‘Dia Meninggalkan Raga’: Perjuangan Seorang Ibu Melawan Anoreksia Putrinya

Penyakit Dalila bermula sekitar setahun yang sebelumnya. Ia tak tahu mengapa mulai menolak makanan, hanya merasa mulai memandang dirinya dengan cara berbeda dan tak lagi mengenali tubuhnya sendiri. Berat badannya turun, ia menarik diri dari pertemanan dan acara sosial, serta menjadi kaku saat berurusan dengan makanan. Ia menolak makan bersama keluarga dan menghindari jam makan bersama. Terkadang ia tetap di luar, berkilah sudah makan dan mengirimkan foto makanan pada mereka.

Rita, suaminya Giuseppe (62), dan putra mereka Cristiano—yang dua tahun lebih muda dari Dalila—”merasa ketakutan.”

“Kami tak memahami apa yang terjadi,” jelas Rita. “Dan juga marah. Ia bersikap menghindar, nyaris tak hadir, menghilang berjam-jam.” Ada “ketegangan konstan” di rumah.

Pada Januari 2018, menyadari putrinya kritis dan butuh pertolongan segera, Rita membujuknya mengunjungi pusat layanan gangguan makan publik. Saat itu, Dalila—yang tingginya 160 cm—hanya berbobot 31 kg.

Pusat spesialis di Fermo, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan, awalnya mengarahkan Rita ke layanan yang lebih dekat dengan rumah keluarga saat ia menghubungi mereka. “Mereka tak mau menangani kasusnya. Aku duduk di ruang keluarga ini dan berkata pada mereka, ‘Akulah yang mati, atau dia yang mati. Silakan putuskan apa yang harus dilakukan,'” kenang Rita tentang keputusasaannya saat itu.

Diagnosis dari pusat tersebut akhirnya memberi mereka jalan keluar. “Saat mereka menyatakan itu anorexia nervosa, aku berpikir: ini adalah penyakit, bukan sekadar keinginan. Artinya ada kesembuhan,” ujar Rita.

Pusat tersebut menerapkan rencana makan ketat bagi Dalila dan memberinya janji temu rutin.

Pada awalnya, perjuangan adalah untuk membuatnya bertahan hidup—lalu membantunya membaik.

“Setiap bangun, hal pertama yang kulakukan ialah menyalakan perapian karena ia selalu kedinginan. Meski memakai banyak sweter, ia tetap menggigil. Lalu kusiapkan botol air panas untuknya,” gumam Rita, seraya memberikan senyum kecil pada putrinya.

MEMBACA  Belarus Menggelar Pemilihan, Namun Hasilnya Mudah Ditebak

Dalila bisa menghabiskan berjam-jam di bawah air hangat untuk menghangatkan diri, namun Rita tak pernah berkomentar tentang tagihan gas yang membengkak.

Dalila menyalakan sebatang rokok. “Tubuhku telah lenyap,” kenangnya.

“Ia menjadi begitu kurus sampai-sampai duduk di kursi pun terasa menyakitkan,” tambah Rita. “Aku harus memberi bantal di kursi agar ia tak kesakitan.”

Hari-hari keluarga Brancaccio sepenuhnya berkisar pada pengaturan makan, membeli makanan yang mau disantap Dalila, menghindari makanan yang masih ditolaknya, dan menjadwalkan kunjungan medis.

“Berbelanja adalah momen panik. Jika tak menemukan barang yang ia inginkan, seperti kue beras—karena hanya itulah yang ia makan—aku harus pergi jauh (30 menit berkendara) ke Ancona, karena hanya di sana, di kota, ada toko yang menjualnya,” jelas Rita.

“Kami pergi bekerja, sementara Dalila menghabiskan hari di rumah, meneliti makanan, kalori, teori, hidangan yang tak ia makan, dan resep daring. Ia mengkritik apa yang kami makan karena, menurutnya, itu tidak ‘benar’. Segalanya berkisar pada makanan,” ia mengenang.

Suatu kali di apotek, Rita teringat suaminya memeluk Dalila untuk melindunginya dari tatapan orang lain.

“Dalila seperti anak kecil lagi,” katanya. “Di malam hari, aku berbaring di sampingnya—bukan hanya untuk menghangatkannya, tapi juga untuk melindunginya dari dunia, dari pandangan orang, dari pertanyaan-pertanyaan mereka.”

Tinggalkan komentar