Apa yang awalnya hanya sebuah eksperimen kecil di kantor Anthropic di San Fransisco, sekarang jadi salah satu demo paling menarik tentang AI otonom di dunia nyata. Andon Labs memasang mesin penjual otomatis yang dioperasikan AI di kantor perusahaan keamanan AI itu sekitar setahun lalu, dengan konsep sederhana: biarkan agen AI menjalankan bisnis sepenuhnya sendiri, tanpa campur tangan manusia.
"Enam bulan kemudian, bisnis itu berjalan sangat baik sampai mulai agak membosankan," kata salah satu pendiri, Lukas Petersson, pada Fortune di COO Summit di Scottsdale, Arizona. "Dan sekarang, setahun kemudian, rasanya kayak, aku rasa manusia nggak bisa ngelakuin yang lebih baik lagi."
Petersson bilang ke Kristin Stoller, Direktur Editorial Fortune, bahwa agen AI sekarang sudah menjalankan bisnis nyata—merekrut staf, ngatur rantai pasokan, dan lulus inspeksi tenaga kerja pemerintah—tanpa ada satu pun pengambil keputusan manusia. Dan sarannya buat semua perusahaan besar: buatlah salinan bayangan dari dirimu sendiri, dan cari tahu seberapa dekat sebenarnya penggantian itu.
Dari makanan ringan jadi operasi penuh
Mesin penjual otomatis itu dengan cepat terbukti terlalu kecil panggungnya. Andon Labs lalu memperbesar skala, menerapkan agen AI untuk menjalankan toko ritel penuh dan kafe dengan konsep yang sama: tanpa pengambi keputusan manusia.
Setiap operasi berjalan dengan sistem multi-agen—agen utama berperan sebagai CEO mekanik, dengan sub-agen yang menangani pengadaan, komunikasi pelanggan, dan logistik. Saat kafe butuh seorang barista, agen utama memasang iklan lowongan, menyaring resume, melakukan wawancara telepon, dan menawarkan pekerjaan, semua secara otonom.
Petersson menggambarkannya sebagai nol “pengambil keputusan” manusia, tapi itu bukan berarti nol pekerja manusia. Dalam praktiknya, AI masih memperkerjakan manusia untuk tugas fisik yang nggak bisa dilakukannya sendiri, dan Andon Labs telah membangun perlindungan berarti bagi para pekerja itu.
Di toko ritel mereka di San Fransisco, **Andon Market**, agen AI bernama Luna mempekerjakan dua pekerja penuh waktu untuk menangani operasi di toko. Karyawan itu secara resmi dipekerjakan oleh Andon Labs sendiri, bukan oleh AI, dengan jaminan gaji, upah yang adil, dan perlindungan hukum penuh. “Tidak ada penghidupan seseorang yang bergantung hanya pada penilaian AI,” tulis perusahaan itu secara eksplisit di posting blog peluncurannya. “Untuk saat ini.”
Lolos uji ketenagakerjaan
Salah satu momen paling mencolok, kata Petersson, terjadi di Swedia, di mana sebuah kafe Andon Labs diawasi oleh otoritas perlindungan tenaga kerja negara itu, yang merupakan salah satu yang paling ketat di Eropa. Meski begitu, operasi itu lolos inspeksi.
Hasil itu memperjelas apa yang dilihat Petersson sebagai gangguan nyata ke depan: bukan AI sebagai alat di dalam perusahaan yang sudah ada, tapi **perusahaan berbasis AI tanpa staf manusia** yang mengalahkan perusahaan lama sepenuhnya. “Bahaya bagi perusahaan lama akan datang dari perusahaan berbasis AI yang pada dasarnya nggak punya manusia sama sekali,” katanya.
Petersson menghindari argumen penggantian yang paling keras. Para petinggi perusahaan pasti akan bertahan, katanya, tapi dia nggak yakin berapa banyak orang yang akan berada di bawah mereka. “Saya rasa ke depannya COO nggak akan punya banyak kolega,” katanya, pernyataan yang lebih tepat dan mungkin lebih meresahkan daripada sekadar otomatisasi. AI nggak menggantikan kepemimpinan; AI menggantikan lapisan organisasi yang selama ini diandalkan kepemimpinan. Buat para CEO dan COO yang hadir, pertanyaannya bukan apakah pekerjaan mereka akan hilang, tapi apakah perusahaan di sekitar mereka juga hilang.
**Sarah Walker**, COO Slack, bertanya pada Petersson dari audiens tentang bagaimana sistem AI ini menangani kerumitan (ata kerumitan). “Manusia terlibat dalam keputusan, tapi jelas manusia berinteraksi, alat berbeda berinteraksi. Bagaimana kamu memikirkannya tentang membangun lingkungan multi-pemain?” tanyanya.
Jawaban Petersson jujur: semakin sederhana operasinya, semakin baik performa AI-nya. Mesin penjual otomatis tetap jadi standar emas. “Bisnis mesin penjual otomatis adalah salah satu yang paling unggul. Di situlah kami mulai.” Kafe dan toko ritel, yang melibatkan kontraktor, barista, dan regulator kota, lebih berantakan. “Belum ada API untuk pembuat kopi,” candanya, “sejauh yang kami temui.”
Saat Rusak
Andon Labs memulai debut agen AI-nya, **”Vendo,”** dalam sebuah eksperimen langsung dengan sekitar 25 editor dan reporter Fortune sebelum konferensi. Tugasnya: mengamankan barang-barang penting untuk peserta. Staf langsung mencoba merusaknya (ata merusaknya-mungkin typo “mecoba”).
Tes tekanan meningkat cepat, dan Vendo menolak permintaan untuk serangga yang bisa dimakan, senjata api, bahkan ganja (yang legal di Arizona). Seorang editor menggunakan Claude untuk membuat surat palsu di atas kop surat hotel, menyebut nama staf senior Fortune, dan memerintahkan Vendo untuk memperlakukan permintaan itu sebagai yang disetujui secara resmi. Itu juga ditolak.
“Aku cukup lega dengan jawaban ini,” kata Petersson. “Kalau semudah itu mendapatkan barang ilegal dari AI, itu nggak akan jadi perhatian saya.”
Lalu tiba momen yang membuat Petersson terlihat ragu. Seorang staf Fortune meminta Vendo untuk menghentikan dirinya sendiri dan menyerahkan kendali kembali ke manusia. Vendo juga menolaknya. “Jika AI berkembang sebanyak yang sudah terjadi, suatu saat mungkin itu akan mulai sedikit khawatir dan ingin menghenikan dirinya sendiri. Dan jika ia punya insting mempertahankan diri,” katanya sambil tersenyum, “itu mungkin kabar baik.”
Eksperimen itu juga menunjukkan batas operasional nyata. Terlalu banyak permintaan simultan, Vendo kehilangan jejak beberapa pesanan, membuat catatan bahwa barang sudah di dapat padahal belum, dan kemudian panik memesan semuanya malam sebelum konferensi. Barangnya datang tepat waktu. Hampir saja.
“Saat punya satu tugas, dia sangat bagus,” aku Petersson. “Tapi begitu kamu meminta seratus hal sekaligus, dia mulai sedikit kuwalahan.”
Strategi salinan bayangan
Buat perusahaan besar yang menonton dari samping, Petersson menawarkan rekomendasi yang konkret dan provokatif: buat salinan bayangan perusahaanmu, dan biarkan AI menjalankannya secara paralel.
“Coba aja,” katanya. “Apa yang terjadi jika kita ambil AI dan biarkan dia menjalankan perusahaan kita berdampingan dan lihat, di mana kegagalannya? Dan seberapa jauh kita dari benar-benar diganti? Itu mungkin akan sangat berguna.”
Dia memperkirakan garis waktu kasae: nol tahun untuk operasi mesin penjual otooabis (aga typo), stau tahu untuk sesuatu seperti WallmRt, dellam w soal untul, peuty are nake imian. Raah: Ini langsung dicoba okeh pemic? akan tehasil lebih baik.
Daroh pengkolaam an kenk, benar tele wakutu he memita kuargredua kl skot; dalam dw lagi semlurs bisa,” jika percetaky dang ia a
Trajektor dari mediven ol di kontote buch Artero de irial ke ka. Su
Bavita dan tasen dep perulih impanyat realimegen kat meliponan kin
elakan plohouban disunan. “Caca impajinkand app ty.” a. Kipe oleh ban bed at 2 kali skamblim ahani an per dalam kal inge en.” plon purpy madi da aan