Alexei Smirnov Dinyatakan Bersalah Terima Suap dari Perusahaan Pembangun Pertahanan Perbatasan Ukraina
Diterbitkan pada 6 Apr 2026
Sebuah pengadilan Rusia telah menjebloskan mantan gubernur Kursk dalam kasus korupsi yang menyorot, terkait dengan serangan pasukan Ukraina ke wilayah perbatasan.
Alexei Smirnov dihukum pada hari Senin dengan pidana 14 tahun di koloni pemasyarakatan setelah terbukti bersalah lalai memastikan kekokohan benteng pertahanan di perbatasan akibat tindak korupsi.
Cerita Rekomendasi
Pasukan Ukraina berhasil merebut wilayah luas dalam serangan mendadak yang dilancarkan Agustus 2024, dengan sedikit perlawanan, sebagian karena buruknya pertahanan Rusia.
Kremlin kemudian melancarkan operasi pembersihan yang menyasar pejabat tinggi daerah dan militer atas kegagalan menghentikan serbuan itu, yang terjadi dua setengah tahun setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Mantan gubernur wilayah Kursk Rusia, Alexei Smirnov, berdiri di dalam kandang tertuduh selama persidangan di Kursk pada 2 April 2026 [Handout/Pengadilan Distrik Lininsky kota Kursk/AFP]
Menurut putusan pengadilan, Smirnov yang berusia 52 tahun—dan mengaku bersalah—telah menerima suap dari perusahaan-perusahaan konstruksi yang dikontrak untuk membangun fasilitas pertahanan.
Laporan media mengungkap bahwa rintangan antitank dibangun menggunakan bahan murahan yang tak mampu menahan alat militer Ukraina.
Pengadilan juga menjatuhkan denda sebesar 400 juta rubel (USD 4,9 juta) serta larangan bekerja selama 10 tahun.
Putusan pengadilan menyebutkan lebih dari 20 juta rubel (USD 220.000) disita dari aset Smirnov.
Smirnov menjadi Gubernur Kursk pada Mei 2024. Pada Desember tahun yang sama, ia mengundurkan diri dari jabatannya dan kemudian ditahan.
Smirnov mengaku dan menyatakan bahwa pendahulunya, Roman Starovoit, yang merekomendasikan praktik penerimaan suap tersebut.
Starovoit-lah yang melaporkan penyelesaian fasilitas pertahanan kepada atasannya. Ia kemudian menjadi Menteri Perhubungan Rusia hingga Presiden Rusia Vladimir Putin memberhentikannya secara tak terduga pada Juli 2025.
Tak lama setelahnya, ia ditemukan tewas di luar ruangan dengan luka tembak di kepala, yang oleh penyelidik digambarkan sebagai bunuh diri.
Serbuan Ukraina ke Kursk, di mana mereka berhasil memanfaatkan satu divisi berisi 11.000 prajurit untuk mengikat sekitar 78.000 tentara Rusia dan memperlambat majunya Rusia di Ukraina timur, merupakan suatu ketermalukan bagi Putin. Ini menandai invasi militer pertama ke wilayah Rusia oleh angkatan bersenjata asing dalam beberapa dekade.
Pasukan Rusia pada akhirnya berhasil mendesak pasukan Ukraina keluar dari Kursk pada April 2025, dengan bantuan yang dilaporkan berasal dari ribuan tentara Korea Utara.