Seberapa sering kamu dengar — atau bilang — kalimat, “Maaf, kita tidak mampu beli itu” ketika anak minta jajan?
Apakah itu permen di toko atau permintaan besar seperti liburan ke Disney, banyak orang tua pakai kata-kata itu untuk cepat hentikan pembicaraan tentang uang.
Rasanya tidak berbahaya. Bahkan praktis. Toh, anak-anak tidak perlu penjelasan detail anggaran keluarga setiap kali mereka minta sesuatu. Tapi psikolog keuangan sekarang bilang kalimat ini bisa bikin efek buruk yang tidak disadari orang tua.
Ini alasan orang tua disarankan hapus kalimat ini dari kosakata mereka, dan apa yang bisa kamu katakan sebagai gantinya untuk bantu anak paham literasi keuangan, serta besarkan anak yang merasa percaya diri dengan uang.
Anak-anak bentuk keyakinan inti tentang uang sebelum usia tujuh tahun, kata peneliti dari University of Cambridge. (1)
Terus-terusan bilang “kita tidak mampu” ke anak bisa buat uang terlihat langka, bikin stres, dan di luar kendali mereka — sikap yang bisa terbawa sampai mereka dewasa.
Lama-kelamaan, bahasa ini bisa sebabkan kecemasan finansial, rasa malu saat belanja, dan perilaku uang yang tidak sehat di kemudian hari.
“Daripada hentikan pembicaraan dengan kasar pakai ‘Kita tidak mampu,’ coba katakan, ‘Kita bisa beli itu, tapi kita memilih untuk pakai uang kita untuk hal lain, dan ini alasannya,’” kata Brad T. Klontz, seorang psikolog keuangan, dalam wawancara dengan CNBC. (2)
Karena anak-anak mulai bentuk keyakinan inti tentang uang jauh sebelum mereka paham gaji, tagihan, atau cicilan rumah, anak yang tumbuh dengan mengaitkan uang dengan larangan dan stres bisa berubah ke arah sebaliknya saat dewasa.
Ini bisa berakibat belanja berlebihan sekali mereka akhirnya punya akses ke kartu kredit, pinjaman, atau uang saku. Respons emosionalnya jadi, “Sekarang aku akhirnya bisa punya apa yang tidak bisa kudapat waktu kecil,” daripada buat keputusan keuangan yang dipikir matang dan berdasarkan nilai.
Pola pikir itu bisa picu apa yang disebut ahli sebagai kecemasan finansial: perasaan khawatir, bersalah, atau takut tentang uang yang terus-menerus, bahkan ketika seseorang secara finansial stabil. Kecemasan finansial bisa muncul sebagai penghindaran (tidak cek rekening bank), belanja impulsif, stres kronis, atau susah merencanakan masa depan. (3)
Cerita Berlanjut
Pentingnya, Klontz catat bahwa “kita tidak mampu” sering tidak sepenuhnya benar. Dalam banyak kasus, keluarga sebenarnya bisa beli dengan berutang, kerja lebih lama, atau kurangi tabungan, tapi mereka memilih untuk tidak.
Menjelaskan pilihan dengan cara itu bantu anak paham bahwa keputusan uang adalah tentang prioritas, bukan kegagalan pribadi. (2)
Baca Lagi: Jutawan muda pertimbangkan ulang saham di 2026 dan lebih percaya aset ini — ini alasannya orang Amerika yang lebih tua harus perhatikan
Ahli keuangan bilang orang tua tidak perlu ubah setiap pembelian jadi pelajaran, tapi percakapan kecil yang konsisten bisa bantu anak bangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
Ini beberapa cara praktis untuk hindari buat kecemasan finansial sambil ajari anak pelajaran yang bisa siapkan mereka untuk sukses finansial:
Uang seharusnya bukan topik tabu. Ahli rekomendasikan bicara terbuka dan santai tentang keputusan belanja sehari-hari.
Itu mungkin berarti sebutkan kira-kira berapa harga makan malam masak rumah, jelaskan kenapa kamu pilih satu barang di toko daripada yang lain, atau diskusikan total biaya liburan keluarga, bukan hanya bagian serunya.
Menurut Parents.com, jaga percakapan ini tetap ringan dan biasa bisa bantu kurangi ketakutan dan emosi negatif tentang uang. (4)
Uang saku bisa jadi alat ajar yang kuat ketika dipasangkan dengan bimbingan. Kasih anak jumlah uang kecil yang rutin biar mereka bisa latihan menabung, belanja, dan menunggu.
Kelly Lannan, wakil presiden senior untuk pelanggan baru di Fidelity Investments, bilang ke Parents.com bahwa bahkan anak usia tiga sampai enam tahun bisa paham tujuan dan progres ketika mereka bisa lihat itu terjadi — contohnya, dengan lihat uang terkumpul di celengan. (4)
Karena banyak pembelian terjadi secara digital, anak-anak sering tidak lihat uang berpindah tangan. Ahli rekomendasikan buat uang lebih nyata dengan jelaskan transaksi.
Menjelaskan pertukaran — seperti beli sesuatu yang diskon supaya uang bisa lebih panjang — bantu anak paham bahwa keputusan belanja melibatkan pemikiran dan niat, bukan dorongan hati.
Daripada bilang kamu tidak punya uang, ahli sarankan jelaskan kenapa keluarga memilih untuk tidak beli barang tertentu.
Orang tua bisa bagi bahwa mereka memprioritaskan bayar utang, nabung untuk rumah, investasi untuk pensiun, atau pilih lebih banyak waktu keluarga daripada kerja lembur.
Menurut Klontz, percakapan ini bantu anak kaitkan uang dengan nilai-nilai, bukan ketakutan, dan buat dasar untuk pengambilan keputusan keuangan yang percaya diri dan sehat nantinya. (2)
Bahasa yang orang tua pakai tentang uang bisa bentuk masa depan finansial anak dengan diam-diam. Meski bilang “kita tidak mampu” mungkin terlihat lebih mudah saat itu, beralih ke penjelasan berdasarkan nilai-nilai bisa bantu kamu besarkan anak yang percaya diri mengatur keuangan mereka sendiri.
Ini perubahan kecil yang bisa bagi hasil bagus selama bertahun-tahun kedepannya.
Kami hanya andalkan sumber yang diperiksa dan pelaporan pihak ketiga yang kredibel. Untuk detail, lihat etika dan panduan editorial kami.
University of Cambridge (1), CNBC (2); 1st United Credit Union (3); Parents (4).
Artikel ini hanya menyediakan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat. Disediakan tanpa jaminan apapun.