SABC
Carolina Cecilia Chirindza dan Rosita dievakuasi dengan selamat oleh helikopter Afrika Selatan yang membantu operasi pemulihan.
Dia sempat dilihat sebagai “bayi ajaib” setelah lahir di pohon yang dinaiki ibunya untuk menyelamatkan diri dari banjir, namun hampir 26 tahun kemudian, Rosita Salvador Mabuiango asal Mozambik telah meninggal dunia setelah lama menderita sakit, demikian disampaikan kakaknya kepada BBC.
Pemandangan sang bayi baru lahir dan ibunya yang diangkat ke tempat aman oleh helikopter di tengah landscape yang terendam, menjadi salah satu gambar ikonik dari banjir Mozambik tahun 2000 – yang terparah sepanjang sejarah negara itu.
Merenungkan kehidupan Rosita, Presiden Daniel Chapo mendeskripsikannya sebagai simbol bagi anak-anak perempuan di negara tersebut.
Pada Februari 2000, ratusan jiwa tewas dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi setelah Sungai Limpopo meluap di Mozambik bagian selatan.
**SABC**
Kamera televisi berhasil mengabadikan gambar-gambar pertama Rosita.
Ibu Rosita, Carolina Cecilia Chirindza, adalah salah satu korban yang terjebak dalam krisis itu.
“Waktu itu hari Minggu sore sekitar pukul empat, dan air mulai naik,” kata Palang Merah yang mengutip penuturannya kemudian di tahun 2000.
“Air datang langsung ke rumah, dan semakin kuat, jadi seperti warga lain di desa, kami menuju ke pohon-pohon.”
“Saya menggendong dua anak kecil saya di punggung dan mencoba memanjat. Sangat sulit.”
“Kami berlima belas orang semuanya, dan kami berada di sana selama empat hari. Kami terus berdoa.”
“Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan, dan anak-anak terus menangis, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.”
Pada dini hari Rabu, Carolina mengalami kontraksi dan tak lama kemudian, ia serta bayinya yang baru lahir terlihat oleh helikopter militer Afrika Selatan yang tengah membantu operasi penyelamatan.
Keduanya menjadi simbol dari pasca-bencana tersebut, dan mereka berkunjung ke AS pada tahun 2000 untuk berbicara di depan Kongres dan membantu meningkatkan kesadaran tentang apa yang telah terjadi.
**AFP via Getty Images**
Carolina dan Rosita difoto di Washington pada Juli 2000 selama kunjungan singkat mereka ke sana.
Pada hari Senin, mengonfirmasi kabar meninggalnya Rosita di usia 25, kakaknya Celia Salvador mengatakan kepada BBC bahwa Rosita “meninggal setelah sakit yang berkepanjangan. Saya sangat sedih. Dia meninggal karena sakit yang saya tidak bisa jelaskan secara pasti.”
Menurut sumber keluarga lainnya, Rosita telah bertahun-tahun melawan kelainan darah anemia. Akibat memburuknya kondisinya, ia telah dirawat di rumah sakit selama lebih dari dua minggu, dan akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Senin pagi.
“Ya Tuhan. Kabar yang sangat buruk. Turut berduka cita bagi keluarga yang berduka,” kata Presiden kepada BBC.
“Dia adalah simbol bagi anak-anak perempuan di Mozambik. Karena itulah, saya menyampaikan belasungkawa kepada seluruh rakyat Mozambik, khususnya kepada para perempuan Mozambik.”
Rosita tumbuh besar bersama keluarganya dan lulus sekolah menengah di daerah pedesaan yang sama – Chibuto – tempat ia dilahirkan. Dia sendiri telah memiliki seorang putri lima tahun silam.
Analis politik Charles Mangwiro menggambarkan kematiannya sebagai “panggilan bangkit bagi pemerintah untuk meningkatkan pelayanan di seluruh sistem kesehatan negara. Anda tidak bisa berharap untuk bertahan hidup ketika para profesional kesehatan mengeluh setiap hari tentang gaji yang tidak dibayar selama berbulan-bulan dan tentang kelangkaan barang-barang esensial seperti bahan pelindung dan antibiotik.”
Meski telah merekrut lebih banyak tenaga kesehatan dalam tahun-tahun belakangan, para analis tetap menggambarkan sistem kesehatan yang kelebihan beban serta kekurangan obat-obatan dan peralatan dasar.
Wali Kota Chibuto Henriques Machava mengatakan kepada pers bahwa pembicaraan sedang berlangsung dengan keluarga untuk memformalkan pengaturan pemakaman, yang menurutnya, akan ditangani oleh pemerintah kotamadya.
**Lebih lanjut tentang Mozambik dari BBC:**
**Getty Images/BBC**