LEDAKAN BOM DI TENGAH DAMASKUS, ENAM TEWAS
Sebuah bom meledak di sebuah kafe ramai di pusat Kota Damaskus pada Kamis lalu. Setidaknya enam orang tewas dan 22 lainnya luka-luka. Ledakan ini dianggap sebagai celah keamanan besar di jantung ibu kota Suriah. Namun, para analis bilang ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena banyaknya musuh dari pemerintahan baru Suriah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ledakan terjadi di sebuah kafe terkenal di Jalan Al-Nasr, kawasan al-Hijaz, Damaskus. Lokasinya hanya sekitar 100 meter dari pintu masuk utama Istana Kehakiman.
Sumber keamanan memberi tahu Al Jazeera bahwa seseorang masuk ke kafe, meletakkan bom rakitan (IED) di bawah meja, lalu meninggalkan tempat itu. Diduga, orang itu berniat menuju gedung pengadilan untuk melakukan serangan lagi.
Segera setelah ledakan, Komandan Keamanan Dalam Negeri Damaskus, Osama Atika, bersama petugas Kementerian Dalam Negeri tiba di lokasi untuk menyelidiki.
Menurut wartawan Al Jazeera, Obaida Hitto, yang melapor dari lokasi kafe itu ramai dikunjungi pengacara, pegawai pengadilan, dan pengunjung. "Karena tempatnya ramai, jumlah korbannya tinggi," katanya.
Pejabat setempat sudah memperingatkan banyak korban luka yang dirawat di Rumah Sakit Al-Mouwasa mengalami cedera parah. Jadi, jumlah korban tewas bisa bertambah.
Siapa dalang di balik bom ini?
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Namun, Gubernur Damaskus, Maher Marwan, mengatakan bahwa "aktor jahat" berusaha membuat negara ini tidak stabil.
"Jam-jam ke depan akan mengungkap semuanya. Mereka yang menumpahkan darah warga Suriah akan membayar, tapi Suriah akan baik-baik saja selama kita bersatu. Ini tidak akan mengguncang negara Suriah," kata gubernur di tangga gedung pengadilan.
Para analis menunjuk pada elemen yang menentang transisi Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Istana Kehakiman sendiri saat ini mengadili tokoh-tokoh penting dari pemerintahan sebelumnya. Di antaranya adalah Atef Najib, mantan kepala keamanan yang terkenal kejam karena menyiksa anak sekolah di Deraa pada 2011, yang memicu perlawanan nasional. Komandan milisi Wassim al-Assad dan mantan Mufti Besar Ahmad Badreddin Hassun juga baru-baru ini diadili di gedung yang sama.
Analis politik Kamal Abdo, berbicara dengan Al Jazeera dari Idlib, mengatakan ada kemarahan di kalangan sisa-sisa pemerintahan lama soal pengadilan-pengadilan ini.
Abdo bilang, hingga 10.000 orang yang terkait dengan pemerintahan lama masih berkeliaran. Mereka termasuk mantan perwira militer, petinggi Partai Ba’ats, sisa-sisa milisi Shabiha, dan personel intelijen. Kata Abdo, mereka punya "pengalaman panjang dalam menjalankan operasi semacam ini".
Bisakah negara mengatasi ancaman ini?
Ledakan Kamis lalu ini menyusul sederetan celah keamanan baru-baru ini. Termasuk bom mobil pada 19 Mei lalu di dekat pusat perlengkapan senjata di Bab Sharqi yang menewaskan seorang tentara dan melukai 18 orang. Lalu ada pamboman pada 22 Juni yang menyasar Gereja Mar Elias di Dwelaa, dan diklaim oleh kelompok bersenjata ISIL (ISIS).
Gubernur Damaskus mengakui, "Negara Suriah akan butuh waktu untuk mencapai stabilitas." Ia menegaskan Kementerian Dalam Negeri sudah membuat "perbaikan yang nyata" dalam hal keamanan sejak runtuhnya pemerintah lama.
"Ia yakin hari demi hari mereka akan menangkap orang-orang yang merusak keamanan Suriah. Semakin stabil Suriah, semakin banyak orang yang ingin merusakirya," katanya.
Analis Abdo menilai, administrasi baru sudah terbukti "sangat efektif, bahkan di luar perkiraan, dalam menegakkan keamanan". Tapi ia memperingatkan bahwa Suriah masih menghadapi "tugas keamanan yang sangat besar" untuk menangkal serangan serupa dari aktor-aktor jahat lainnya yang berusaha mengguncang negeri ini.