Formula film romantis-komedi ini sekarang sudah jadi hal biasa di acara TV liburan: seorang profesional sibuk dari kota besar pulang kampung untuk Natal dan jatuh cinta pada pria lokal, setelah sadar pacarnya sekarang bukan jodoh sejati.
Menurut Martha Gimbel, direktur eksekutif Yale Budget Lab, cerita klise ini juga bisa menggambarkan perasaan pasar obligasi tentang utang AS.
Dalam sidang Senat minggu ini, dia ditanya apa yang bisa picu krisis utang dan mengapa belum terjadi meski pinjaman meledak akhir-akhir ini. Gimbel jawab itu masalah penawaran dan permintaan dasar. Investor memilih opsi yang lebih mudah, meski tak penuhi semua kebutuhan mereka—mereka saat ini memang tak punya pilihan lebih baik, tapi itu mungkin berubah.
“Cara saya melihatnya, kita saat ini seperti pacar di awal film Hallmark, di kota besar, di mana pacarnya masih tetap bersama dia meski tahu itu salah,” jelasnya. “Tapi nanti, dia akan pulang ke kota kecil, temukan pemadam kebakaran yang baik, dan sadar ada pilihan lain.”
Untuk sekarang, seperti dijelaskan Gimbel, investor puas dengan keadaan saat ini. Tapi tinggal menunggu waktu sebelum kita mencapai momen ‘Sleepless in Stagflation’ dan investor temukan opsi lebih baik. Seperti calon kekasih yang membesar-besarkan ukuran hatinya, utang pemerintah AS sudah sangat besar—sudah sebesar PDB AS, dan akan lampaui rekor setelah Perang Dunia II dalam tahun mendatang. Utang itu akan terus naik tanpa tanda berhenti, karena generasi baby boomer yang pensiun tingkatkan pengeluaran tunjangan.
Seperti profesional sukses yang berkunjung ke kota kecil, obligasi treasury masih sangat diminati, terutama sebagai aset safe-haven untuk saat ini, meski ada banyak gejolak dari Presiden Donald Trump belakangan ini. Pasar utang AS tetaplah yang terbesar dan paling likuid, didukung status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
Meski Gimbel bilang dia tidak tahu kapan utang AS akan jadi tidak disukai, zona euro telah berusaha buat utangnya lebih menarik bagi investor.
Eropa adalah pemegang utama utang AS, jadi perpindahan dari Treasury bisa perburuk pandangan dengan naikkan yield dan tambah biaya pinjaman.
Di tahun 2021, Eropa luncurkan program peminjaman Next Generation EU yang dibiayai lewat penerbitan utang bersama. Meski dimaksudkan sebagai program stimulus era pandemi, langkah terobosan ini dilihat bisa tingkatkan status euro sebagai aset cadangan.
Memang, negara lain juga punya aset safe haven, termasuk Jerman dan Skandinavia. Tapi secara individual, pasar utang dan mata uang mereka tidak cukup besar untuk penuhi kebutuhan keuangan global.
Gimbel tunjukkan bahwa investor akhir-akhir ini berbondong-bondong ke Swiss, dan tambah bahwa AS beruntung karena pasar keuangan Swiss tidak bisa serap begitu banyak modal.
Dibantu tingkat utang yang rendah dan reputasi sebagai pusat keuangan aman, Swiss lama dianggap sebagai safe haven. Ini buat franc Swiss melonjak 12.7% terhadap dolar tahun lalu saat perang dagang Trump guncang pasar. Nilainya naik lagi tahun ini setelah Trump ancam ambil Greenland dari Denmark.
Perang dengan Iran bisa perburuk pandangan utang AS karena tambahan pengeluaran militer tambah defisit, sementara yield obligasi yang lebih tinggi akibat inflasi dari minyak artinya biaya bunga yang lebih besar.
“Semakin kita buat diri kita kurang menarik bagi pasar, semakin besar kemungkinan krisis fiskal terjadi,” peringat Gimbel. “Kita sebenarnya mengandalkan fakta bahwa pasar tidak punya tempat lain untuk pergi.”