Pernah kepikir bawa ibu atau bapakmu ke wawancara kerja? Menurut investor Shark Tank, Kevin O’Leary, itu ide yang buruk.
"Pertanyaan pertama saya ke anaknya: ‘Kamu mau saya mempekerjakan ibumu atau kamu? Dia ngapain di sini? Soalnya saya tidak akan membawanya ke dalam bisnis,’" kata O’Leary ke Fox Business dalam wawancara 28 Februari lalu.
Mungkin mengejutkan, tapi ini fenomena nyata. O’Leary bilang ini terjadi saat dia mewawancarai kandidat Gen Z. "Saya bilang: ‘Ini tidak akan berhasil. Ibumu tidak akan jadi bagian diskusi ini. Jadi kita harus hentikan wawancaranya, atau kamu tidak akan dipertimbangkan untuk posisi ini,’" kenang O’Leary.
Buktinya, studi 2025 oleh Resume Templates menunjukkan 77% pencari kerja Gen Z yang disurvei pernah membawa orang tua ke wawancara. Bahkan orang tua mereka menawar gaji dan mengerjakan tes kerja untuk mereka.
O’Leary bilang ini ‘sinyal mengerikan’ dalam tren perekrutan Gen Z. Ini tunjukkan anak muda tidak bisa berpikir atau ambil keputusan sendiri. "Jika bapak atau ibumu ikut, CV-nya langsung masuk tempat sampah," tambahnya.
Kenapa orang tua ikut campur wawancara kerja anak Gen Z?
Kombinasi rasa cemas ekonomi, pola asuh intensif, dan norma kemandirian yang berubah bikin beberapa pekerja Gen Z libatkan orang tua dalam proses kerja.
Karena posisi entry-level sangat langka dan kompetitif saat ini, wawancara kerja terasa sangat menentukan. Laporan lain tahun 2025 tunjukkan hampir 60% lulusan setahun terakhir masih cari pekerjaan penuh-waktu pertama.
Jadi bagi Gen Z, melibatkan orang tua dalam pencarian kerja terasa seperti antisipasi kesalahan. Tapi para pakar setuju dengan O’Leary, bahwa kehadiran orang tua tidak sebermanfaat yang dibayangkan Gen Z.
"Jika kamu sebagai orang tua ikut campur, kamu akan mengurangi kepercayaan diri anakmu saat wawancara, karena mereka pikir tidak bisa melakukannya sendiri," kata Brandi Britton dari Robert Half.
Bagi sebagian Gen Z, campur tangan orang tua bahkan lebih jauh. Mereka ‘menyetir karier’ anaknya, seperti mengedit CV, menjadwalkan panggilan kerja, ikut wawancara, hingga negosiasi tawaran kerja.
"Mulai dari aplikasi pertama hingga negosiasi tawaran, orang tua ada di kursi pengemudi bagi banyak pekerja Gen-Z," menurut survei dari platform Zety.
O’Leary juga menasihati pemimpin bisnis lainnya untuk menghentikan wawancara jika melihat orang tua di ruangan.
"Katakan saja: ‘Maaf. Itu tidak akan bekerja untuk kami,’" katanya. "Itu artinya kamu tidak bisa melakukan ini sendiri. Ini sinyal yang mengerikan—dan saya rasa orang tua yang terlalu ikut campur seperti ini pikir mereka akan memberi nilai tambah."
"Ini hanya merupakan kutukan bagi anak-anak mereka," tambahnya. "Ini ide yang sangat, sangat buruk."