Pasar saham AS alami hari terburuk sejak Oktober Jumat lalu. Penjualan besar-besaran di perusahaan teknologi besar mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Laporan pekerjaan yang kuat juga bikin banyak orang percaya Federal Reserve akan naikkan suku bunga tahun ini.
S&P 500 turun 2,6%, penurunan satu hari terbesar sejak 10 Oktober. Waktu itu pemerintahan Trump ancam tarif 100% untuk barang impor dari China. Kerugian ini bikin indeks acuan itu alami minggu pertama yang rugi dalam 10 minggu terakhir.
Dow Jones Industrial Average turun 1,4%, dan Nasdaq jatuh 4,2%.
Saham teknologi tarik pasar lebih rendah. Perusahaan yang bikin S&P 500 naik ke rekor selama dua bulan ini sekarang rugi. Nvidia turun 6,2%, Broadcom turun 7,9%, dan Micron Technology turun 13,3%, yang terbesar di S&P 500.
Meta turun 5,5% setelah ada laporan mereka mau terbitkan saham baru untuk kumpul dana belanja infrastruktur AI.
Di S&P 500, jumlah saham yang naik dan turun hampir sama rata. Tapi saham teknologi besar punya nilai mahal yang bikin mereka punya pengaruh besar ke pasar.
Sementara itu, imbal hasil obligasi naik setelah laporan menunjukkan AS tambah 172.000 pekerjaan di Mei, kata Departemen Tenaga Kerja. Ini laporan terbaru yang tunjukkan pekerjaan masih kuat meskipun inflasi tekan bisnis dan konsumen.
Info terbaru ini muncul dua minggu sebelum Kevin Warsh pimpin rapat pertama sebagai ketua Fed. Banyak orang pikir Fed bakal tetap tahan suku bunga di pertemuan 16-17 Juni, meski Presiden Trump desak mereka turunkan biaya pinjaman. Untuk jangka panjang, pasar lihat lebih dari 60% kemungkinan Fed naikkan suku bunga akhir tahun, kata CME FedWatch.
“Harapan apa pun untuk potongan suku bunga dari Fed udah hilang dengan laporan kerja yang kuat pagi ini,” kata Ronald Temple, kepala strategi pasar di Lazard.
Imbal hasil obligasi 10 tahun naik ke 4,54% dari 4,50% sebelum laporan keluar. Imbal hasil obligasi 2 tahun naik ke 4,16% dari 4,04%.
Fed tahan suku bunga untuk ukur dampak dari inflasi yang naik. Harga sudah naik karena tarif. Perang AS dengan Iran blokir pengiriman minyak dari Selat Hormuz.
Harga minyak Brent turun 2% menjadi US$93.09 per barel. Sebelum perang sekitar US$70. Kenaikan harga minyak bikin harga bahan bakar naik dan itu dorong inflasi lebih tinggi karena barang-barang jadi lebih mahal.
Ukuran inflasi yang dipake Fed tunjukkan harga naik 3.8% secara keseluruhan di April. Itu kenaikan terbesar dalam dua tahun.
Wall Street kira negosiasi untuk akhiri perang nanti berhasil. Negosiator AS dan Iran udah sepakat sementara minggu lalu untuk perpanjang gencatan senjata, tapi belum final.
Laporan keuangan terbaru dari perusahaan hampir selesai. Lululemon turun 8.6% setelah potong ramala revenue dan profit.
Sebagian besar laporan keuanggan cukup bagus dan bantu Wall Street terus naik. Profit dan ramalam yang bagus tutupi kekhawatiran soal ekonomi karena tarif dan energi mahal akibat perang.
Sekarang laporan keuangan sudah lewat, analis peringatin bahwa perusahaan teknologi yang dapat untung dari AI mungkin udah terlalu mahal. Ini bisa bikin pasar jadi lambat, meski S&P 500 udah naik 7.9% selama 2026.
Total, S&P 500 turun 200,57 poin ke 7,383.74 hari Jumat. Dow turun 695.15 poin ke 50,866.78, dan Nasdaq turun 1,121.53 poin tutup di 25,709.43.
Pasar di Eropa campur aduk, sementara di Asia turun.