Sekarang pemilu paruh waktu 2026 tinggal kurang dari satu tahun lagi, minat publik tentang situasi sekarang mulai meningkat. Tentu saja, dalam demokrasi, tidak ada yang tau hasil pemilu sebelum terjadi, meskipun ada prediksi dari para ahli survei.
Namun, biasa bagi para komentator dan warga untuk melihat pemilu lama untuk belajar tentang apa yang mungkin datang di masa depan.
Pelajaran sejarah dari pemilu paruh waktu kongres modern tidak menguntungkan untuk Partai Republik saat ini.
Kebanyakan murid yang saya ajar di kelas pemerintahan Amerika selama lebih dari 40 tahun tau bahwa partai yang menguasai Gedung Putih mungkin akan alami kemunduran di pemilu paruh waktu. Mereka biasanya tidak tau betapa kuat dan tetap pola itu.
Sejak 1946, sudah ada 20 pemilu paruh waktu. Di 18 di antaranya, partai presiden kehilangan kursi di DPR. Itu 90% dari pemilu paruh waktu dalam 80 tahun terakhir.
Dilihat dari pola itu, kemungkinan Partai Republik mempertahankan mayoritas tipis mereka di DPR pada 2026 sangat kecil. Faktor lain membuatnya lebih kecil. Ketika presiden petahana memiliki persetujuan pekerjaan di bawah 50% dalam survei, kemungkinan hasil pemilu paruh waktu yang buruk menjadi pasti. Semua presiden sejak Harry S. Truman yang persetujuannya di bawah 50% pada bulan sebelum pemilu paruh waktu kehilangan kursi di DPR. Semuanya.
Bahkan presiden populer – Dwight D. Eisenhower, di kedua masa jabatannya; John F. Kennedy; Richard Nixon; Gerald Ford; Ronald Reagan pada 1986; dan George H. W. Bush – kehilangan kursi di pemilu paruh waktu.
Daftar presiden tidak populer yang kehilangan kursi DPR bahkan lebih panjang – Truman pada 1946 dan 1950, Lyndon B. Johnson pada 1966, Jimmy Carter pada 1978, Reagan pada 1982, Bill Clinton pada 1994, George W. Bush pada 2006, Barack Obama pada 2010 dan 2014, Donald Trump pada 2018 dan Joe Biden pada 2022.
Pengecualian sangat jarang
Hanya ada dua kasus dalam 80 tahun terakhir di mana partai dari presiden petahana menang kursi di DPR pada pemilu paruh waktu. Keduanya melibatkan keadaan khusus.
Pada 1998, Clinton di tahun keenam kepresidenannya dan memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang bagus, suku bunga turun dan pengangguran rendah. Peringkat persetujuannya rata-rata, menurut Gallup, di masa jabatan kedua adalah 60.6%, rata-rata tertinggi yang dicapai oleh presiden masa jabatan kedua mana pun dari Truman ke Biden.
Selain itu, pemilu paruh waktu 1998 terjadi di tengah proses impeachment Clinton, ketika kebanyakan orang Amerika kritis terhadap perilaku pribadi presiden dan yakin perilaku itu tidak pantas untuk dipecat. Metrik ekonomi bagus dan kekhawatiran luas bahwa para Republikan yang memimpin impeachment berlebihan menyebabkan keuntungan kecil untuk Demokrat di pemilu paruh waktu 1998. Demokrat mendapatkan lima kursi tambahan di DPR.
Pengecualian lain dari aturan praktis bahwa presiden mengalami kerugian di pemilu paruh waktu adalah George W. Bush pada 2002. Bush, yang terpilih tipis pada 2000, mengalami kenaikan popularitas dramatis setelah serangan 11 September ke World Trade Center dan Pentagon. Negara bersatu di sekitar bendera dan presiden, dan Partai Republik memenangkan delapan kursi DPR di pemilu paruh waktu 2002.
Itu adalah kasus langka ketika presiden petahana yang populer mendapatkan hasil positif di DPR dalam pemilu paruh waktu. Dan hasil positifnya kecil.
Perhitungan akhir – dan ketat – dari suara DPR atas RUU pajak Presiden Donald Trump pada 3 Juli 2025. Alex Wroblewski / AFP via Getty Images
Pemilu paruh waktu penting
Dalam 20 pemilu paruh waktu antara 1946 dan 2022, perubahan kecil di DPR – pergeseran kurang dari 10 kursi – terjadi enam kali. Perubahan sedang – antara 11 dan 39 kursi – terjadi tujuh kali. Perubahan besar, yang disebut “pemilu gelombang” dengan lebih dari 40 kursi, terjadi tujuh kali.
Di setiap pemilu paruh waktu sejak 1946, setidaknya lima kursi berpindah dari satu partai ke partai lain. Jika hasil bersih pemilu paruh waktu 2026 memindahkan lima kursi dari Republik ke Demokrat, itu cukup untuk membuat Demokrat jadi mayoritas di DPR.
Di era pemilihan ketat dan margin sempit di Capitol Hill, pemilu paruh waktu membuat perbedaan. Lima presiden terakhir – Clinton, Bush, Obama, Trump dan Biden – memulai jabatan dengan partai mereka menguasai kedua kamar Kongres. Kelima nya kehilangan mayoritas partai mereka di DPR atau Senat dalam dua tahun pertama mereka menjabat.
Apakah itu akan terjadi lagi di 2026?
Prediksi yang jelas adalah iya. Tapi tidak ada yang pasti dalam politik. Dari sekarang hingga November 2026, redistrik akan mengubah batas dari sejumlah distrik kongres yang belum ditentukan. Itu bisa membuat prediksi hasil 2026 lebih sulit.
Peristiwa tak terduga, atau kinerja bagus dalam jabatan, bisa membuat angka persetujuan pekerjaan Trump naik di atas 50%. Republik masih mungkin kehilangan kursi DPR di pemilu paruh waktu 2026, tapi presiden yang populer akan meningkatkan peluang mereka untuk mempertahankan mayoritas sempit mereka.
Dan ada kemungkinan lain. Mungkin 2026 akan melibatkan isu-isu seperti dalam pemilu presiden baru-baru ini.
Hasil ketat bisa diikuti dengan penghitungan ulang yang ribut dan kontroversi pengadilan seperti yang membuat Florida jadi titik fokus di pemilu presiden 2000. Tantangan publik terhadap penghitungan dan prosedur pemungutan suara, seperti yang terjadi setelah klaim kemenangan Trump yang tidak berdasar pada 2020, akan memperburuk keadaan.
Pemilu paruh waktu yang akan datang mungkin tidak seperti yang terlihat dalam siklus pemilu kongres baru-baru ini.
Demokrasi tidak pernah mudah, dan pemilu lebih penting dari sebelumnya. Memeriksa pola yang sudah lama ada dalam kinerja partai di pemilu paruh waktu membuat warga jelas tentang apa yang mungkin terjadi di pemilu kongres 2026. Berpikir ke depan tentang tantangan tidak biasa yang mungkin muncul dalam kontes ketat dan penting membuat semua orang lebih siap untuk kerja keras mempertahankan republik demokratis yang sehat.
Robert A. Strong, Senior Fellow, Miller Center, University of Virginia
Artikel ini diterbitkan ulang dari The Conversation di bawah lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya.