Kalau kamu punya mimpi tinggi buat kuliah di universitas Ivy League, mungkin perlu dipikir ulang, menurut penulis Malcolm Gladwell.
“Kalau mau dapat gelar di bidang sains dan matematika, jangan ke Harvard,” kata Gladwell dalam pembicaraan Google Zeitgeist tahun 2019.
Gladwell jelaskan di episode podcast Hasan Minhaj Doesn’t Know, risiko apply ke Harvard University buat ambil gelar STEM itu tidak apa kalau kamu bisa bersaing sama murid-murid terbaik di jurusanmu. Tapi buat banyak mahasiswa, kuliah di institusi elit malah bisa bikin kewalahan, tingkatkan risiko berhenti kuliah dan susah cari pekerjaan impian.
“Kalau kamu ingin sukses di institusi pendidikan, jangan pernah berada di paruh bawah kelasmu. Itu terlalu sulit,” Gladwell bilang ke host podcast Minhaj. “Jadi, kamu harus ke Harvard kalau kamu pikir bisa masuk di seperempat teratas kelas di Harvard. Itu tidak masalah. Tapi jangan kesana kalau kamu cuma akan berada di bawah kelas. Ambil STEM? Kamu cuma akan drop out.”
Gladwell malah sarankan calon mahasiswa untuk pilih pilihan kampus kedua atau ketiga, di tempat mereka punya kesempatan buat jadi yang teratas di kelasnya.
Meski Gen Z tertarik untuk mengejar pekerjaan vokasi karena takut AI gantikan pekerjaan level pemula, gelar STEM tetap jadi tiket penting untuk dapat pekerjaan kantoran. Menurut analisis Federal Reserve Bank of New York yang dirilis Juli 2025 tentang kondisi pasar kerja untuk lulusan baru, jurusan seperti ilmu hewan dan tumbuhan, ilmu bumi, serta teknik sipil dan kedirgantaraan, termasuk yang punya tingkat pengangguran terendah. Tapi, jurusan sistem informasi dan manajemen, serta ilmu komputer, termasuk yang tingkat penganggurannya paling tinggi.
Kampus-kampus Ivy League tetap termasuk universitas peringkat atas berdasar tingkat kelulusan, penilaian rekan, dan faktor lain, menurut data U.S. News & World Report.
Teori apply kuliah ‘ikan besar di kolam kecil’ punya Gladwell
Penolakan Gladwell tentang kebanyakan murid yang kuliah di universitas elit berdasar pada teori deprivasi relatif, atau gagasan bahwa manusia menilai diri sendiri relatif terhadap orang di sekitarnya, bukan berdasarkan posisi kita di dunia. Di bukunya tahun 2013, David and Goliath, Gladwell juga sebut ini fenomena ikan besar di kolam kecil.
Dia sebut data tentang dua universitas: Harvard dan Hartwick College, sebuah sekolah seni liberal kecil di New York. Dia lihat di kedua kampus, meski beda ukuran dan ketatnya, keduanya punya distribusi serupa untuk gelar STEM berdasar nilai SAT tinggi dan rendah, dengan murid nilai rendah lebih sering drop out dari program STEM dibanding murid nilai tinggi. Dia simpulkan kesuksesan seseorang bukan cuma dari kemampuan aslinya, tapi dari bagaimana dia dibandingkan dengan teman sebayanya.
“Ketekunan di sains dan matematika bukan cuma fungsi dari kemampuan kognitif kamu,” kata Gladwell di 2019. “Itu fungsi dari posisi relatif kamu di kelas. Itu fungsi dari peringkat kelas kamu.”
Gladwell catat, mendapat gelar — lebih penting daripada institusi asal gelarnya — adalah kunci untuk bangun kepercayaan diri, motivasi, dan efikasi diri di lulusan muda.
Tapi, bukan cuma tanggung jawab murid untuk sukses. Menurut Gladwell, manfaat yang didapat murid dari jadi yang teratas di kelasnya perlu mengubah paradigma cara tempat kerja pilih karyawan baru. Dia bilang tempat kerja harusnya terapkan praktek untuk tidak tanya dari kampus mana calon karyawan lulus, tapi di peringkat berapa mereka di antara teman kelasnya.
“Waktu kamu dengar suatu institusi, bank investasi Wall Street yang hebat, atau universitas, bilang, ‘kami cuma hire dari kampus top,’ kamu harus bilang: ‘Dasar bodoh, hire dari murid teratas dari kampus manapun di dunia ini.’”
Versi cerita ini terbit di Fortune.com tanggal 27 Desember 2025.
Lainnya tentang Gen Z dan kuliah:
Gen Z datang ke kampus bahkan tidak bisa baca satu kalimat — profesor peringatkan ini bisa bikin satu generasi lulusan yang cemas dan kesepian
Gen Z menolak kuliah karena pasar kerja suram dan uang kuliah mahal bikin mereka pertimbangkan ROI: ‘Tidak ada kampus yang aman’
Gen Z punya penyesalan: 1 dari 4 bilang mereka harap tidak pernah kuliah atau memilih industri yang bayarnya lebih tinggi
Gen Z pimpin revolusi kerja vokasi karena lebih banyak orang Amerika hilang kepercayaan pada pendidikan kuliah
Cerita ini awalnya tampil di Fortune.com