Sebagian besar biaya tidak dianggarkan, yang berarti Pentagon perlu segera mengajukan permintaan dana tambahan, menurut para peneliti.
Dengarkan artikel ini | 4 menit
info
Perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran diperkirakan telah menelan biaya sebesar $3,7 miliar bagi Washington hanya dalam 100 jam pertama, atau hampir $900 juta per hari. Hal ini terutama didorong oleh pengeluaran besar-besaran untuk amunisi, berdasarkan penelitian terbaru.
Analisis dari lembaga think tank yang berbasis di Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS), menggarisbawahi biaya perang yang sangat besar ini, yang memasuki hari ketujuh pada Jumat, seiring serangan AS ke Iran menggunakan pesawat pengebom siluman dan sistem senjata mutakhir.
Artikel Rekomendasi
list of 4 items
end of list
Para peneliti Mark Cancian dan Chris Park menyatakan hanya sebagian kecil dari perkiraan biaya perang sebesar $3,7 miliar dalam 100 jam pertama – atau $891,4 juta per hari – yang telah dianggarkan. Sementara itu, sebagian besar biaya – $3,5 miliar – tidak dialokasikan dalam anggaran.
Mereka mengatakan hal itu berarti Pentagon kemungkinan besar perlu segera meminta pendanaan tambahan untuk menutupi biaya yang tak teranggarkan tersebut. Langkah ini diprediksi akan menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump dan menjadi “fokus penentangan terhadap perang.”
Kekhawatiran domestik tentang biaya hidup, inflasi, dan kini efek lanjutan dari kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik kemungkinan akan semakin mengurangi dukungan warga AS terhadap perang. Hal ini juga memecah basis pendukung “America First” Trump, yang dijanjikannya dalam kampanye kepresidenan untuk tidak terlibat dalam “perang asing.”
Dengan mencatat bahwa Departemen Pertahanan AS telah merilis keterangan terbatas mengenai operasinya, para peneliti menyatakan analisis mereka merujuk pada perkiraan Congressional Budget Office (CBO) tentang biaya operasi dan dukungan per unit, disesuaikan dengan inflasi dan ukuran unit, serta ditambah 10 persen untuk biaya “tempo operasional yang lebih tinggi.”
Analisis mereka menyebutkan AS telah menghabiskan lebih dari 2.000 amunisi berbagai jenis dalam 100 jam pertama perang, dan memperkirakan biaya $3,1 miliar diperlukan untuk mengisi ulang persediaan amunisi tersebut, dengan biaya bertambah $758,1 juta per hari.
Biaya Tak Teranggarkan ‘Sangat Besar’
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa pemboman AS ke Iran “akan melonjak secara dramatis,” yang melibatkan “lebih banyak skuadron pesawat tempur … lebih banyak kemampuan pertahanan” dan “lebih banyak serangan bomber dengan frekuensi yang meningkat.”
Penulis laporan tersebut mengatakan bahwa meskipun kampanye udara biasanya bergerak ke tempo yang kurang frenetik setelah periode awal konflik yang intens, “namun, biaya tak teranggarkan di sini akan sangat substansial.”
Mereka menyatakan situasi ini berbeda dengan operasi AS baru-baru ini yang mengakibatkan penculikan Nicolas Maduro dari Venezuela, di mana sebagian besar biaya telah ada dalam anggaran.
“Itu berarti [Departemen Pertahanan] akan memerlukan dana tambahhan di suatu titik karena tingkat pemotongan anggaran yang diperlukan untuk mendanai konflik ini secara internal kemungkinan akan sulit secara politik dan operasional,” bunyi laporan itu.
Laporan itu menyebutkan pemerintahan Trump mungkin memutuskan untuk meminta anggaran tambahan untuk menutupi perang dan pengeluaran tak terduga lainnya di seluruh pemerintah, seperti yang dilakukan pemerintahan George W. Bush pada awal perang di Irak dan Afganistan.
“Tantangan politik bagi pemerintahan adalah bahwa setiap tindakan pendanaan akan menjadi fokus penentangan terhadap perang,” tulis laporan tersebut.
Korban Jiwa
Sudah terdapat korban jiwa yang sangat besar akibat perang ini.
Lebih dari 1.332 orang tewas di Iran sejauh ini sejak pemboman AS dan Israel dimulai pada Sabtu, menurut Palang Merah Iran. UNICEF menyebutkan setidaknya 181 anak dipercaya berada di antara korban tewas.
Di Lebanon, korban tewas akibat serangan Israel pekan ini telah meningkat menjadi setidaknya 123 orang, menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, seiring gelombang baru serangan mengguncang negara itu, yang menjadi salah satu front terganas dalam perang yang lebih luas.
Setidaknya enam prajurit AS telah tewas dalam konflik ini, sementara 11 orang di Israel juga meninggal. Sejauh ini tercatat sembilan kematian di negara-negara Arab Teluk.