Warren Buffett Pernah Akui Jual Saham McDonald’s adalah “Kesalahan Besar”. Kini, Nilainya Lebih dari $10 Miliar.

Walau sudah jadi miliarder, Warren Buffett lama dikenal karena kebiasaan hematnya—dimulai dari sarapan. Dalam perjalan ke kantor, Buffett biasa mampir ke McDonald’s dan membiarkan kondisi pasar saham menentukan pesanannya. Kalau pasar lagi turun, dia akan beli dua sosis patty seharga $2.61. Kalau lagi merasa beruntung, dia akan belanja lebih untuk bacon, telur, dan biskuit keju seharga $3.17, menurut film dokumenter HBO tahun 2017.

Tapi hubungan Buffett dengan Golden Arches lebih dari sekadar makanan sarapan. Di akhir tahun 1996, Berkshire Hathaway punya sekitar 30.4 juta saham McDonald’s—setara 4.3% kepemilikan senilai kira-kira $1.4 miliar.

Kurang dari dua tahun kemudian, Buffett putuskan untuk jual. Dan di suratnya ke pemegang saham tahun 1998, Buffett akui keputusan itu akhirnya tidak bijak.

“Tindakan portofolio yang saya ambil di 1998 justru mengurangi keuntungan kita untuk tahun itu,” tulis Buffett.

“Terutama, keputusan saya untuk jual saham McDonald’s adalah kesalahan yang sangat besar. Secara keseluruhan, kamu akan lebih untung tahun lalu kalau saya bolos ke bioskop pas jam pasar buka.”

Waktunya, kalau dilihat sekarang, ternyata menyakitkan. Hanya beberapa tahun kemudian, McDonald’s masuk periode kinerja bagus yang lama; sejak 2003, saham McDonald’s hanya dua kali berakhir tahun dengan warna merah—dengan banyak tahun tumbuh dua digit persen. Hari ini harga sahamnya sekitar $341, dan kalau Buffett tetap pegang, saham Berkshire akan bernilai kira-kira $10.3 miliar, tidak termasuk dividen.

Nasihat Warren Buffett dan Charlie Munger untuk calon investor: Tahanlah—tapi belajar dari kesalahan

Meskipun ada kesalahan dengan McDonald’s, Buffett lama ajarkan kesabaran sebagai dasar berinvestasi yang sukses.

“Kalau kamu tidak mau pegang saham selama 10 tahun, jangan pikirkan untuk pegang 10 menit saja,” tulisnya di tahun 1996. “Buat portofolio perusahaan yang pendapatannya naik terus dari tahun ke tahun, dan nilai pasar portofolio juga akan naik.”

MEMBACA  Ingin Portofolio Investasi Rp30 Miliar Hanya dengan Usaha Minimal? Simak Setoran Bulanan yang Diperlukan.

Tapi menerapkan filosofi itu di dunia nyata tidak selalu mudah. Buffett akui investasi bukan cuma soal tahan lama—tapi juga soal menemukan peluang besar lebih awal. Bertahun-tahun, dia hindari investasi di raksasa teknologi baru seperti Amazon—penundaan ini, katanya nanti, “membuat orang di Berkshire kehilangan banyak uang.”

Kalau dipikir kembali, dia bilang, “Saya tidak kira [pendiri Jeff Bezos] bisa sukses sebesar sekarang. Saya meremehkan kehebatan pelaksanaannya.”

Ini adalah tema yang sering diulang oleh orang kepercayaan Buffett, almarhum Charlie Munger.

“Kita bukan orang yang paling ideal untuk jadi ahli teknologi tinggi,” kata Munger di rapat pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway 2018. “Berapa banyak orang seusia kita yang cepat menguasai Google? Saya pernah ke kantor pusat Google. Buat saya, itu seperti tempat taman kanak-kanak.”

Dan walaupun Berkshire Hathaway mungkin kehilangan miliaran lebih karena tidak beli saham awal perusahaan seperti Google atau Amazon, Munger anjurkan orang lain untuk tetap rendah hati dalam karir investasinya.

“Kalau kamu akan hidup lama, kamu harus terus belajar—apa yang kamu dulu tahu tidak akan pernah cukup,” tambah Munger. “Jadi kalau kamu tidak belajar untuk terus memperbaiki kesimpulanmu sebelumnya, dan dapatkan yang lebih baik, kamu—saya selalu pakai perumpamaan sama—kamu seperti orang berkaki satu di kontes tendangan pantat.”

Buat Buffett dan Munger, penjualan saham McDonald’s di akhir 1990-an bukan cuma keuntungan yang terlewat—itu pengingat bahwa bahkan investor paling disiplin harus terus menilai ulang keputusannya dan harus mau mengakui ketika mereka buat kesalahan.

Tinggalkan komentar