Saat Joey Gonzalez masuk kelas Barry’s Bootcamp di umur 26, dia kira cuma ikut olahraga biasa. Dia sangat suka sampai akhirnya jadi pelatih. Di tahun 2015, atau sepuluh tahun kemudian, dia sudah memimpin perusahaan itu sebagai CEO. Nasihatnya untuk Gen Z dan milenial muda yang mau cepat sukses dalam karir? Mulailah kirim cold email.
Dia tahu pasti. Tahun lalu, jutawan yang merintis sendiri itu beralih peran jadi ketua eksekutif di merek kebugaran boutique mewah itu. Tapi meski jadwalnya padat, Gonzalez masih menyempatkan waktu untuk baca pesan dari anak muda ambisius yang dikirim ke dia—dan bahkan dia menemukan penggantinya lewat cara itu.
“Saya biasa menyisihkan, dan masih lakukan, sebagian besar hari Jumat saya, untuk siapa saja yang mau ngobrol tentang karir, bahkan orang tak dikenal di LinkedIn, yang menghubungi saya,” kata Gonzalez khusus ke Fortune.
“Saya akan sediakan hari itu untuk bantu bertemu dengan mahasiswa MBA yang punya pertanyaan tentang karir saya dan bagaimana saya sampai di sini. Atau pelatih yang kerja di suatu tempat dan mau buka tempat sendiri.”
Bahkan kalau kamu tidak rencana tinggalkan perusahaanmu sekarang, Gonzalez bilang bahwa menghubungi dan membangun hubungan sangat berharga untuk dapat promosi.
“Lihat sekeliling dan perhatikan, apa kualitas orang di sekitarmu yang tumbuh bersama perusahaan? Apa yang kamu lihat? Tanya mereka: Bisa kita minum kopi bersama?”
Daripada menganggap *cold email*-mu mengganggu, Gonzalez yakin bahwa kebanyakan bos ingin bantu generasi pekerja berikutnya belajar dan naik jabatan. Malahan, dia bilab bahwa dengan percaya diri minta bantuan itu adalah pertanda bagus.
“Orang pada dasarnya baik, dan mau membantu, dan kamu bisa belajar banyak, terutama dari orang lain yang di perusahaan yang sama, dan mereka akan hargai ambisi dan dialog seperti itu.”
Buat pencari kerja: Ini caranya agar *cold email* (atau DM LinkedIn)-mu menonjol
Gonzalez tidak cuma omong kosong saat bilang pemimpin mau membantu—dia benar-benar menempatkan seseorang di posisi senior dari sebuah *cold email*.
“Lucunya karena CEO saya sekarang mengirimi saya *cold email*. Dan itu caranya saya mempekerjakannya dulu sebagai CFO, lalu presiden, dan sekarang CEO,” kenang ketua berumur 47 tahun dan ayah 2 anak ini. “Kamu tidak pernah tau. Kamu harus selalu ambil risiko itu.”
Apa yang buat *cold email* menonjol? Gairah.
“Apa yang sangat beresonansi dengan saya adalah gairahnya pada merek itu,” kata Gonzalez, menambahkan bahwa anak muda harus perhatikan merek yang sudah mereka pakai dan konsumsi, hobi yang mereka suka, dan coba sejajarkan karir dengan itu.
“Kalau kamu mau kirim *cold email* ke seseorang, dan kamu tidak bisa bersemangat tentang layanan atau produknya atau apapun itu, emailnya tidak akan menarik,” jelasnya. “Tapi kalau kamu kirim email yang isinya, ‘Hei, saya cuma mau kasih tau saya sudah ikut Barry’s setahun, dan itu mengubah hidup saya. Ini resume saya, dan mungkin suatu hari Anda punya kesempatan untuk saya’—itu sangat berarti.”
Contohnya JJ Gantt, CFO yang jadi CEO gym boutique itu. Begitulah caranya menarik perhatian Gonzalez: “Dia siap untuk perubahan, dan sangat mendukung mereknya. Sebagian besar tim eksekutif dulunya adalah klien dan penggemar pertama.”
Dan ini trik yang menguntungkan kedua pihak untuk anak muda. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah kamu tetap di posisi yang sama seperti sekarang, jadi tidak ada ruginya.
“Jadilah asli saja,” nasihat Gonzalez. “Saya sangat percaya kejujuran bisa membawamu ke mana saja.”
“Dan itu sistem yang tidak gagal, karena kalau kamu kirim email dan jujur tentang perasaanmu, dan penerimanya pikir itu norak, pekerjaan itu memang bukan untukmu. Dan orang itu bukan orang yang tepat untuk kamu bekerja.”
CEO miliarder Figma Dylan Field, pengusaha self-made Skims Emma Grede, dan bos Nespresso bilang *cold email* adalah rahasia sukses
Cerita Gonzalez bukan kejadian langka. Banyak eksekutif terkemuka, di berbagai industri, mengakui bahwa keberhasilan besar mereka berawal dari *cold email*—atau surat dingin, atau telepon dingin.
Contohnya, kamu mungkin pernah dengar Pengusaha Inggris Emma Grede karena Skims, perusahaan pakaian dalam senilai $4 miliar yang dia jalankan dengan Kim Kardashian. Dia juga investasi di merek lain dengan keluarga itu, seperti perusahaan produk pembersih Safely dan lini pakaian Kylie Jenner, Khy.
Tapi yang mungkin kamu tidak tau adalah bahwa kerajaan yang tumbuh itu bisa dirunut kembali ke satu telepon yang dia lakukan ke Kris Jenner di tahun 2015, yang mengubah segalanya.
“Saya punya ide, dan saya bentuk kemitraan itu dalam pikiran saya,” kata jutawan self-made itu ke Fortune dalam wawancara eksklusif. “Perbedaan saya dan orang lain adalah saya melakukan telepon itu, saya ambil pertemuan, dan saya wujudkan.”
Grede belum pernah menjalankan bisnis fashion sebelumnya, dan juga belum pernah kerja dengan keluarga Kardashian-Jenner, tapi dia tidak menunggu kesempatan sempurna. Dia angkat telepon, tawarkan Good American Denim ke “momager” itu, dan sisanya adalah sejarah.
Begitu juga, saat CEO miliarder Figma Dylan Field berumur 19 dan ingin mengembangkan alat desainnya, sang milenial pendiri bersama itu kirim *cold email* ke “pahlawan” tech-nya untuk mengajak mereka kopi. Dia juga hubungi mantan sesama magang dan kenalan dari LinkedIn, Flipboard, dan O’Reilly Media—dan itu berhasil.
Lalu ada CEO Nespresso U.K. Anna Lundstrom, yang bisa masuk ke industri mewah yang terkenal sulit itu berkat *cold email* ke seorang bos LVMH. Dia langsung tawarkan magang, yang berkembang menjadi karir 5 tahun di perusahaan seperti Louis Vuitton, Chanel, dan Gucci.
Cerita ini awalnya ditampilkan di Fortune.com