Laporan Yale Mengecam Universitas Liga Ivy karena Merusak Kepercayaan Publik terhadap Pendidikan Tinggi di Amerika

Perguruan tinggi di Amerika Serikat sedang menghadapi krisis kepercayaan. Universitas Yale baru saja memberikan analisis yang sangat jujur tentang penyebabnya dan cara mengatasinya.

Sebuah komite fakultas di Yale yang dibuat oleh Presiden Maurie McInnis merilis laporan lengkap pada Rabu. Laporan ini membahas turunnya kepercayaan publik pada pendidikan tinggi. Mereka menilai kegagalan sektor ini dalam hal biaya, penerimaan mahasiswa, kebebasan berbicara, dan tata kelola. Laporan ini dibuat selama setahun dan termasuk yang paling mengkritik diri sendiri di antara universitas elit.

“Kami percaya masalah turunnya kepercayaan ini nyata, mendesak, dan harus diatasi,” tulis komite itu.

Angkanya mendukung hal itu. Sepuluh tahun lalu, 57% warga Amerika punya kepercayaan tinggi pada pendidikan tinggi. Pada 2024, angka itu turun ke rekor terendah 36%. Meski naik sedikit di 2025, 70% masyarakat Amerika masih bilang pendidikan tinggi “berjalan ke arah yang salah.”

Laporan ini menemukan tiga penyebab utama:

  • Biaya yang sangat mahal
  • Sistem penerimaan mahasiswa yang tidak jelas dan tidak adil
  • Suasana kampus yang semakin tidak ramah pada kebebasan berpendapat

Komite mencatat masalahnya lebih dalam dari itu. Universitas sering diharapkan untuk memenuhi semua harapan yang berbeda-beda. Hal ini malah menyebabkan ketidakpercayaan.

Biaya kuliah yang melonjak

Soal biaya, komite tidak ragu mengkritik. Biaya kuliah di Yale tahun ini adalah $94,425. Padahal, pendapatan rata-rata keluarga di AS di bawah $84,000. Sebanyak 86% orang menjawab Yale “terlalu mahal”. Yale punya sistem biaya tinggi tapi bantuan tinggi, dimana satu dari lima mahasiswa dapat beasiswa penuh. Tapi sistem ini dianggap rumit dan tidak transparan. Hampir setengah orang Amerika tidak percaya bantuan sebesar itu ada.

Yale berusaha mengatasi masalah ini pada Januari. Mereka akan menghapus uang kuliah untuk keluarga berpenghasilan di bawah $200,000. Lebih dari 80% rumah tangga Amerika bisa dapat bantuan dengan aturan baru ini. Namun, laporan komite menyatakan Yale harus lebih baik lagi dalam menjelaskan kebijakan ini ke publik.

Proses penerimaan mahasiswa dipertanyakan

Tingkat penerimaan mahasiswa di Yale hanya 4,2%. Komite mempertanyakan apakah proses seleksi yang kompleks benar-benar adil. Penelitian menunjukkan pelamar dari keluarga terkaya 1% punya peluang lebih besar diterima dibandingkan pelamar kelas menengah dengan nilai sama. Preferensi untuk anak alumni dan atlet penyebab sebagian besar ketimpangan ini. Universitas punya waktu lebih dari dua tahun untuk bertindak atas temuan ini, tapi kesempatan itu sebagian besar terbuang.

Pembatasan diri di kampus

Kebebasan berbicara juga mendapat sorotan. Survei 2025 di Yale menemukan hampir sepertiga mahasiswa tidak merasa bebas menyampaikan pandangan politik mereka di kampus. Angka ini naik dari 17% di 2015. Komite juga mencatat kekhawatiran baru: mahasiswa internasional dan peneliti pasca-doktoral takut membahas penelitian mereka sendiri karena takut pemerintah membalas.

Ketakutan ini punya dasar nyata. Tahun lalu, pemerintahan Trump membekukan $2,2 miliar dana untuk Harvard. Pemerintah juga mengancam memotong semua dana federal dan menyelidiki $8,7 miliar kontrak dan hibah Harvard. Efeknya terasa di seluruh Ivy League, dimana banyak peneliti menjadi takut berbicara.

Komite memberikan 20 rekomendasi. Antara lain reformasi penerimaan mahasiswa, transparansi anggaran, dan komitmen pada prinsip kebebasan berekspresi. Mereka mendesak universitas untuk melampaui tindakan simbolis. “Membangun kepercayaan membutuhkan perhatian terus-menerus pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan publik dari sistem pendidikan tinggi,” tulis laporan itu.

Komite menyampaikan temuan mereka secara bulat. Ini mungkin tanda bahwa akademisi elit akhirnya bersedia mengakui apa yang telah lama dipercaya publik.

Untuk artikel ini, wartawan *Fortune* menggunakan AI generatif sebagai alat riset. Seorang editor memverifikasi keakuratan informasi sebelum publikasi.

MEMBACA  Irlandia Bergabung dalam Kasus Genosida Afrika Selatan Terhadap Israel

Tinggalkan komentar