Para Lulusan Gen Z yang Menghidupkan Kembali Dunia Akuntansi—Tingkat Penempatan Kerja Hampir Sempurna di Kampus-kampus

Akuntansi, yang lama dianggap membosankan, sekarang mulai berubah citranya. Dulu, profesi ini sulit menarik minat anak muda, dan banyak akuntan yang sudah pensiun atau pindah kerja. Tapi sekarang, ceritanya beda.

Banyak faktor yang membuat akuntansi menarik lagi. Syarat masuk lebih mudah, banyak bicara soal keseimbangan kerja-hidup, dan AI membantu kerjakan tugas yang berulang. Generasi Z, yang lebih suka pekerjaan stabil dan gaji bagus, mulai tertarik.

Hasilnya, makin banyak anak muda masuk bidang ini karena menawarkan stabilitas, permintaan tinggi, dan gaji awal yang lumayan. Contohnya Jack Blazevich, 24 tahun. Setelah lulus, dia langsung dapat tawaran kerja di PwC dengan gaji hampir 100 ribu dolar. Dia bilang, "Saya belum temukan orang lulusan akuntansi yang tidak dapat pekerjaan."

Pengalamannya beda dengan lulusan lain yang harus kirim banyak lamaran. Lulusan akuntansi malah dapat banyak tawaran. Gaji awal mereka sekitar $80,000.

Akuntansi juga memberi banyak pilihan karir. "Kalau kamu belajar akuntansi, kamu belajar bahasa bisnis," kata Jack. "Orang akuntansi bisa ke HR, sales, marketing. Tapi orang finance atau HR tidak bisa jadi akuntan."

Data dari universitas membuktikan ini. Di University of Iowa, 95% lulusan akuntansi 2025 dapat kerja atau lanjut studi, dengan gaji rata-rata $75,000. Di universitas top lainnya, angkanya juga serupa tinggi.

Mesin penerimaan mahasiswa akuntansi juga mulai pulih. Jumlah mahasiswa S1 dan S2 di bidang ini turun, tapi penurunannya lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya. Malah, total mahasiswa akuntansi naik jadi 313,397 di tahun 2025.

AI Mengubah Pasar Kerja—Tapi untuk Akuntan, Malah Mempermudah

Kecerdasan buatan (AI) sering dilihat sebagai ancaman, tapi bagi akuntan justru membantu. AI mengerjakan bagian yang membosankan, seperti entri data. Ini membebaskan akuntan muda untuk fokus pada analisis dan kerja dengan klien. Penelitian dari Stanford bilang, akuntan yang pakai AI bisa layani lebih banyak klien dan selesaikan laporan lebih cepat.

MEMBACA  Apakah Investasi di SCHD Dapat Membantu Melengkapi Penghasilan dari Jaminan Sosial di Masa Pensiun?

Ruth Mavashev, CPA umur 26 tahun, merasakan ini. Dia dapat gaji $113,000. Dia bilang kerja di musim pajak memang lama jamnya, tapi sangat memuaskan. "Rasanya kamu berkontribusi membuat ekonomi lebih baik," katanya.

Jack Blazevich juga tidak khawatir AI gantikan posisinya. Dia justru lihat fleksibilitas akuntansi sebagai jaring pengaman alami. Keyakinan ini tidak sepenuhnya salah. Sebuah studi Anthropic baru-baru ini menemukan bahwa AI secara teori bisa mengerjakan lebih dari 90% tugas di bidang matematika dan bisnis. Ini membuat akuntansi, yang ada di kedua bidang itu, menjadi sasaran utamanya. Tapi dalam prakteknya, penggunaannya masih lambat. Peneliti menyebutkan hambatan hukum, kesulitan teknis, dan perlunya pengawasan manusia.

Di bidang akuntansi, khususnya, peran manusia sangat sulit dihilangkan. Tandatangan seorang CPA punya kekuatan hukum, hubungan dengan klien dibangun bertahun-tahun, dan bahkan kesalahan kecil bisa menyebabkan pemeriksaan ketat dari regulator.

"Pada akhirnya, pasti harus ada manusia yang menandatangani, atau setidaknya mengecek apa yang AI kerjakan," kata Blazevich. "Jika pasar tenaga kerja akuntansi menyusut, akan tetap ada pasar tenaga kerja yang [lebih luas]."

Tinggalkan komentar