Perusahaan minyak raksasa Amerika, Chevron, baru-baru ini menandatangani dua perjanjian minyak besar di Irak. Ini terjadi setelah perusahaan Rusia dipaksa keluar dari proyek energi penting di sana. Seorang sumber senior dari Kementerian Keuangan AS mengatakan kejadian ini adalah titik balik penting bagi kembalinya pengaruh Barat di Timur Tengah.
“Irak adalah jantung Timur Tengah, sekutu utama Iran, dan vital bagi kepentingan Rusia dan China. Sekarang mereka mengizinkan kekuatan besar AS masuk ke pusat ekonominya,” tegasnya. Lalu, apa artinya ini untuk sektor energi Irak dan masa depannya di peta geopolitik dunia?
Perjanjian pertama adalah yang paling penting. Chevron mengambil alih pengelolaan ladang minyak raksasa West Qurna 2. Ladang ini memiliki cadangan minyak sekitar 13 miliar barel. Pengambilalihan ini terjadi setelah perusahaan minyak Rusia, Lukoil, keluar beberapa minggu sebelumnya. Ladang ini sangat besar, menyumbang hampir 10% dari total produksi Irak yang sekitar 4 juta barel per hari.
Perjanjian kedua memberi Chevron hak untuk mengembangkan ladang minyak raksasa Nasiriyah, empat blok eksplorasi di Provinsi Dhi Qar, dan ladang Balad di Provinsi Salah Al-Din. Perusahaan Rusia dipaksa keluar setelah Kementerian Keuangan AS memberikan sanksi baru. Sanksi ini tidak hanya menargetkan perusahaan seperti Lukoil dan Rosneft, tetapi juga orang-orang kunci di perusahaan tersebut. Langkah ini lebih keras dari sanksi sebelumnya yang menarget perusahaan tingkat rendah seperti Gazpromneft.
Selain akibat ekonomi bagi Rusia dan China, inisiatif yang dipimpin AS di Irak ini menciptakan perubahan besar. Setelah kepergian Saddam Hussein tahun 2003, kehadiran militer Barat menjadi tidak populer di Irak. Rusia dan China kemudian meningkatkan pengaruhnya di Irak karena tiga alasan utama.
Pertama, Irak memiliki cadangan minyak sangat besar dengan biaya produksi termurah di dunia, yaitu $2-4 per barel. Kedua, lokasi Irak sangat strategis di jantung kawasan. Ketiga, Irak adalah anggota kunci dari ‘Sabuk Kekuatan Syiah’ yang membentang dari Iran sampai Lebanon. Semua keuntungan ini berkurang bagi Moskow dan Beijing seiring kembalinya pengaruh Barat di Irak.
Setelah penandatanganan perjanjian, seorang sumber dekat Kementerian Minyak Irak mengatakan pemerintah berharap Chevron dapat menggandakan produksi West Qurna 2 dalam waktu singkat. Hal ini sangat mungkin dilakukan Chevron karena Lukoil sebenarnya sudah lama bisa memproduksi minyak lebih banyak dari yang dilaporkan ke Irak.
Dulu, Lukoil tahu mereka mampu memproduksi setidaknya 635.000 barel per hari secara berkelanjutan. Namun, mereka tidak memberitahukan hal ini ke Kementerian Minyak Irak karena merasa bayaran per barelnya terlalu rendah, hanya $1,15. Mereka juga telah mengeluarkan $8 miliar untuk mengembangkan ladang itu, dan pemerintah Irak masih berhutang sekitar $6 miliar padanya.
Masalah memburuk ketika Kementerian Minyak Irak mengetahui Lukoil menyembunyikan kemampuan produksinya. Mereka mengancam akan menahan semua pembayaran sampai produksi dinaikkan. Alih-alih menuruti, manajemen Lukoil malah mencoba memaksa pemerintah menaikkan bayaran per barel. Tanggapan pemerintah mengejutkan: mereka berkata Lukoil boleh pergi, tetapi harus membayar kompensasi karena gagal memenuhi target produksi.
Keuntungan lain bagi Chevron adalah sinergi dengan perusahaan Barat lain yang kembali beroperasi di Irak. Salah satunya adalah Proyok Pasokan Air Laut Bersama (CSSP). Proyek ini mengambil air laut dari Teluk Persia dan mengirimkannya ke ladang minyak untuk meningkatkan tekanan di reservoir.
Proyek penting ini sekarang dilaksanakan oleh perusahaan energi Prancis, TotalEnergies. Tahap pertamanya akan memproses dan mengangkut 5 juta barel air laut per hari ke ladang minyak utama di selatan Irak. Air laut yang diolah ini akan menggantikan air tawar yang diambil dari sungai Tigris dan Efrat, sehingga menghemat air untuk pertanian.
Penyelesaian proyek ini saja akan memungkinkan Irak meningkatkan produksi minyaknya secara besar-besaran. Sebuah laporan rahasia tahun 2012 pernah menunjukkan bagaimana Irak bisa meningkatkan produksinya dari 3 juta barel per hari menjadi 13 juta barel per hari pada skenario produksi tinggi.
Ditulis oleh Simon Watkins untuk Oilprice.com.
**Bacaan Terpopuler Lainnya dari Oilprice.com**
**Oilprice Intelligence** memberikan informasi penting sebelum menjadi berita utama. Ini adalah analisis ahli yang sama yang dibaca oleh pedagang berpengalaman dan penasihat politik. Dapatkan secara gratis, dua kali seminggu, dan Anda akan selalu tahu penyebab pergerakan pasar sebelum orang lain.
Anda mendapatkan intelijen geopolitik, data inventori tersembunyi, dan informasi pasar yang menggerakkan miliaran — dan kami akan memberi Anda $389 dalam intelijen energi premium, gratis, hanya karena berlangganan. Bergabunglah dengan 400.000+ pembaca hari ini. Dapatkan akses segera dengan mengklik di sini.