Kartu ‘Valentine Cuka’ Era Victoria Menunjukkan Aksi ‘Trolling’ Sudah Ada Jauh Sebelum Media Sosial

Ah, Hari Valentine: momen yang pas untuk bilang ke pacar betapa kamu mencintainya dengan kartu yang penuh perhatian.

Tapi bagaimana dengan orang di hidupmu yang tidak terlalu kamu suka? Kenapa tidak ada kartu Hallmark yang menyuruh mereka pergi?

Orang-orang di zaman Victoria punya solusinya: versi yang kejam dan mengejek dari kartu Valentine tradisional. Kartu-kartu ini, yang kemudian disebut “vinegar valentines” oleh kolektor seni abad ke-21, biasa disebut kartu valentine ejekan pada era Victoria.

Kartu-kartu ini dibuat untuk mengejutkan, menghina, dan menyakiti perasaan yang menerimanya. Tidak heran, seperti kartu Valentine asli, pengirimnya sering memilih untuk tetap anonim.

Vinegar valentines adalah yang kami sejarawan sebut barang ephemera, yaitu barang-barang yang biasanya tidak dimaksudkan untuk bertahan lama.

Sulit dibayangkan penerima kartu seperti itu ingin menyimpannya dengan baik, dan banyak yang sudah hilang. Tapi untungnya, beberapa masih bertahan dan disimpan di museum seperti Brighton and Hove Museums dan Perpustakaan Umum New York.

Satu kartu yang mengejek pelayan toko yang menyebalkan bunyinya:

“Saat kau melayani para wanita

Dengan wajah penuh jijik

Cara kau membentak dan menggonggong

Seolah kau pemilik toko ini”

Ada juga kartu untuk penyair sok-sokan yang pura-pura hidup dari seninya:

“Lihatlah penyair kecil pucat ini

Dengan jari di dahi menunjukkan pikirannya

Tapi cara dia dapat uang

Adalah dengan menulis iklan sabun

Tapi dia tak ingin ada yang tahu!”

Sifat anonimnya berarti siapa pun bisa jadi korban. Beberapa kartu hanya bercanda ringan, tapi yang lain bisa berakibat bahaya.

Pada 1885, seorang pria di Birmingham, Inggris, William Chance, dituduh mencoba membunuh istrinya setelah terima vinegar valentine darinya.

MEMBACA  Kabinet Israel memecat kepala badan intelijen Shin Bet

‘Sok, Sombong dan Percaya Diri’

Tapi siapa yang bisa sangat dibenci sampai dapat kartu seperti itu?

Orang miskin, tua, dan tidak menarik jadi sasaran mudah. Pria dan wanita lajang juga bisa dapat penolakan kejam.

Sebuah artikel koran tahun 1877 mencatat bahwa “orang yang sok, sombong, percaya diri, dan pamer biasanya jadi bahan lelucon valentine.”

Mengirim kartu begini adalah cara orang biasa untuk menegaskan norma sosial yang disamarkan sebagai lelucon. Itu juga cara merasa berkuasa atas orang yang sudah lemah.

Vinegar valentines muncul sebagai cabang yang asam dari popularitas Hari Valentine sendiri. Hari itu diubah jadi perayaan cinta oleh orang Victoria.

Kartu Valentine pertama di tahun 1800-an sering dibuat tangan. Saat industri berkembang, pada 1840-an kebanyakan kartu diproduksi di pabrik.

Industi Penghinaan

Pada pertengahan 1800-an, baik Inggris dan Amerika memasuki apa yang disebut sejarawan “Valentine’s mania“.

Vinegar valentines paling awal adalah lembar kertas dilipat seperti surat. Dan untuk menambah sakitnya, sebelum ada prangko prabayar, penerima harus bayar untuk dapat suratnya.

Banyak pencetak menawarkan kartu ini bersamaan dengan kartu yang positif. Bahkan perusahaan terkenal Raphael Tuck & Sons ikut tren ini.

Kartu ini sampai ke Amerika pada pertengahan 1800-an. Selama Perang Saudara Amerika, kartu ini jadi media untuk mengungkapkan kemarahan.

Jika kamu dukung Union (Utara), kamu bisa kirim pesan ini ke pendukung secessionist (Selatan):

“Kaulah orang yang tertawa saat berita

Datang lewat kabel dan bercerita bencana,

Perompak di laut berhasil-membakar kapal dan awak,

Pemberontak di darat merampok, makin banyak, makin cepat…”

Hak Pilih dan Valentine

Saat kartu ini terus diproduksi di awal 1900-an, sasaran baru jadi populer – kaum suffragette (pejuang hak pilih wanita).

MEMBACA  Angin Berhembus menunjukkan betapa bagusnya roguelikes bisa dengan teman

Wanita yang memperjuangkan hak pilih dilihat sebagai tidak feminin, dan kartu ini jadi media murah untuk menegaskan peran gender. Dalam kartu itu, suffragette biasanya digambarkan sebagai wanita tua jelek atau istri pemalas.

Satu kartu memperingatkan, “Suara dariku tak akan kau dapat, aku tak mau suffragette yang suka berkhotbah.”

Ada juga kartu Valentine yang mendukung suffragette. Satu kartu dengan berani bertanya, “Dan kau pikir kau bisa bungkam wanita secara politik? Itu tidak bisa dilakukan!”

Cupid Sebagai Troll

Vinegar valentines tetap populer hingga Zaman Keemasan kartu pos di awal 1900-an. Popularitasnya menurun setelah Perang Dunia I.

Semangat vinegar valentine hidup lagi di tahun 1950-an dengan munculnya kartu pos komik.

Dan efeknya masih bisa dilihat dan dirasakan hari ini. Troll internet anonim melanjutkan semangat menyerang yang umum di era Victoria. Vinegar valentines masa kini ada di internet. Sama jahatnya, bedanya tidak terbatas pada satu hari tertentu di bulan Februari.

Melissa Chim, Pustakawan Komunikasi Ilmiah, Excelsior University

Artikel ini diterbitkan ulang dari The Conversation di bawah lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya.

Tinggalkan komentar