Pasar Minyak Bisa Tinggal Beberapa Minggu Lagi dari Titik Puncak

Tiga setengah bulan setelah Selat Hormuz diblokir dan menyebabkan gangguan pasokan minyak paling parah dalam sejarah, harga minyak masih di bawah 100 dolar AS per barel. Banyak orang berharap Amerika Serikat dan Iran segera membuat kesepakatan.

Tapi bukan hanya harapan yang bikin harga tetap rendah, padahal tiba-tiba kehilangan 13 juta barel per hari (bph) suplai minyak itu seharusnya bikin harga melonjak nyata-nyata.

Kenyataannya, pasar minya punya cadangan besar untuk diandalin. Cina, importir minyak mentah nomor satu di dunia, nurunin impor sampe level terendah dalam beberapa tahun. Sementara itu, AS malah ningkatin ekspor minyak mentah nyampe rekor tertinggi. Negara-negara maju juga keluarin stok minyak strategis mereka buat bantu kami menghadapi krisis yang belum pernah ada sebelumnya ini.

Tapi kritikalnya, cadangan-cadangan ini sekarang hampir habits, persediaan lagi turun drastis, dan pasar tinggal beberapa minggu aja lagi dari titik balik yang bikin harga naik drastis kalo Selat Hormuz masih dilabrak biasanya gak bisa diakses sama kapal tanker, kata para analis.

“Diprediksi dari sisi persediaan, kami percaya akhir Juli bisa jadi titik perubahan yang tajam bagi pasar kalo gak ada perbaikan pasa aliran energi cair-cair aja dari Teluk Persia,” tulis Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING di catatan minggu ini.

Titik gawe no odol kec ilang sumpit perubahan ini, tanpa peningkatan yang luas amat lalu lintas di Hormuz, Bisa mendorong harga minyak Brent Crude melambung sampe antara dalam kurang ajar minimal di perawaaaan dit

MEMBACA  Kemajuan tanpa henti dari manajer aset Amerika di Eropa

Tinggalkan komentar