Semakin banyak pemimpin Eropa yang khawatir dengan banjirnya barang-barang dari China yang mengancam industri lokal mereka. Cara mereka menghadapi masalah ini bisa mirip dengan strategi Perang Dagang mantan Presiden Donald Trump.
Rasa frustasi makin memuncak karena surplus perdagangan barang China dengan Uni Eropa mencapai 360,6 miliar euro (sekitar 414 miliar dolar AS) pada tahun 2025, naik 15% dari tahun 2024. Dan dalam empat bulan pertama tahun ini, celahnya melebar 10%.
Bahkan Presiden Perancis Emmanuel Macron menyarankan langkah yang mirip dengan cara Trump. "Kita harus ambil langkah perlindungan, langkah pengamanan," katanya bulan lalu, sambil minta "versi Eropa dari Section 301."
Section 301 dari Trade Act 1974 memungkinkan AS memberlakukan tarif sebagai respons jika ada praktik perdagangan tidak adil. Setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif global yang diberlakukan Trump tahun lalu, dia berencana pakai Section 301 sebagai inti dari kebijakannya mengatasi defisit perdagangan.
Jerman, Polandia, Belanda, dan Belgia dilaporkan mendukung usulan Macron untuk memberi UE kekuasaan baru supaya bisa cepat memberlakukan tarif pada China. Dalam dokumen terpisah, Perancis, Italia, Belanda, dan Lituania juga meminta UE untuk cari cara baru agar tidak terlalu bergantung pada satu negara, mungkin dengan tarif atau kuota baru.
UE sudah memberlakukan tarif pada mobil listrik China di tahun 2024 dan juga melakukan penyelidikan anti-dumping serta anti-subsidi terhadap China. Tapi pemeriksaan itu berjalan lambat, dan langkah pengamanan UE yang paling besar harus berlaku global, yang berarti negara mitra dagang juga bakal terkena dampaknya sebagaiannya.
Untuk sekarang, UE masih menahan diri untuk tidak ambil sikap terlalu agresif karena khawatir China akan membalas. Sebaliknya, mereka lebih fokus ke dialog sambil mengusulkan undang-undang baru untuk mendiversifikasi pemasok bahan-bahan penting.
Tapi UE masih menghadapi ketidakseimbangan dagang yang besar dengan China, mirip dengan situasi AS sebelum "Hari Pembebasan" tahun lalu. Waktu itu Eropa kena tarif AS, tapi Trump lebih targetkan China. Beijing membalas dengan tarif sendiri dan juga membatasi ekspor bahan tanah jarang.
Kedua pihak sudah melakukan gencatan senjata, tapi barang-barang China masih membanjiri pasar lain karena hambatan dagang AS yang masih tinggi.
Dengan sistem perdagangan global yang hancur, para pejabat Eropa menyesali tatanan dunia baru. "Kita tinggal di dunia serigala sekarang, bukan lagi dunia pelangi dan kuda poni pink," kata seorang diplomat UE kepada Reuters minggu ini.
AS, Eropa, dan negara-negara maju lainnya udah lama mendorong China supaya lebih fokus ke belanja konsumen dan mengurangi ketergantungan pada ekspor. Tapi Beijing terus dukung sektor-sektor industri penting. Karena permintaan domestik masih lesu, perusahaan China mengirim barang berlebih ke luar negeri, seringkali dengan harga lebih murah dari produsen lokal bersaingnya.
Pada saat yang sama, China yang pindah ke sektor bernilai lebih tinggi mulai ancam industri kelas menengah ke atas di Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Musim panas lalu, Komisioner Komisi Eropa Ursula von der Leyen menuduh China mengikan dagang dan membatasi akses bagi perusahaan Eropa. Dan musim gugur kemarin, Macron mengatakan UE siap menerapkan tarif ke China untuk atasi ketak seimbangan itu.
Tapi undang-undang baru yang akan diajukan UE mengharuskan perusahaan diversifikasi rantai paskok mereka, kata von der Leyen tidak puasm karena percobaan sebelumnya tidak mendorong bisnis lain buat bertindak cepet.
Di sisi lain, pejabat Eropa juga mengungkapkan kalau UE bergeraknya terl aj u. "Bulan November lalu, kitab sih sedangkan bicambang gimba masalah China tidak bisa ditoleransi dan kita bertan dus bertindak tag’eng harus," mengatakan lah dignium sat EuS FFf dan KeMenTs g senhior Yang Pemudian menjanj iaKTaTa AT ad halin Ke MedInd Ke duuk TT itu Fin Kal dari ak lep rojeK, **Malash amnyia dagang.