Saran Kepemimpinan Terbaik dari CEO Pfizer Albert Bourla: Bersikap Optimis Lebih Baik Daripada Menjadi Benar

Albert Bourla adalah CEO di Pfizer. Dia pimpin tim yang buat terobosan besar di dunia medis: vaksin COVID-19 yang selamatkan jutaan nyawa.

Tapi cara pikirnya dalam memimpin perusahaan farmasi raksasa senilai hampir $150 miliar ini bukan cuma soal sains atau strategi. Ini juga soal psikologi—khususnya, menyeimbangkan optimis dan realis.

“Yang optimis punya visi,” kata Bourla di podcast Fortune 500: Titans and Disruptors of Industry. “Yang pesimis bawa kita ke realita dan bantu hindari jebakan.”

Jadi, bagi dirinya, optimis dan pesimis itu bukan hal yang bertentangan, tapi saling melengkapi—masing-masing punya peran penting dalam kepemimpinan yang efektif.

“Orang pesimis biasanya benar,” katanya kepada Pemred Fortune, Alyson Shontell. “Tapi tidak ada pencapaian besar di dunia ini yang terjadi tanpa ada seorang optimis di belakangnya.”

Perbedaannya, menurutnya, ada di pengaruh. Benar saja tidak sama dengan bisa menyatukan orang.

“Kita semua senang ada orang pesimis di sekitar, tapi tidak ada yang mengikuti mereka. Mungkin orang mendengarkan mereka, tapi pesimis tidak punya pengikut. Semua orang mengikuti orang optimis. Dialah yang bisa menginspirasi.”

Rumusnya untuk sukses memimpin sederhana: Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang membumikanmu—tapi jadilah orang yang membawa obor saat paling dibutuhkan.

“Mau jadi pemimpin yang sukses? Bawa tim di sekitarmu yang membuatmu tetap realistis—tapi jadilah si optimis.”

Sikap optimis Bourla berasal dari ibunya, yang selamat dari Holocaust

Bourla lahir di Thessaloniki, Yunani, dari keluarga Yahudi kelas menengah. Kedua orang tuanya selamat dari Holocaust, yang menewaskan enam juta orang Yahudi di seluruh dunia dan lebih dari 80% populasi Yahudi Yunani sebelum perang.

“Saya besar di kota yang dulu punya 55.000 orang Yahudi saat orang tua saya kecil,” kenangnya. “Hanya tersisa 700 orang saat saya besar. Jadi hampir semua musnah, dan itu jelas meninggalkan bekas bagi komunitas Yahudi di Thessaloniki, kota asal saya.”

MEMBACA  Harga Minyak Diprediksi Melonjak setelah Serangan AS ke Iran

Suatu saat, ibunya hampir saja dieksekusi, sebelum nyawanya diselamatkan. Dan dari ibunya, ia dapat pelajaran pertama tentang optimisme.

“Dari ibu, saya dapat lebih banyak dorongan kepribadiannya,” kata Bourla. “Dia adalah orang yang sangat optimis dalam hidup. Dia berpikir setiap hambatan adalah peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, dan dia yakin tidak ada yang tidak mungkin.”

Perjalanan 30 tahun Bourla naik pangkat di Pfizer hingga ke posisi puncak

Selain latar belakang keluarganya, tempat-tempat yang ia kunjungi dalam kariernya membantu membentuk gaya kepemimpinannya—dan menuntun kesuksesannya.

Setelah jadi dokter hewan, dia selesaikan PhD di bidang bioteknologi reproduksi. Tahun 1993, ia bergabung dengan Pfizer—di mana ia akan menghabiskan lebih dari tiga dekade naik jabatan.

Posisi pertamanya adalah di divisi kesehatan hewan Pfizer di Yunani, dan Bourla pernah bekerja di Belgia dan Polandia sebelum pindah ke AS. Akhirnya, paparan konstan terhadap budaya, pasar, dan tim yang berbeda membentuk gaya kepemimpinannya.

“Saya tidak tahu apakah itu membuat saya cocok untuk posisi CEO,” katanya. “Tapi itu pasti membentuk siapa saya. Saya punya kesempatan hidup dengan banyak budaya berbeda dan bekerja dengan lebih banyak lagi.”

Pengalaman itu mengajarinya bahwa kepemimpinan itu tidak bisa disamaratakan.

“Saya belajar menghargai perbedaan orang lain. Saya belajar peka tentang bagaimana harus bersikap jika ingin mencapai hasil, jika ingin menginspirasi orang,” ujar Bourla.

“Semua itu membuat saya lebih paham akan nilai keberagaman, tapi hanya jika kamu mengelola keberagaman dengan cara yang benar.”

Tonton episode lengkapnya di YouTube. Transkrip episodenya bisa dibaca di sini.

Tinggalkan komentar