apa yang akan terjadi pada Iran. Tak ada yang berharap negara dan rakyatnya akan lebih baik saat bom berhenti jatuh. Untuk sekarang, semua hanya khawatir pada teman dan keluarga mereka, yang tak punya pilihan selain berusaha bertahan hidup.
Maryam teringat keteguhan mental ibunya bertahun-tahun setelah dibebaskan dari Penjara Evin yang tersohor itu.
“Ketika aku sekitar 13 atau 14 tahun, mereka membangun jalan tol yang [melintas] dekat situ,” kenangnya. “Kita bisa menyetir dan melihat ke dalam saat melewatinya.”
“Aku ingat duduk di mobil, melihat ibuku menyetir. Aku melihat betapa cantik dan tekun dirinya—melintasi segala kegelapan ini tanpa membiarkannya memengaruhinya.”
“Dia hanya membawa anak-anak perempuannya ke kota, di tanah air indah yang takkan pernah ia izinkan dirampas dari kami,” kata Maryam. “Itulah yang terpikir ketika aku memikirkan Iran. Aku takkan pernah membiarkan segala kejelekan dan kebencian, yang sudah kita alami semua, mengalihkanku dari itu.”