Simak artikel ini | 4 menit
Pemerintah Ekuador telah menyatakan akan menaikkan tarif impor dari Kolombia secara signifikan, dari 30 persen menjadi 50 persen, efektif mulai 1 Maret.
Keputusan yang diumumkan pada Kamis ini merupakan eskalasi besar dalam perselisitan perdagangan dan keamanan yang semakin memanas antara kedua negara tetangga di kawasan Andes tersebut.
Rekomendasi Cerita
Presiden sayap kanan Ekuador, Daniel Noboa, telah mendesak rekannya dari sayap kiri di Kolombia, Gustavo Petro, untuk memperketat keamanan perbatasan.
Sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020, Ekuador mengalami lonjakan kekerasan yang terkait dengan ekspansi kejahatan terorganisir di negara itu.
Noboa, yang menggemakan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat, menyalahkan Petro karena dinilai tidak cukup agresif dalam memerangi perdagangan narkotika. Kolombia, selama bertahun-tahun, merupakan sumber kokain terbesar di dunia.
Layaknya Trump, Noboa juga semakin bergantung pada penerapan tarif terhadap Kolombia untuk memaksa kepatuhan pada strategi keamanan nasional Ekuador.
Pemerintahnya menuduh pemerintahan Petro gagal bekerja sama dalam langkah-langkah keamanan perbatasan. Kedua negara terletak di pesisir Pasifik dan berbagi perbatasan darat sepanjang kurang lebih 586 kilometer.
Pertanyaan Seputar Pasokan Listrik
Pengumuman pada Kamis ini menyusul penerapan tarif awal 30 persen yang diberlakukan Quito pada awal Februari lalu.
Pejabat Ekuador juga membenarkan langkah proteksionis tersebut dengan menyebut defisit perdagangan yang semakin membesar.
Menurut Observatory of Economic Complexity, firma analisis data, hampir 4 persen ekspor Kolombia ditujukan ke Ekuador, bernilai sekitar $2,13 miliar. Ekuador mengimpor obat-obatan dan pestisida dalam jumlah signifikan dari Kolombia.
Namun, ekspor dari Ekuador ke Kolombia lebih sedikit. Sekitar 2,3 persen ekspor Ekuador dikirim menyeberangi perbatasan bersama, dengan nilai mencapai $863 juta.
Defisit perdagangan Ekuador dengan Kolombia, berdasarkan data pemerintah hingga 2025, berada di kisaran $1,03 miliar, tidak termasuk minyak.
Namun, terlepas dari kenaikan tarif yang telah diantisipasi, belum jelas apakah Ekuador akan menerapkan tarif baru tersebut untuk listrik dari Kolombia—sumber daya yang krusial bagi negara itu.
Sebagai aksi balasan menyusul pemberlakuan tarif awal, Kolombia menangguhkan semua penjualan energi ke negara tetangganya itu.
Penangguhan itu berisiko memicu ketegangan lebih lanjut di Ekuador terhadap pemerintahan Noboa. Kekeringan belakangan ini telah menyebabkan gangguan pada bendungan pembangkit listrik tenaga air Ekuador, yang menyuplai hampir 70 persen kebutuhan listrik negara.
Gangguan-gangguan tersebut telah menyebabkan pemadaman listrik luas dalam beberapa tahun terakhir, yang kemudian memicu protes antipemerintah. Sebelumnya, Noboa merespons dengan membeli listrik dari Kolombia.
Kebuntuan Terkait Pipa Minyak
Transportasi bahan bakar fosil juga telah menjadi titik nyala persengketaan antara Ekuador dan Kolombia pasca-tarif Februari lalu.
Pemerintahan Noboa telah menaikkan biaya untuk minyak mentah Kolombia yang diangkut melalui Trans-Ecuadorian System Oil Pipeline (SOTE) sebesar 900 persen.
Kenaikan itu membawa biaya menjadi sekitar $30 per barel. Kolombia menanggapi dengan menghentikan semua pengiriman minyak melalui jalur pipa tersebut.
Meskipun telah dilakukan upaya diplomasi tingkat tinggi, ketegangan antara kedua negara tetangga ini tetap berada di jalan buntu.
Pejabat-perjabat yang mewakili kebijakan luar negeri dan keamanan mengadakan pertemuan bulan ini di Ekuador, namun pertemuan tersebut berakhir tanpa terciptanya terobosan.
Dalam pengumuman kenaikan tarif terbaru ini, Kementerian Produksi dan Perdagangan Luar Negeri Ekuador melayangkan kritik kepada Kolombia karena dinilai gagal menerapkan langkah-langkah “konkret dan efektif” untuk membendung perdagangan narkoba di sepanjang perbatasan.
Ekuador, yang pernah dianggap sebagai benteng stabilitas, mengalami lonjakan angka pembunuhan dan kejahatan kekerasan lainnya.
Berdasarkan Organized Crime Observatory yang berbasis di Jenewa, negara Andes itu mencatat angka pembunuhan sekitar satu kasus setiap jam pada tahun lalu.