Kurang dari 1 dari 4 pekerja menilai pekerjaan mereka aman. “FOBO” di kalangan pekerja kian merugikan perusahaan.

Ketika Oracle potong puluhan ribu pekerjaan bulan lalu, Melody Wilding, seorang pelatih eksekutif dan penulis, tau dia pasti akan denger banyak keluhan dari kliennya. Selama beberapa bulan terakhir, para pekerja profesional yang dia bimbing selalu bicara soal ketakutan kehilangan kerja, dan kekhawatiran mereka “naik drastis setiap kali perusahaan besar ngumumin PHK,” katanya. Di zaman yang penuh dengan PHK “selamanya” dan ketakutan karena AI makin bisa gantiin kerja manusia, klien-kliennya selalu terganggu dengan “perasaan bahwa lo gak akan pernah bisa terlalu nyaman. Bukan cuma struktur tim lo yang bisa berubah besok, tapi departemen atau produk yang lo kerjain juga bisa ilang begitu aja.”

Banyak eksekutif di New York yang dibimbing Wilding kerja di bidang teknologi, tapi rasa insecure di kerjaan udah jadi kenyataan umum: ketakutan yang dirasain kliennya juga dialami pekerja lain, tanpa peduli lokasi, jabatan, jenis tugas, atau bidang industri.

Laporan baru dari perusahaan HR software ADP, dari survei ke 39.000 pekerja di 36 Negara tahun lalu, nemuin bahwa kurang dari seperempat responden yakin kerjaan mereka aman dari pemecatan. Gak ada satu negara pun yang angka pekerja aman mencapai 38%, dan bahkan walaupun rasa aman agak naik dengan jabatan yang lebih senior, cuma 35% eksekutif C-suite yang merasa kerjaan mereka aman. Pekerja pengetahuan yang pakai keahlian “untuk menciptakan sesuatu yang baru” salah satu yang palig aman yaitu 30%. Pekerja pengetahuan di bidang keuangan dan asuransi malah palig percaya diri, yaitu 39%.

Seperti yang udah dialami siapa pun, rasa cemas kayak gini sangat susah dijalani. Kenyataanya, khawatir kehilangan kerja bisa berdampak buruk ke kesejahteraan kayak skenario terburuk dimana lo beneran kehilangan kerja. Para peneliti gambarin dua pengalaman ini sebagai “kembaran identik atau surprise gitu”

MEMBACA  Perusahaan Terbuka yang Membeli Bitcoin dalam Jumlah Besar

Perasaan gak nyaman simpel dianggap masalah pribadi, kayak yang lo bahas dengan konsultan karier atau terapis. Efek negatifnya bisa ngerusak kesehatan mental, fisik, dan hubungan. Dan rasa insecure karyawan ini juga jadi beban banget buat perusahaan mereka. Hal itu bikin hubungan rekan kerja kacau, menghabat improvisasi dan menurunkan hasil.”

Hans De Witte guru besar psicologi pakje an Ny

Om dan tes….

Tinggalkan komentar