Artikel Berita Ekonomi dan Bisnis: Krisis Biaya Hidup Ubah Pola Belanja Lebaran di Nigeria

Abuja, Nigeria – Duduk di kursi plastik di dalam madrasahnya yang sederhana di Abuja, Yunus Akanji mendengar anak-anak melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan irama lembut dan ritmis. Beberapa duduk di atas tikar, yang lain di bangku kayu panjang.

Guru agama Islam itu sesekali membetulkan pelafalan atau mengulangi baris ayat, namun perhatiannya mulai mengembara.

Selama bertahun-tahun, Akanji, yang mengajar di Sekolah Islam Nurul Bayan, bepergian bersama istri dan anak-anaknya ke Saki di Negara Bagian Oyo untuk berkumpul dengan keluarga besarnya saat Idul Adha, atau yang sering disebut Sallah di Nigeria.

Ketika dirinya tidak bisa pulang, ia akan membeli kambing kurban dan mengadakan perayaan sederhana bersama keluarga dan murid-muridnya.

Tahun ini, salah satu pun tidak terjadi.

Yunus Akanji, seorang tutor agama Islam di Sekolah Islam Nurul Bayan, membimbing murid-muridnya saat mengaji (Hussain Wahab/Al Jazeera).

“Saya telah memutuskan bahwa kami hanya akan merayakannya dengan apa yang kami miliki,” tuturnya kepada Al Jazeera.

Perayaan tahunan umat Muslim ini, yang ditandai dengan salat berjamaah dan penyembelihan hewan kurban secara ritual, semakin dekat di tengah tekanan ekonomi yang mendalam di Nigeria.

Di Abuja, kenaikan biaya pangan dan tranportasi secara diam-diam mengubah cara banyak keluarga bersiap merayakan Idul Fitri mereka — bukan Idul Fitri, maksudnya Idul Adha. Biaya sudah sangat tinggi.

Tidak mudik

Akanji mengatakan bahkan orang tua dan anggota komunitas yang biasanya menyokong madrasahnya kini juga sedang berjuang secara ekonomi.

“Kebanyakan dari mereka bahkan belum bayar,” katanya, mengacu pada uang SPP yang membantu pembiayaan sekolah dan rumah tangganya.

Tekanan ekonomi tidaklah terbatas pada ruang kelas. Ini dapat disimak di terminal bus, di pasar, dan dalam hitung-hitungan kecil yang orang bikin sebelum memutuskan untuk mudik atau bertahan di tempat.

MEMBACA  Target harga saham Verizon dinaikkan berdasarkan pertumbuhan dan efisiensi oleh Investing.com

Nafisa Ibrahim dari Ogun, yang kini berada di Abuja menajalani program satu tahun wajib bagi lulusan universitas di bawah Korps Layanan Pemuda Nasional, mengatakan bahwa ia sudah mengurungkan rencananya pulang untuk Lebaran. Biaya transportasi sudah terlalu keencer buat kantong.

Tak ada jaminan juga bahwa keluatganya tahun ini sanggup menyembelih seekor hewan kurban.

“Transportasi harganya sekitar 35.000 naira — atau sebetarya sekitar $26 — berarti,” jelasnya. Bandingkan di Februari saya cuma bayar 15.000 ($ 11 dolar? Okeelah.” jawabnya tegas– “Oiya ayant rONoer … “Nilai “ tambah ibuk sanaN.

‘Maaf ada failty saja tinggal sekadarnya BiOsaya ulAn so dapat di&Nask, Oombet di cet}

Tinggalkan komentar