Agen federal yang menembak dan membunuh seorang pengemudi di Minneapolis adalah veteran Perang Irak. Dia sudah bekerja hampir dua dekade di Border Patrol dan U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), menurut catatan yang didapatkan The Associated Press pada hari Kamis.
Jonathan Ross, yang menembak Renee Good pada hari Rabu, telah menjadi petugas deportasi di ICE sejak tahun 2015, begitu kata catatan. Dia cedera parah musim panas lalu ketika terseret oleh kendaraan seorang tersangka yang kabur, yang dia tembak dengan senjata setrum.
Pejabat federal belum menyebut nama petugas yang menembak Good, seorang ibu berusia 37 tahun yang ditembak saat mencoba menjauhkan mobilnya dari agen federal. Tapi Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem bilang bahwa agen yang menembak Good pernah diseret oleh kendaraan pada bulan Juni lalu. Juru bicara departemen mengkonfirmasi Noem merujuk pada kasus di Bloomington, Minnesota, di mana dokumen-dokumen mengidentifikasi petugas yang cedera itu sebagai Ross.
Noem dan pejabat lain dari pemerintahan Trump membela agen tersebut sebagai profesional penegak hukum yang berpengalaman. Dia mengikuti pelatihannya dan menembak Good karena percaya dia mencoba menabraknya atau agen lain dengan mobilnya. Video memunculkan pertanyaan apakah penembakan itu untuk membela diri atau tidak, dan FBI sedang menyelidiki penggunaan kekuatan mematikan itu. Beberapa pemrotes menuntut Ross menghadapi tuduhan kriminal, dan pihak berwajib Minnesota juga ingin menyelidiki.
Upaya untuk menghubungi Ross, 43 tahun, melalui nomor telepon dan alamat email yang terkait dengannya tidak berhasil.
Ini beberapa hal yang perlu diketahui tentang dia:
Petugas Militer dan Penegak Hukum yang Berpengalaman
Dalam kesaksian di pengadilan bulan lalu, Ross bilang dia ditugaskan ke Irak dari 2004 sampai 2005 dengan Indiana National Guard. Ross bilang dia bertugas sebagai penembak senapan mesin di truk senjata sebagai bagian dari tim patroli tempur.
Dia bilang dia kembali dari Irak tahun 2005, kuliah, dan bergabung dengan Border Patrol tahun 2007 dekat El Paso, Texas. Dia kerja di sana sampai 2015, jadi agen intelijen lapangan yang mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kartel narkoba dan penyelundupan manusia.
Ross bilang dia sudah bertugas sebagai petugas deportasi yang berbasis di Minnesota sejak gabung ICE tahun 2015. Dia ditugaskan di operasi buronan, berusaha menangkap “target bernilai tinggi” di wilayah ICE yang termasuk Minneapolis, begitu kesaksiannya bulan lalu. Dia bilang dia juga pemimpin tim di Satuan Tugas Terorisme Gabungan FBI.
“Jadi saya yang mengembangkan target, membuat paket target, pengawasan, lalu menyusun rencana untuk menjalankan surat perintah penangkapan,” katanya.
Ross bilang dia juga instruktur senjata api, instruktur penembak aktif, perwira intelijen lapangan, dan anggota tim SWAT. Dia bilang dia pernah bersekolah di akademi Border Patrol di New Mexico, dimana dia belajar bahasa Spanyol.
Cedera Parah pada Juni Lalu
Ross adalah pemimpin tim agen yang pergi untuk menangkap seorang pria yang berada di AS secara ilegal di pinggiran kota Minneapolis, Bloomington, pada 17 Juni. Agen-agenn telah berkumpul di luar rumah pria itu, Roberto Munoz-Guatemala, yang pergi dengan mobilnya, menurut catatan pengadilan.
Agen FBI mengaktifkan sirene dan lampu darurat menyuruhnya berhenti tapi dia tidak. Ross mengarahkan mobilnya secara diagonal di depan Munoz-Guatemala untuk memaksanya berhenti.
Ross dan seorang agen FBI memperkenalkan diri sebagai polisi dan mengarahkan senjata ke Munoz-Guatemala, yang mengangkat tangannya. Ross kemudian mendekati kendaraan Munoz-Guatemala dan menyuruhnya memarkirkan mobilnya.
Ross menyuruh pengemudi itu menurunkan jendelanya sepenuhnya dan memperingatkan akan memecahkannya jika tidak. Ross menggunakan alat yang dikenal sebagai “pemecah jendela berpegas” untuk memecahkan jendela sisi pengemudi belakang dan meraih ke dalam mobil untuk membuka kunci pintu pengemudi.
Munoz-Guatemala melaju saat lengan Ross tersangkut di kendaraan dan berakselerasi, menyeret Ross di sepanjang jalan. Ross menembakkan tasernya, mengenai Munoz-Guatemala dengan ujung logam di kepala, wajah, dan bahu.
Munoz-Guatemala tidak lumpuh oleh taser, kata jaksa, dan terus mengemudi, membawa Ross sepanjang lapangan sepak bola dalam 12 detik. Ross terlepas dari kendaraan dengan paksa setelah Munoz-Guatemala naik ke trotoar untuk kedua kalinya dan kembali ke jalan.
Lengan kanan Ross berdarah, dan seorang agen FBI memasang turniket. Akhirnya, dia menerima puluhan jahitan di rumah sakit. Jaksa bilang dia “menderita beberapa luka besar, dan lecet di lutut, siku, dan wajah.”
“Rasanya sakit sekali,” kata Ross dalam kesaksiannya.
Munoz-Guatemala berdarah karena lukanya dan menyuruh seorang wanita menelepon 911, mengatakan bahwa dia diserang dan tidak tahu apakah orang yang mencoba menghentikannya adalah petugas. Dia ditangkap dan didakwa menyerang petugas federal dengan senjata berbahaya atau mematikan.
Juri menyatakan Munoz-Guatemala bersalah dalam persidangan bulan lalu, menyimpulkan dia “seharusnya cukup tahu bahwa Jonathan Ross adalah petugas penegak hukum dan bukan warga biasa yang mencoba menyerangnya.”
Pejabat Federal Membela Agen Tanpa Menyebut Namanya
Wakil Presiden JD Vance memuji pengabdian agen itu kepada negara pada hari Kamis tanpa menyebut namanya, mengatakan petugas ICE itu “berhutang budi.”
“Ini orang yang sudah melakukan pekerjaan sangat, sangat penting untuk Amerika Serikat,” kata Vance. “Dia sudah diserang. Dia sudah dicederai karenanya.”
Asisten DHS Tricia McLaughlin enggan mengkonfirmasi identitas agen itu hari Kamis, mengatakan melakukannya akan berbahaya bagi keselamatan dia dan keluarganya. Tapi dia mencatat bahwa dia telah terpilih untuk tim respons khusus ICE, yang mencakup uji coba 30 jam dan pelatihan tambahan untuk keahlian khusus seperti teknik pembobolan, kontrol perimeter, penyelamatan sandera, dan senjata api.
“Dia bertindak sesuai pelatihannya,” katanya. “Petugas ini adalah petugas ICE lama yang telah mengabdi kepada negara sepanjang hidupnya.”
___
Wartawan AP Michael Biesecker dan Jonathan J. Cooper berkontribusi untuk laporan ini.