David dan Ally belum menerima konfirmasi resmi dari pihak berwenang bahwa Marcus adalah salah satu bayi yang diduga diperdagangkan. Namun, BBC menemukan bukti jelas yang telah dibagikan kepada pasangan itu.
Saat menelusuri dokumen pengadilan, kami menemukan nama lengkap Marcus dalam bahasa Indonesia tercatat sebagai salah satu bayi yang diduga menjadi korban perdagangan.
Seorang wanita yang sedang diadili, dituduh secara palsu mengaku sebagai ibu kandung dari beberapa bayi tersebut, dan namanya tercantum sebagai ibu Marcus di dokumen adopsi Indonesianya.
Secara terpisah, Interpol cabang Indonesia telah mengidentifikasi agen adopsi Singapura yang menangani bayi-bayi itu. Agen tersebut sama yang menawarkan Marcus kepada David dan Ally.
Agensi itu masih tercatat sebagai bisnis aktif di Singapura. BBC mencoba menghubungi pemiliknya tetapi belum mendapat respons.
Kementerian Dalam Negeri Singapura menolak menjawab pertanyaan BBC soal apakah mereka menyelidiki agensi itu dan dugaan rekan Lie Siu Luan di Singapura, dengan alasan proses pengadilan Indonesia masih berlangsung.
Kementerian itu merujuk BBC pada pernyataan sebelumnya, di mana mereka bersama Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga mengatakan sedang bekerja sama dengan pihak Indonesia untuk membantu penyelidikan.
Sejak kasus ini mencuat, para anggota parlemen berulang kali menanyakannya di sidang.
Salah satu anggota menunjukkan bahwa adopsi anak-anak itu telah disetujui berdasarkan rekomendasi pejabat pemerintah, dan bahwa orang tua angkat “adalah pihak yang tak bersalah karena telah mengikuti langkah sesuai hukum.”
Namun, Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga berargumen bahwa agensi adopsi bertanggung jawab memastikan bayi mereka berasal dari “sumber yang tepat” dan wajib melakukan verifikasi ketat, serta orang tua angkat juga harus melakukan penelusuran mandiri.
David dan Ally mengatakan bahwa kemungkinan Marcus diperdagangkan tak pernah terlintas di benak merekapun. Mereka bilang sudah berusaha keras melakukan pengecekan sendiri tetapi terbatas karena minim pengetahuan. Lagipula, ini pertama kalinya mereka mengadopsi anak.
Pasangan itu berpendapat bahwa tanggung jawab ada pada pemerintah Singapura, karena pejabatnya telah melakukan pemeriksaan ketat pada mereka selama proses persetujuan adopsi Marcus.
“Mereka para ahli dalam hal ini untuk menilai apakah praktik ini sah. Mereka menangani begitu banyak adopsi hari demi hari, bukan kami,” ujar Ally.
Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga enggan menjawab pertanyaan BBC tentang apakah mereka melakukan pemeriksaan terhadap bayi yang masuk ke Singapura serta bagaimana biasanya mereka memeriksa adopsi anak asing.
Mereka rujuk pada pernyataan sebelumnya yang menyatakan memberikan dukungan kepada orang tua yang terdampak dan ada “sedikit penundaan” dalam pemrosesan aplikasi kewarganegaraan untuk anak-anak mereka. Kementerian itu juga berjanji akan melakukan peninjauan terhadap proses adopsi.